Pengumpan:
Tulisan
Komentar

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kala itu jariku dan jemarimu bertaut dibawah bintang kemilau

Ketika hangatnya diriku meresap dalam dirimu

Dan dinginnya hatimu melunakkan jiwaku

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kala itu kau dekap diriku penuh sayang nan lembut

Ketika kesedihan hatiku mulai surut karenamu

Dan kehadiranku menenangkan gundahnya jiwamu

 

Bermimpikah diriku? Karena kadang aku terjaga

Kala itu kuputuskan mengucapkan rasa cinta dalam dada

Kau tepis dengan candaan dan tawa

Bahwa dirimu hanya kekanakan dan takkan pernah dewasa

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kala itu kau ajak aku berlarian mengejar rembulan di tengah mendung

Ketika kegembiraan mulai menyesap dalam kalbu

Dan kita berdua menikmati kehadiran insan penghapus sendu

 

Bermimpikah diriku? Karena kadang aku terjaga

Kala itu aku datang kepadamu atas panggilan spesial

Kau tepis kegembiraanku dengan sebuah rasa bersalah

Bahwa dirimu dan diriku telah melakukan sebuah dosa besar

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kabar berlayangan terbang melewati samudra dan teluk

Jarak tak menjauhkan sebaliknya menumbuhkan rindu

Dan engkau seakan lupa bahwa pernah menepis diriku

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kemarin kau menjemputku dengan sebuah pelukan rindu

Berbicara dengan tenang dan mendengarkan kisahku

Seolah suaraku adalah hal terindah dalam hidupmu

 

Bermimpikah diriku? Karena kadang aku terjaga

Tak ada memoar, Tak ada koneksi khusus

Semuanya terpencar acak tanpa benang jelujur

Seperti pintamu, semua hanya dalam hatimu

Notes from lecture series in ‘Science Week’ – 16thof November 2011 By Luke O’Neill, Professor from Trinity College Dublin, School of Biochemistry and Immunology. He is an immunologist and has specialisation in Infammation.

  • In 2012, Dublin will become European city of sciences. The current topic will be discussed is ageing.
  • From “What is Life” by Erwin Schröddinger: a gene is aperiodical crystal
  • 2011 Nobel prize in Medicine was given for the invention of Toll-Like Receptors (TLRs) to Jules A. Hoffmann (National Centre of Scientific Research, Strasbourg) and Bruce Beutler (University of Texas Southwestern Medical Center).
  • Inflammation is the heart of disease (quoted from David Baltimore, nobel laurate who discovered reverse transcriptase). The purpose of inflammation is to sense the abnormal condition and try to get rid of it so that it will come back to its stable condition. So, inflammation is a part of our homeostasis mechanism.
  • One of major inflammatory disease is Multiple Sclerosis (MS). Multiple sclerosis is an inflammatory disease in which the fatty myelin sheaths around the axons of the brain and spinal cord are damaged, leading to demyelination and scarring as well as a broad spectrum of signs and symptoms. (Wikipedia)
  • One of the drugs being used as a treatment for inflammatory disease is anti-TNF (tumour necrosis factor). One of anti-TNF that is produced in Ireland is called Enbrel under Pfizer license. TNF is one of the biochemical contribute to the cascading effect that will lead to inflammation. Therefore, halting the TNF action can lead to stop the domino effect that will lead to inflammation. Other biochemicals contribute in signal cascade of inflammation are Interleukin (IL) and other cytokines. TNF, IL, and other cytokine will give signals for inflammation to occur. Abnormal inflammation will lead to many inflammatory disease such as Rheumatoid Arthritis, Crohn’s Disease, and Lupus.
  • Mechnikov got 1908 Nobel Prize for discovering phagocyte. He discovered macrophage in starfish.
  • At first, vaccine was made from attenuated form of pathogen. Nowadays, vaccine can be made from :

-          Killed pathogen. The pathogen being treated by chemical or heat and leave the dead pathogen only. Several examples are: Polio vaccine, cholera vaccine, bubonic plaque vaccine.

-          Attenuated pathogen. Live viruses that have been cultivated in such condition that they lose their virulence properties.

-          Toxoid. Inactivated toxin compounds of pathogen. Some pathogens cause the disease not because of their selves but due to their toxin, e.g. tetanus and diphtheria.

-          Subunit. Introduce subunit of proteins to increase the safety of the vaccine. But the immune response produced is lesser than the one with whole pathogen. The immune response will only recognize few epitopes.

-          Experimental. There are a lot of other type of experimental vaccines being developed to increase the safety and also the effectiveness of the vaccines.

  • TLRs recognized Pathogen-associated Molecular Patterns (PAMPs). These molecules are ‘additional’ recognizing site that help the epitope binding and boost our immune system.
  • In vaccine, we add some molecule to boost up our immune system which we called as adjuvant. Adjuvants work by stimulating TLRs. The adjuvant usually contains microbial products besides the specific antigen.
  • TLR negative mutant flies we called them as mouldly flies. Due to growth of moulds on the surface of the flies. The moulds grow due to ineffective immune system of the flies.
  • While TLR4 negative mutant which is created by Bruce Beutler express LPS non-resistant mice.
  • Our immune system works by sensing imbalance in our body. It include foreign antigen and also damaged ‘self’ cells.
  • TLR genes are very conservative. Plant also has TLRs which far more diverse than human TLRs (more than hundred).
  • Blocking TLR2 activity prevents cytokine production in Rheumatoid Arthritis (RA) synovial tissue.
  • The signal cascade :

TLRs > MyD88 > IL-1 > NFκB > Inflammatory protein > Inflammation > Arthritis

  • IL-1 is overproduced in inflammation.
  • Another signal pathway :

TLRs > NLRP3 > IL-1 > NFκB and JNK > Insulin ressitance > β cell death > Type 2 Diabetes

  • Muckle-Wells syndrome à flu-like symptoms, cause deafness, due to NLRP3 mutation.
  • Now, the traditional medicines become a trend in finding active molecule that will affect the body metabolism. Feverfew (flower) has an active ingredient called parthenolide. Being use in inflammatory treatment. It also induces apoptosis.
  • Another inflammatory disease is gout which is caused by uric acid deposition.
  • In Diabetes Mellitus Type 2 (DM2), one of the histology marks is the deposition of IAPP fibrils in pancreas (red in histology preparate).  IAPP driving IL-1 to increase in concentration. It is proved by creating mouse model which increased in IAPP gene expression. The mouse then gets DM2.
  • Sequence events in pathogenesis of DM2:

-          Low grade inflammation (due to excess fat & sugar), insulin resistance and hyperglycaemia.

-          Β cells makes more insulin and IAPP

-          IAPP form oligomers

-          Macrophages infiltrate to pancreas, high expression of NLRP3.

-          Macrophages start to destroy β cells.

  • NLRP3 activated by many stimulator molecules besides IAPP such as cholesterol crystal in atherosclerosis and β amyloid in Alzheimer.
  • Future Prospects

-          Treatment of inflammatory disease, new vaccines being produced (TB, Malaria), and cure of cancer.

-          Many new drugs in development.

-          Understanding the underlying cause of many diseases. Whether it comes from environmental influences (infection,diet) or due to specific genetic background  (defective protein: CCR5-CCX4 in AIDS).

  • Statin is also an immunosuppressant. Therefore, exercise will induce muscle to produce IL-6. IL-6 will help pancreas to function properly. Exercise may also lower the obesity probability and lower excess fat deposition in body.
  • Pregnancy will lower the autoimmune disease. After giving birth, usually the autoimmune disease that the mother possesses will be worsened. The decrease in immune response is due to high estrogen concentration in the mother’s body. Estrogen can act as anti-inflammatory molecule.

Adab Terhadap Guru

Mungkin ini terlambat (seharusnya 25 November), tapi selamat hari guru untuk para pahlawan tanpa tanda jasa yang benar-benar saya hormati dan sayangi. Tanpa anda semua, saya tidak mungkin ada di Irlandia seperti sekarang dengan hausnya pikiran akan ilmu pengetahuan. Sekadar sharing tulisan yang saya tulis tahun lalu di notes Facebook sekaligus mengabadikannya di wordpress. Selamat menikmati.

***

Pahlawan tanpa tanda jasa adalah julukan kehormatan bagi guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmunya tanpa balasan yang bisa dibilang setimpal dari kita para muridnya. Adalah kita sebagai seorang murid terkadang tidak menghargai, menganggap remeh atau bahkan menghina para guru kita. Sungguh, menjadi seorang guru bukanlah suatu keputusan mudah jika menyandingkannya dengan gaji yang didapat atau balasan yang didapat dari muridnya. Keikhlasan dan niat untuk mengabdi yang begitu besarnya adalah semangat utama yang mendorong para guru untuk terus bergerak di jalannya. Keinginan untuk mencerdaskan masyarakat, menyebarkan pengetahuan dan memajukan bangsa adalah benar-benar sebuah semangat yang patut dicontoh dari para guru.

Dari buku “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi telah memberikan gambaran bahwa ikhlas adalah semangat pendorong utama dari para guru di Gontor untuk terus mengajar. Bahwa mereka mengajar anak muridnya TANPA DIBAYAR dengan semangat hanya untuk mengabdi dan menyebarkan ilmunyalillahi ta’ala. Subhanallah. Contoh nyata keikhlasan ini juga telah saya dapat dari cerita-cerita tentang guru-guru saya semasa sekolah dahulu. Ada seorang guru yang rela membeli tape, laptop dan LCD Projektor demi mengembangkan Quantum Learning untuk muridnya meskipun menghabiskan gaji 2 tahun bekerja. Ada yang rela kembali ke sekolah yang berjarak lebih dari satu jam di malam hari hanya karena ditelpon ada muridnya yang kesulitan belajar ketika baru saja sampai di rumah setelah over-time bekerja.

Sungguh saya tidak berani menulis ini jika saya tidak pernah mengajar. Semangat guru-guru ini saya rasakan ketika saya mulai mengajar adik-adik kelas saya dan juga menjadi guru les di negeri orang. Bahwa ada sebuah semangat yang bukan hanya sekadar gaji (meskipun semangat ini mungkin yang dirasa lebih kuat untuk teman-teman saya yang kekurangan uang di negeri orang ini) ketika mengajar. Semangat agar anak didik saya bisa menjadi lebih baik daripada sebelum saya mengajar dan semangat untuk melihat senyum kepahaman di mata mereka. Tiada yang lebih diharapkan oleh seorang guru daripada anak-anaknya mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang kelak akan membuat anak-anaknya sukses di kemudian hari. Tiada pernah seorang guru berpikir untuk minta bagian ketika anak didiknya menjadi seorang saudagar kaya raya di kemudian hari. Tiada seorang guru berpikir meminta pangkat tinggi ketika anak didiknya menjadi presiden. Sungguh, suatu kebanggaan bagi seorang guru untuk melihat anak didiknya jauh lebih pintar dan jauh lebih sukses dari dirinya.

Dilihat dari sisi seorang murid, ketika saya masih TK sampai MI (Madrasah Ibtidaiyah setara SD), saya menganggap guru adalah fasilitator. Guru mengajari saya ini dan itu meskipun mereka tidak mengetahui segalanya. Hubungan saya dan guru jauh lebih seperti teman. Ya, teman terbaik saya ketika berada di dua jenjang ini adalah guru. Bersama dengan para guru, saya bisa berbagi ilmu pengetahuan yang saya dapat dari buku, mengkonfirmasinya kepada para guru yang memiliki pengalaman lebih dan mendapatkan pengetahuan lebih dari mereka. Di mata mereka pun, saya menjadi seorang pemberi semangat. Salah seorang guru berkata pada saya, “Sungguh sebuah semangat baru untuk mengajar selalu ada ketika Bapak bertanya mengenai buku yang sedang Roswitha baca dan mendengarkan cerita tentang buku itu dari mulut kecil ananda.” Di waktu ini, saya berpikir guru adalah seorang yang patut dihargai dan dianggap sebagai orang pintar. Kita wajib patuh padanya selayaknya patuh pada kedua orang tua. Bahwa banyak ilmu yang ia rela ajarkan kepada saya dan betapa banyaknya waktu dan kesabaran yang terkuras demi mengajari saya yang sangat keras kepala dan tak mau kalah.

Dari MI inilah saya banyak belajar tentang adab kepada guru dari guru Aqidah Akhlak (Keimanan dan Perilaku Baik). Karena ‘pertemanan’ yang dekat dengan guru, ilmu yang saya dapat ini bukanlah diambil dari mata pelajaran formal di kelas. Ilmu ini saya dapat ketika momen berbagi ilmu pengetahuan di luar kelas. Guru saya yang lulusan sekolah Islam, entah itu pesantren atau madrasah mulai bercerita tentang ilmu yang manfaat dan tidak manfaat. Jikalau ilmunya ingin manfaat (berguna), maka kunci utamanya adalah adab yang baik terhadap guru. Saya pernah mendengar cerita tentang seorang pintar yang akhirnya hidup mengenaskan karena tiada hormat pada gurunya. Setelah orang pintar ini berkunjung kepada gurunya dan mengabdi untuk gurunya hingga sang guru memaafkan, sang orang pintar ini menemukan kemudahan dalam jalan hidupnya. Di titik itu, saya benar-benar mengamalkan sebuah ajaran mengenai etika kepada guru. Teringat salah satu hal yang dulu saya amalkan adalah “tidak boleh duduk di kursi guru kecuali beliau mengizinkannya“. Saya benar-benar mengamalkan semua adab-adab kepada guru yang saya dengar dengan keyakinan keridho-an guru akan membuahkan ilmu yang manfaat.

Di jenjang pendidikan setelahnya hingga akan kuliah, saya makin yakin bahwa guru adalah seorang yang patut dihormati dan patut diberi penghargaan yang setinggi-tingginya. Cerita nyata guru-guru saya mulai saya ketahui ketika MTs dan MA. Bahwa perjuangan guru itu begitu besar untuk membawa anaknya jadi orang besar pula. Bahwa keikhlasan dan keinginan untuk mengabdi mereka begitu besar walau dengan gaji yang tak seberapa. Beberapa guru saya bahkan mungkin tidak mengejar uang sama sekali. Beberapa di antara mereka punya suami atau istri kaya yang mampu menanggung biaya keluarga dan benar-benar mengabdikan dirinya untuk mengajar. Subhanallah. Sampai suatu waktu di MTs ada seorang guru baru mengajar. Kami semua mengolok-olok guru tersebut dan menjadikannya bahan candaan. Ini berulang kali terjadi pada guru baru. Saya merasa miris mendengar teman-teman begitu senangnya menjadikan itu bahan candaan mengingat besarnya jasa yang mereka berikan. Sungguh miris. Keyakinan saya akan kekuatan adab terhadap guru menjadi makin kuat ketika saya, yang tidak ikut mengolok-olok guru, mendapat nilai yang jauh di atas teman-teman yang nilainya buruk karena mengolok-olok guru. Saya berharap tidak hanya nilai saja yang bagus, tapi kelak ilmu ini bisa bermanfaat bagi orang kebanyakan. Amin.

Sebagai sarana pengingat akan adab terhadap guru yang sudah mulai luntur di waktu kuliah dan berbagi ilmu pengetahuan juga, berikut saya cantumkan konsep tatakrama terhadap guru yang diambil dari kitab “Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim“ karya Hadratu Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari.

Konsep Tatakrama Penuntut Ilmu Dengan Guru[i]

Ø  Sebelum penuntut ilmu menetapkan guru hendaklah ia berpikir dulu serta beristikharah kepada Allah untuk memilih orang yang akan memberi bimbingan (guru) dalam memperoleh ilmu kemudian memperlakukan guru dengan akhlaq yang baik dan sopan santun. Hendaklah ia memilih orang-orang yang profesional, ahli dalam bidang keilmuannya, memiliki rasa kasih sayang, tampak kewibawaannya dan tampak jelas perilakunya. Sebagaimana ulama salaf berkata, “Ilmu itu adalah agama maka lihatlah (angan-anganlah) dari siapa engkau memperoleh (mengambil) agamamu”.

Ø  Penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh memilih guru yang mengerti benar tentang syari’at, dan bisa dipercaya kemahiran ilmunya (hukum syari’atnya). Jangan berasal dari orang yang memperoleh ilmu hanya sebatas kulitnya. Imam As-Syafi’i berkata, “Barang siapa belajar dari pinggir-pinggirnya kitab maka ia menyia-nyiakan hukum”.

Ø  Penuntut ilmu hendaknya patuh dan taat kepada gurunya. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada Allah dalam berkhidmat kepada guru.

Ø  Penuntut ilmu hendaknya memandang guru dengan penuh kehormatan dan keagungan terhadapnya. Dan meyakini akan besarnya derajat kesempurnaan seorang guru. Sebab keterangan tersebut akan lebih dekat terhadap manfaat ilmu yang diperolehnya. Abu Yusuf berkata, “Barang siapa yang tidak meyakini keagungan gurunya maka ia tidak akan sukses”.

Ø  Hendaklah penuntut ilmu mengerti hak-hak guru dan jangan lupa mengutamakannya. Sebaiknya penuntut ilmu mengenang guru pada waktu hidup atau sesudah mati, penuntut ilmu juga seyogyanya menjaga keluarga guru serta kerabat dan orang yang dikasihi guru. Penuntut ilmu hendaknya sering berziarah ke makam gurunya apabila ia sudah meninggal dan memohonkan ampun untuknya serta bersedekah baginya.

Ø  Penuntut ilmu hendaknya harus bersabar dalam menghadapi guru yang berwatak keras dan kurang baik dan janganlah menolaknya dengan kasar sebab sifat kerasnya seorang guru semata-mata karena sayangnya guru kepada muridnya dalam membimbing dan memberi petunjuk kepada penuntut ilmu.

Ø  Penuntut ilmu hendaknya jangan masuk ke tempat atau kediaman guru kecuali atas izinnya dan janganlah lewat dihadapannya baik ketika ia sendiri atau bersama orang lain tanpa izin darinya. Ketika penuntut ilmu hendak berkunjung ke kediamannya maka ucapkanlah salam tidak lebih dari tiga kali dan apabila mengetuk pintu maka ketuklah dengan pelan-pelan, ketika ia memasuki rumahnya, hendaknya ia bersikap yang baik dan berbusana yang baik——menurut Islam—, bersih dan rapi terlebih ketika hendak menuntut ilmu. Penuntut ilmu juga harus menjaga untuk tidak memulai berbicara sebelum diperintahkan, dan janganlah duduk atau pergi kecuali atas izin guru. Apabila guru itu sedang istirahat maka sabarlah menunggu sampai terbangun.

Ø  Ketika penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya hendaklah ia memilih adab tatakrama, dan hendaklah ia seperti saat tasyahud pada waktu shalat atau duduk bersila dengan penuh tawadhu’, tenang dan khusyu’, penuntut ilmu jangan menoleh sekalipun mendengar sesuatu kecuali bila ada keperluan lebih-lebih ketika membahas tentang ilmu. Penuntut ilmu harus memuliakan dan menghormati kerabat, teman dari guru. Karena pada hakikatnya menghormati mereka berarti menghormati guru. Termasuk menghormati guru adalah jangan duduk di tempat guru, di mushallanya, di tempat tidurnya dan jangan pergi dari sisinya kecuali ada izin darinya.

Ø  Hendaknya penuntut ilmu selalu berbicara yang sopan dan baik. Dan hendaknya penuntut ilmu berhadapan dengan guru dengan wajah berseri-seri.

Ø  Apabila mendengar keterangan guru tentang masalah-masalah hukum atau berita-berita maka dengarkan dengan penuh perhatian sekalipun ia sudah mendengar sebelumnya. Imam Atho’ r.a. berkata, “Sesungguhnya aku tetap akan mendengarkan hadis dari orang lain sekalipun aku lebih tahu (alim) dari orang tersebut”.

Ø  Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

Ø  Apabila guru memberi sesuatu, maka terimalah dengan tangan kanan, bila guru meminta buku untuk dibaca maka berikan buku itu dalam keadaan siap dibaca. Sehingga guru tidak kesulitan untuk membacanya. Dan jangan menyimpan sesuatu yang ada di dalam buku. Apabila penuntut ilmu berjalan bersama guru maka hendaklah ia berada di depan guru pada malam hari dan di belakang guru pada siang hari, kecuali bila ada keperluan lain. Apabila hendak berteduh dan berbincang-bincang dengan guru maka hendaknya penuntut ilmu berada di sebelah kanan guru. Apabila bertemu dengan guru di jalan maka ucapkanlah salam tetapi bila jaraknya jauh jangan memanggil, jangan mengucapkan salam dan jangan memberi isyarat, akan tetapi dengan menundukan kepala.

[i] Didapat dari http://www.nurulfalahpm.viviti.com/entries/general/adab-menuntut-ilmu-#_ftn1 karya Dede Alimuddin

Mungkin anda agak sedikit bingung tentang apa kaitan dari kedua tempat di atas, Pulau Komodo dan Kepulauan Galápagos. Bagi anda yang belajar tentang ekologi, anda mungkin akan sangat ingat dengan Darwinian finches dan evolusi radiatifnya yang merupakan hasil observasi di Kepulauan Galápagos yang sekarang menjadi bagian dari Equador, Amerika Selatan. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi di Pulau Komodo dengan berbasis kepada studi kasus di Kepulauan Galápagos. Saat ini saya sedang belajar mengenai konservasi dan biodiversitas dari seorang ahli biologi konservasi yang berkecimpung puluhan tahun di Galápagos. Sekadar share ilmu yang saya dapat dari beliau dan sedikit opini tentang Pulau Komodo karena jujur saja saya sendiri belum pernah datang ke sana dan melihat sendiri kondisi lapangan di Pulau Komodo.

Kepulauan Galápagos terletak di tengah Samudra Atlantik dan berjarak 972 km dari dataran utama Equador. Awalnya tidak ada orang yang tau mengenai betapa kayanya biodiversitas di Kepulauan tersebut sampai Charles Darwin menerbitkan bukunya The Origin of Species yang membahas dalam tentang perjalanannya keliling dunia termasuk di dalamnya kekayaan alam di Kepulauan Galápagos. Kepulauan Galápagos memiliki letak yang sangat strategis untuk berkembangnya berbagai macam biodiversitas dikarenakan erupsi vulcanik yang terus menerus di daratannya dan juga bertemunya tiga arus laut yang berbeda di perairannya.

Kekayaan alam yang sangat tinggi dan jinaknya spesies yang ada di sana membuat Kepulauan Galápagos sangat menarik untuk ‘dieksploitasi’. Pada awalnya penduduk lokal mulai mengeksploitasi dan menjual berbagai satwa yang dianggap menguntungkan ke Amerika Selatan dan sekitarnya. Karena eksploitasi ini akan membawa dampak buruk bagi ekosistem endemik di sana, maka akhirnya ketimbang menjual apa yang ada di sana, strategi diganti menjadi ecotourism di mana berita disebar mengenai kekayaan alam Kepulauan Galápagos dan mengundang turis untuk datang berkunjung. Idenya adalah Take nothing with you but photograph and leave nothing behind you but footprints, tidak mengambil apapun kecuali foto dan tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki. Ide ini sangat menarik dikarenakan setelah adanya turis yang berdatangan akhirnya eksploitasi di Kepulauan Galápagos pun menurun dan penduduk lokal mengubah kapal-kapalnya menjadi kapal-kapal turis untuk mengantarkan turis dari dataran utama ke Galápagos. Para pemandu wisatanya kebanyakan adalah para ahli konservasi dan ekologi yang mengerti tentang kekayaan alam di Kepualuan Galápagos. Selain menjadi sarana wisata, Galápagos pun menjadi sarana edukasi bagi para turis.

Cerita tidak berhenti sampai di situ. Awalnya, wisata ke Galápagos disediakan oleh kapal pesiar yang dapat menampung puluhan orang dan menfasilitasi makanan serta pembuangan sendiri. Semua persediaan makanan dibawa dari dataran utama ke kapal, sampah tetap berada di kapal dan nanti akan dibawa pulang ke daratan utama. Mengingat adanya turis dengan dana minim akhirnya penduduk lokal pun mengubah kapal-kapal penangkap ikan mereka menjadi kapal-kapal turis untuk mendapatkan uang lebih banyak. Karena Equador adalah negara berkembang maka banyak dari penduduk di daratan utama akhirnya melakukan emigrasi ke Galápagos. Mereka mulai membangun rumah dan penginapan di sana yang akhirnya membawa masalah akan datangnya spesies baru dari dataran utama dan juga masalah pembuangan air kotor dan sampah. Hal-hal tersebut sangat membahayakan bagi kekayaan alam di Galápagos. Apalagi seperti yang saya sebutkan bahwa spesies di sana sangat jinak, banyak dari hewan-hewan tersebut tidak mengenal bahaya akan mobil yang berseliweran atau bahaya dari anjing yang dimiliki oleh penduduk lokal.

Yang lebih detrimental lagi adalah ketika eksploitasi akhirnya dimulai lagi. Karena adanya penginapan dan restaurant di Galápagos mereka akhirnya mulai memasak makanan lokal yang bahannya tidak lain tidak bukan adalah satwa sekitar. Banyak kapal-kapal ilegal pun berdatangan untuk mengambil kekayaan alam yang ada. Eksploitasi lobster, teripang, testis singa laut, sampai eksploitasi sirip hiu banyak ditemukan dan kebanyakan datangnya bukan dari penduduk lokal melainkan dari benua lain. Pada tahun 2007 UNESCO mengkategorikan Galápagos sebagai salah satu dalam List of World Heritage in Danger dan mulai membenahi kerusakan-kerusakan yang terjadi di Galápagos. Progres yang terjadi berjalan cukup baik dan pada tanggal 29 July 2010 Galápagos tidak lagi menyandang gelar List of World Heritage in Danger.

Mengenai pro dan kontra akan Pulau Komodo menjadi 7 Wonders of Nature, pandangan saya adalah :

  • Sama halnya seperti Equador, Indonesia butuh peningkatan taraf hidup dan ekonomi masyarakatnya. Terkenalnya Pulau Komodo akan membawa devisa pada negara dan kemungkinan turis asing untuk melirik Indonesia sebagai tujuan pariwisata terutama ecotourism menjadi besar.  Sepengetahuan saya, sedikit sekali pengetahuan masyarakat asing tentang Indonesia dan kekayaan alamnya. Ketimbang dieksploitasi kayu atau kekayaan tambangnya, saya rasa menyebarkan keberagaman biodiversitas dan mengembangkan ecotourism akan jauh lebih baik. Banyak kesadaran dari luar (terutama UNESCO) yang nantinya akan membantu pemerintah kita dalam managementnya jika dirasa kekayaan alam di Pulau Komodo sangat penting. Anda tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Galápagos juga seandainya tidak pernah ada inisiasi ecotourism di sana. Mungkin efek yang terjadi akan lebih detrimental.
  • Berbeda dengan Kepulauan Galápagos yang memiliki luas area sangat besar, 7.880 km2 daratan yang terdiri dari 18 pulau utama dan tersebar di perairan seluas 45.000 km2. Pulau Komodo memiliki luas 1917 km2 dan diapit oleh banyak pulau di sekelilingnya sehingga managementnya lebih mudah. Penginapan turis dan restaurant bisa dibangun di pulau-pulau sekeliling  yang jaraknya dekat. Jarak antara Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya cukup memungkinkan untuk diadakannya Day Tour, perjalanan pulang-pergi dalam sehari. Dibandingkan dengan Galápagos yang perjalanan kapal butuh waktu 8 jam, Pulau Komodo memiliki keuntungan dengan adanya pulau-pulau di sekitarnya dan kerusakan akan adanya hunian manusia di sana dapat diminimalisir.
  • Perbedaan spesies yang dilindungi juga membawa efek besar. Spesies yang dilindungi di Galápagos kebanyakan adalah spesies tidak berbahaya dan jinak. Komodo adalah karnivora yang memakan binatang lain. Gigitan Komodo dapat membawa kematian dikarenakan bakteri yang hidup dalam air liurnya. Selain itu, komodo kurang bernilai ekonomi melainkan dari pembuatan taxidermy atau awetan komodo untuk dipajang. Ini satu hal yang perlu diawasi juga oleh management Pulau Komodo nantinya. Pengecekan rutin dan berkala perlu diadakan untuk mencegah adanya penyelundupan Komodo ke luar pulau. Kerjasama dari management dan kesadaran dari masyarakat sekitar benar-benar sangat diperlukan akan hal ini. Edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai pentingnya keberadaan komodo di pulau tersebut perlu ditekankan. Karena pada dasarnya ketika dihitung-hitung, pemasukan dari ecotourism sendiri akan jauh lebih besar ketimbang menjual komodo satuan kepada pihak luar.

Kesimpulannya adalah mari dukung ecotourism Indonesia, tingkatkan kesadaran masyarakat akan kekayaan biodiversitas yang kita miliki dan mari Vote untuk Pulau Komodo menjadi 7Wonders of Nature. Untuk Pulau Komodo dan masyarakat sekitar pada khususnya dan untuk pariwisata Indonesia pada umumnya. :D

Sendiri

Sendiri

Ini hari keduaku berada di sini. Sepi sendiri sunyi. Hanya gemerincing koin yang kumainkan di sebelah kakiku saja menemani bagaikan musik di hening malam.

Ah, hujan lagi. Gemericik air menambah alunan nada. Cipratan air menerpa muka menyegarkan. Hujan menyapu seluruh debu di badan. Mendinginkan panasnya hati penuh lara nan nelangsa. Kupejamkan mata menikmati suasana. Hembusan angin bagaikan mengajak berdansa di tengah dingin yang menenangkan jiwa.

Kutatap tingginya bangunan bata di depan mata. Jingga lagi kuat dan kokoh. Di pojok jalan terdapat sebuah kafe yang ramai pengunjungnya. Maksud hati kadang ingin datang ke sana untuk meminta segelas asa. Namun sayang sudut ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

Tepekur aku di pinggir jalan sempit lagi penuh sejarah ini. Sejarah yang mungkin lama-lama juga akan hilang ditelan maraknya modernitas. Sama seperti diriku yang tersapu buih gemerisiknya penduduk kota. Hanya ada di sini duduk dan meratapi diri.

Aku bukan pengemis, bukan. Berbalut baju gombal dan tak beralas kaki. Tak berumah atau bahkan berkendaraan. Mungkin sanggup berjalan tapi keengganan memaku langkah. Duduk terdiam di sudut jalanan tanpa makan. Hanya diam menatapi tembok bata di kedua sisi jalanan. Menemani derikan papan motel tua yang ditiup angin, aku duduk sambil mendendangkan lagu lama penuh arti.

Perutku perih bagaikan diiris belati. Dua hari tak makan membuat perutku menjerit kesana kemari. Apa daya mulut tak mampu lagi mengunyah, mulut tak lagi mampu menyambut datangnya zat asing, dan mulut tak mampu lagi bertanya belas kasihan orang. Di sini aku duduk melawan naluriku sendiri. Naluri untuk hidup secara lahiriyah ataupun batiniyah.

Hujan membuat bajuku kini kian memberat. Ah basah seluruh badan. Tetesan air perlahan-lahan mengalir dari ujung benang bajuku. Menyegarkan, membasahi mataku yang sudah kering karena lelahnya menangis tanpa henti. Ini saat terindah dalam hidupku. Rasa syukur membanjiri dada selagi dinginnya udara mendinginkan paru-paru. Wahai waktu, dapatkah engkau berhenti saat ini saja? Biarkan aku merasakan ini lebih lama. Jauh-jauh lebih lama lagi.

Kututup mataku sambil tengadah ke langit. Percikan air serasa memijat wajahku. Buliran air di rambutku bagai membelai lembut menenangkan akan semua kerisauanku. Dinginnya angin bagai menyelimuti lembut seluruh tubuhku memberikan sensasi hangat memuai dari dalam tubuhku. Genangan air di bawah kakiku membuatku terasa ringan bagai terbang di angkasa.

Aku mencoba berdiri menjemput awan. Menengadahkan tangan di atas kepala. Seakan memohon datangnya emas dari langit. Bukan, bukankah ini semua hanya mimpi adinda? Ini semua hanya mimpi! Tersadar kakiku tak cukup kuat menopang, aku terjatuh dengan bahu terlebih dahulu. Lagi aku menangis, sadar bahwa aku sebenarnya berharap ada seseorang datang menopangku pulang. Sadar bahwa sebenarnya aku ingin orang lain ada di sampingku untuk sekadar membelai rambutku yang basah. Sekadar menghapus air mataku yang terus menerus keluar.

Dingin, aku sadar dingin ini telah menjadi dingin yang menusuk tulang. Membuat seluruh paru-paruku basah. Bulu kudukku berdiri, bahuku menggigil. Aku mulai susah bernapas dengan dinginnya udara yang mulai membekukan otot dadaku. Udara yang bagitu basah dan dingin juga rasanya enggan memasuki rongga pernapasanku. Aku tahu aku bukanlah orang yang berguna. Mungkin hanya sampah masyarakat yang juga sudah dilupakan orang bersamaan dengan jalan penuh sejarah ini. Ya, mungkin aku ini memang pengemis. Hanya saja harga diriku terlalu tinggi untuk mengatakannya.

Sekali lagi kupandang tumpukan koin yang ada di sampingku. Sekali lagi sampai akhirnya koin itu mulai berpendar menjadi butiran tembaga yang bertebaran di sekitar sudut pandang.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.