Ini hari keduaku berada di sini. Sepi sendiri sunyi. Hanya gemerincing koin yang kumainkan di sebelah kakiku saja menemani bagaikan musik di hening malam.
Ah, hujan lagi. Gemericik air menambah alunan nada. Cipratan air menerpa muka menyegarkan. Hujan menyapu seluruh debu di badan. Mendinginkan panasnya hati penuh lara nan nelangsa. Kupejamkan mata menikmati suasana. Hembusan angin bagaikan mengajak berdansa di tengah dingin yang menenangkan jiwa.
Kutatap tingginya bangunan bata di depan mata. Jingga lagi kuat dan kokoh. Di pojok jalan terdapat sebuah kafe yang ramai pengunjungnya. Maksud hati kadang ingin datang ke sana untuk meminta segelas asa. Namun sayang sudut ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan.
Tepekur aku di pinggir jalan sempit lagi penuh sejarah ini. Sejarah yang mungkin lama-lama juga akan hilang ditelan maraknya modernitas. Sama seperti diriku yang tersapu buih gemerisiknya penduduk kota. Hanya ada di sini duduk dan meratapi diri.
Aku bukan pengemis, bukan. Berbalut baju gombal dan tak beralas kaki. Tak berumah atau bahkan berkendaraan. Mungkin sanggup berjalan tapi keengganan memaku langkah. Duduk terdiam di sudut jalanan tanpa makan. Hanya diam menatapi tembok bata di kedua sisi jalanan. Menemani derikan papan motel tua yang ditiup angin, aku duduk sambil mendendangkan lagu lama penuh arti.
Perutku perih bagaikan diiris belati. Dua hari tak makan membuat perutku menjerit kesana kemari. Apa daya mulut tak mampu lagi mengunyah, mulut tak lagi mampu menyambut datangnya zat asing, dan mulut tak mampu lagi bertanya belas kasihan orang. Di sini aku duduk melawan naluriku sendiri. Naluri untuk hidup secara lahiriyah ataupun batiniyah.
Hujan membuat bajuku kini kian memberat. Ah basah seluruh badan. Tetesan air perlahan-lahan mengalir dari ujung benang bajuku. Menyegarkan, membasahi mataku yang sudah kering karena lelahnya menangis tanpa henti. Ini saat terindah dalam hidupku. Rasa syukur membanjiri dada selagi dinginnya udara mendinginkan paru-paru. Wahai waktu, dapatkah engkau berhenti saat ini saja? Biarkan aku merasakan ini lebih lama. Jauh-jauh lebih lama lagi.
Kututup mataku sambil tengadah ke langit. Percikan air serasa memijat wajahku. Buliran air di rambutku bagai membelai lembut menenangkan akan semua kerisauanku. Dinginnya angin bagai menyelimuti lembut seluruh tubuhku memberikan sensasi hangat memuai dari dalam tubuhku. Genangan air di bawah kakiku membuatku terasa ringan bagai terbang di angkasa.
Aku mencoba berdiri menjemput awan. Menengadahkan tangan di atas kepala. Seakan memohon datangnya emas dari langit. Bukan, bukankah ini semua hanya mimpi adinda? Ini semua hanya mimpi! Tersadar kakiku tak cukup kuat menopang, aku terjatuh dengan bahu terlebih dahulu. Lagi aku menangis, sadar bahwa aku sebenarnya berharap ada seseorang datang menopangku pulang. Sadar bahwa sebenarnya aku ingin orang lain ada di sampingku untuk sekadar membelai rambutku yang basah. Sekadar menghapus air mataku yang terus menerus keluar.
Dingin, aku sadar dingin ini telah menjadi dingin yang menusuk tulang. Membuat seluruh paru-paruku basah. Bulu kudukku berdiri, bahuku menggigil. Aku mulai susah bernapas dengan dinginnya udara yang mulai membekukan otot dadaku. Udara yang bagitu basah dan dingin juga rasanya enggan memasuki rongga pernapasanku. Aku tahu aku bukanlah orang yang berguna. Mungkin hanya sampah masyarakat yang juga sudah dilupakan orang bersamaan dengan jalan penuh sejarah ini. Ya, mungkin aku ini memang pengemis. Hanya saja harga diriku terlalu tinggi untuk mengatakannya.
Sekali lagi kupandang tumpukan koin yang ada di sampingku. Sekali lagi sampai akhirnya koin itu mulai berpendar menjadi butiran tembaga yang bertebaran di sekitar sudut pandang.
