Feeds:
Pos
Komentar

Wanita-wanita Bapak

poligami

Aku terduduk di pojok dapur. Suara itu menggema di sekeliling rumah, bersahut-sahutan. Hampir setiap minggu sekali. Aku terduduk di antara pecahan piring dan gelas di dapur. Ah, suara sesuatu pecah terlempar lagi. Tampaknya vas kaca yang dibeli Ibu di pameran seni di Bogor waktu itu sudah tinggal puing. Aku merangkak dan meringkuk di bawah meja. Ah, lututku tergores beling dari gelas kesayanganku yang telah pecah berkeping-keping. Aku terdiam di sana menekuk lutut dan menangis.

Ini bukan kali pertamaku mengalami hal ini. Aku sudah muak, ini sudah terjadi berulang-ulang. Aku tidak tahu siapa yang harus kubela. Ingin rasanya keluar dari rumah ini. Penuh teriakan tanpa ketenangan lagi. Aku tidak tahu kapan semua ini dimulai. Mungkin ketika aku diajak bapak makan ke Lido, Sukabumi ketika aku masih kelas lima SD. Ketika itu aku pikir aku menang karena adik dan ibu ditinggal di rumah. Aku diperhatikan lebih dari adikku yang masih TK dan rewel itu. Namun aku tidak tahu waktu itu ternyata ada seorang wanita di sana. Bapak cuman berkata, “Perkenalkan Sita, ini anakku dari istri pertama, Abdullah. Panggilannya Bedul. Bedul ini ibumu juga.” Aku spontan melongo.

Bukan satu dua kali aku bertemu “wanita-wanita Bapak”, sudah tidak bisa dihitung jari lagi. Aku menolak memanggil mereka Ibu. Toh, mereka tidak pernah ada yang awet lebih dari 6 bulan bersama Bapak. Lagipula aku tidak tega melihat Ibu yang terus-terusan menangis karena bapak. Padahal Bapak seorang guru agama di sebuah sekolah negeri yang lokasinya lumayan dekat dengan rumah. Tapi entah mengapa Bapak berperilaku tidak berperikemanusiaan terhadap Ibu. Wanita-wanita itu memang istri sah bapak. Mereka menikah siri, bahasa agamanya atau menikah tanpa catatan sipil. Bapak selalu menjaga istri-istrinya selalu dalam batas Islam, tidak pernah lebih dari empat dalam satu periode. Semuanya pasti bapak kenalkan kepadaku tanpa sepengetahuan Ibu. Semuanya tak terkecuali.

Ibu yang dulunya seorang aktivis di universitasnya tidak mau tinggal diam. Ibu yang merasa dirinya telah diperlakukan tidak adil seringkali mencari tahu data-data tentang istri baru bapak. Ibu tidak pernah ragu untuk membawa senjata tajam atau kadang memanggil polisi. Acungan senjata tajam sudah menjadi pemandangan biasa di dalam rumah ini. Pernah Ibu menyeretku dan menanyakan kepadaku di mana rumah istri yang baru saja diperkenalkan oleh Bapak. Bersama beberapa anggota polisi kami menyambangi rumah tersebut. Semua ribut dan teriakan terdengar di sana sini. Ibu seringkali menampar istri baru Bapak atau Bapak yang kadang memukul Ibu. Beruntung aku ataupun adik tidak pernah mendapatkan bogem mentah dari Bapak atau Ibu. Hanya saja teriakan, pecahan kaca setiap hari membuatku tidaklah bisa menganggap rumah tempat tinggal. Ini sebuah medan perang.

Buruknya puncak dari segala masalah selalu terjadi di saat aku akan menghadapi Ebtanas. Tiga tahun lalu dan juga hari ini. Besok ujian Matematikaku sama seperti tiga tahun lalu. Aku tidak mengharapkan hal ini terjadi namun aku sudah belajar dari jauh-jauh hari untuk menghindari hal yang mungkin terjadi. Hari itu, Bapak pulang ke rumah sekitar jam setengah sepuluh, adik-adik sudah tidur. Tampak tenang awalnya. Bapak meminta kopi hitam dan Ibu membuatkannya. Aku belajar di meja makan, mencoba mencerna hitung-hitungan bangun ruang yang sudah kulupakan setelah ulangan harian setahun lalu. Kemudian Ibu menaruh gelas kopi itu dengan sedikit gebrakan di depan Bapak.

“Nih kopinya, jadi si Arum ga nyediain ya di sana?” ketus Ibu.

“Oh, tadi ga pulang ke sana. Lagi di rumah orang tuanya,” Bapak menjawab santai.

Saat itu pula Ibu datang cepat ke arahku. Menjewerku sambil menyeretku ke depan Bapak.

“Arum, Dul! Arum! Nama siapa lagi yang belum kamu sebutkan ke Ibu, hah? Kamu senang ya Ibu malu dengar semua dari tetangga? Senang?”

“Ibu. Sakit, Bu. Sakit!” jeritku payah. Aku mulai menangis.

“Nangis kamu? Nangis? Memang Ibu tidak sedih, memang hati Ibu tidak sakit? Anak pertama Ibu yang Ibu gadang-gadang membela si hidung belang ini?” teriak Ibu sembari mengambil gelas kopi yang masih panas itu dan menyiramkannya ke muka Bapak.

Dan seketika tamparan itu mendarat di pipi Ibu. Tidak keras tapi cukup memulai pertengkaran hebat. Adu argumen makin keras, tak terarah. Ibu mulai mengambil beberapa barang pecah belah dari atas meja. Gelas kesayangan yang kudapat dari teman dekatku yang pindah ke Australia jadi salah satu sasarannya. Aku hendak mengambil kepingannya sebelum remuk terinjak namun terlambat. Pecahan itu terinjak sepatu ayah dan lututku tergores salah satu kepingannya. Teriakan makin meninggi dan aku hanya menangis di bawah meja. Aku lelah, aku lelah.

Saat itu, aku melihat pintu dapur terbuka. Suara tinggi argument-argumen tak masuk akal itu memenuhi pikiranku. Pandanganku kabur karena air mata yang menggenang. Nafasku sulit karena sesenggukan. Aku tidak mengerti bagaimana, namun ketika pikiranku cerah aku sudah berada di seberang jalan. Aku naik salah satu angkot yang menepi mencari penumpang. Kurogoh kantongku. Masih ada tiga lembar seribuan sisa uang jajan minggu ini. Entah apa yang akan kulakukan mengingat besok hari Ebtanas matematikaku. Angkot ini yang biasa membawaku ke sekolah. Kubiarkan angkutan ini membawaku ke sekolah di jam yang tidak biasa ini.

***

Hari ini ulang tahunku ketiga puluh dua, bersamaan dengan hari pernikahanku. Wanita di sampingku baru kukenal sekitar setahun lalu. Seorang yang begitu berprestasi, santun, ramah, dan idaman setiap mertua. Aku bertemu dengannya ketika menyelesaikan disertasiku di salah satu universitas negeri di Jakarta. Istriku ini anak bungsu dari salah satu petinggi ormas agama yang begitu disegani. Tamu yang kusalami sedari tadi tidak ada yang kukenal. Istriku pandai membawa diri dan dengan ramah menyambut tamu-tamu dengan gelar yang begitu tinggi itu. Di sebelah jauh dari pelaminan berdiri Ibuku dengan senyum yang sangat menyenangkan hati bersama dengan seorang yang kukenalkan lima tahun lalu, salah satu board advisory di perusahaanku yang lama, seorang duda yang ditinggal mati belasan tahun lalu oleh istrinya. Bapak kuatur agar datang pada akad saja, sedang Ibu dan suami barunya bisa bertengger di pelaminan saat ini. Aku tidak mau merobek luka lama Ibuku. Beruntung Bapak datang sendirian tidak dengan serentet wanita-wanita yang sudah tak kukenal lagi siapa mereka semenjak lulus SMA.

Seorang yang kukenal dengan baik datang dan menyalamiku hangat, “Wah Dul, sudah insaf kamu ya sekarang. Cantik pula istri kau ini. Makasih ya diundang segala aku ini. Sampai tidak enak,” ujar Tigor yang saat itu terlihat sekali sangat berusaha untuk memakai pakaian tebaik yang ia punya dari lemari kain kecilnya. Tigor ini berandalan yang menemukanku sehari sebelum Ebtanas dan mengajakku ke kamar kostannya yang kecil untuk bermalam dan kemudian pergi Ebtanas esok paginya.

“Hush,” ujarku dan kemudian mencolek istriku hangat “Alhamdulillah sekali Maya mau sama aku, ya sayang?”

Istriku itu hanya tersenyum simpul dan malu-malu. Seorang yang benar-benar polos dan lugu, begitu hangat dengan sekelilingnya. Ada sedikit ketakjubanku bisa tiba-tiba memutuskan melamar perempuan sebaik dirinya dan diterima dengan baik.

Aku masih melihat kesana kemari menantikan undangan yang paling kutunggu. Aku memberikan undangan tersebut secara personal bulan lalu. Undangan yang mungkin kurang dinantikan oleh dirinya.

 

“Kamu yakin?” ujar teman istimewaku itu ketika aku memberikan undangan.

                “Tidak terlalu. Tapi keluarga sudah menyetujui. Ibuku senang dan keluarga calon istriku pun tidak memberikan pertanyaan aneh-aneh.”

                “Tapi, aku masih mencintaimu. Dan aku yakin kamu pun begitu. Apa yang begitu kurang?”

                Aku terdiam dan hanya menjawab, “Aku harap kamu datang.”

 

Sampai acara lempar buket selesai dan semua alat foto sudah dirapikan oleh fotografer, aku tak kunjung melihat dirinya. Aku menghela napas panjang. Waktunya untuk merapikan diri. Hari ini melelahkan sekali. Aku memeluk dan mencium pipi istriku yang harus melepaskan dandanan yang kurasa sudah cukup membebani dirinya yang tidak terbiasa berdandan setebal itu. Aku mencium tangan ibuku dan memintanya beristirahat sembari menepuk ayah tiriku itu. Aku pun memutuskan untuk kembali ke ruang rias pengantin pria yang seharusnya kosong melompong.

Setibanya di sana aku terkejut karena ternyata Randi ada di sana sembari menunggu dengan sebuket bunga di tangan.

“Selamat untuk kesayanganku. Selamat karena sudah meninggalkanku untuk seorang wanita,” katanya sembari berjalan di belakangku dan menutup pintu.

“Aku tidak akan meninggalkanmu untuk wanita-wanita lain seperti Bapakku. Karena wanitaku cuma hanya ada satu. Sedangkan pria-pria lain bersamaku kau kenal semua. Mau kuajak Tigor juga bersama malam ini?” ujarku sembari menangkupkan wajahnya dan mendaratkan ciuman rinduku untuknya.

 

Depok,  30 September 2016

international-events2

It has been curdling up in my mind for quite a long time already and I guess I really need to write this up just to clear up my mind.

It was never in my mind to somehow in touch and being an event organizer for a big international event. I am not even a professional in this field, so yeah, it’s just a view from a person who somehow involved in this kind of things.

My father is a super great manager. He is helping here and there for managerial advice for many organizations. Since I adore him so much, I enjoy listening to all his story about his companies and organizations. Then, I jumped in a real life situation of what he always tell me.

 

Singapore 23rd International Biology Olympiad 2012

When I graduated from NTU Singapore, I joined International Biology Olympiad 2012 as a Team Guide and there I started my first big international event. There are more than 50 countries attending this event with at least 6 delegates per country. We need to house the 4 students and minimal 2 juries per country. Both student and juries should not meet in any condition, not even communicating until the scheduled time. My duty is just a simple one, just follow the protocols and I will guide 4 kids from the same country who won’t have their gadgets for a week event and ensure they all follow the schedule. Pretty simple, huh? That’s what I thought until all those unpredictable details come in. Somehow, I guess to cut the cost, we stayed in a student hostel which house a person in a room.

Firstly, Somehow, I guess to cut the cost, we stayed in a student hostel which house a person in a room. OK, so every morning, we need to knock on each of 4 high school kids’ room, so that they will be on time for all the schedules. Easy peasy for me since I am such an early bird myself since I was in high school. Until the nightmare raise when we understand a situation. Just like us, the highschooler at that time is so depends on their gadget including their phone to get them awake and see the time. Damn! When they surrender their gadget to us, automatically, they don’t have anything to display time. No watch, no table clock inside the room. So, knocking the door to wake them up is a must. We, as a guide, need to catch the schedule as well and we don’t have enough time to go to some convenient store just to buy a table clock for them. So, damn! Another problem comes about room placement. Those 4 kids from each country is located in different floor to let them socialize with another country folks. Meanwhile, I stayed in another floor. The key of the floor basically allow an access for the elevator to your floor only. So, each morning, we will start with chaotic screaming. Because in every floor there is only a guide that we can call to wake our kids up. When that guide already gone with their kids to the bus. We are screwed if our kid are still upthere sleeping like a baby. We will eventually get scolded by our senior guides (I got the position as a Kuwait team leader is basically because I know a bit of Arabic and I am Moslem myself, so I can help them easier for daily prayer and all that stuff). But the thing is our motivation is not the fear of scolding (our senior guide is basically a volunteer like us who know no more than us, so yes there is no superiority anyway). More like, the events won’t be running smoothly if we don’t do our duty well. We try our best to solve this things. Some initiate to take care each other kids and smuggling himself to go to grocery store to buy some table clock, some towers initiate a daily rooster as elevator keys guard every time. First day was chaotic, but then in EACH NIGHT DAILY EVALUATION SESSION, we take this issue to the higher management which is the senior guides and chief guides and talk each other about what we will we do.

Secondly, Some country has their own needs and wants. I once so fed up with my team. Why? Because I guess my kids was not so used to be in a communal setting. They are always in highly exclusive position in their country. They want to be exempted from the schedules, from the queue line, from the ordinary set up. Once I got scolded by the high levels because I don’t inform them that the jury of my team wanted to leave earlier due to the party having alcoholics drinks that makes them uncomfortable. I  didn’t really get it since I thought I can’t by pass my protocols. So, yes, I got my lesson that I can actually ask the high levels management for exemptions.

Once near the closing ceremony, I am so tired and I ended up hugging one of my senior guide (disclaimer: he is my best friend for 6 years too) and crying my tears dry in his arm. I am so fed up and tired for the lack of sleep and all the scolding. He hugs me for quite sometime until my kids all finish their prayer in some hideous place of the building. After that, I just continue my duty and smiling to all the participants and committee again. So, for them, it’s OK to be human, it’s OK to feel tired and fed up, as long as you still continue your given task and not make a scene in front of everyone. Two of my kids are quite sensitive about my well being too, so basically I don’t want to let them down because they see me crying. So, yes, they don’t know and be happy with it.

In anyway, in their committee, I find a very solid circle of friend, who share the bad and the good together during the whole events. Let us be human, and let us socialize. The G7 is one of the most valuable circle of friend I have ever had. They even spend their time to come to my graduation ceremony and bring flower and the Kazakh’s doll. It was such an eye-opening and fun experience. And I got a lifetime friendship😀

–to be continued–

Mutiara Senja

mutiara
Semburat jingga menoreh di tengah pudarnya nila

Tidak terasa aku sudah berada di ujung siklus diurnal

Aku seorang pengumpul kerang sebelum pasang

Rasanya tidak ingin sampai pada penghujung masa

 

Kala mentari mulai berbagi serpihan sinarnya

Kutemukan sebuah mutiara yang bercahaya

Kupegang erat kurawat dengan hati riang gembira

Tanpa sadar ketika siang datang aku telah meremukkannya

 

Senja ini kutemukan lagi sebuah mutiara

Dari tumpukan kulit-kulit kerang yang kutata

Aku sadar hanya sebentar pula mutiara ini kugenggam

Malam akan datang menarik kembali cahayanya

20151204063321595

Hai, aku adalah sebuah piring makan putih terbuat dari keramik. Sudah dua puluh empat tahun aku tinggal di lemari keluarga Budiyanto ini. Aku memiliki tujuh saudara yang masing-masing kami memiliki tanda kecil di pinggiran badan kami yang berbeda-beda. Aku dipanggil Gajah oleh saudara-saudaraku karena gambar di pinggiranku adalah seekor gajah merah jambu. Saudaraku yang lain adalah Jerapah, Buaya, Kucing, Domba, Elang, Hiu, dan Capung. Elang sudah meninggalkan kami dari lama. Umurnya hanya setahun karena dulu dipecahkan oleh si sulung keluarga ini yang masih berusia tiga tahun. Hiu dan Capung juga sudah mangkat sepuluh tahun lalu ketika Bapak membuatkan lemari besar untuk tempat semua alat dapur. Ketika kami sekeluarga dipindahkan, Hiu dan Capung lepas dari tangan Ibu dan pecah berkeping-keping. Sekarang tinggal tersisa kami berlima yang menemani keluarga Budiyanto.

Keluarga Budiyanto terdiri dari lima orang keluarga inti dan satu pembantu rumah tangga. Aku adalah piring yang selalu dipakai si sulung, Jerapah dipakai si adik, Buaya dipakai oleh paman, Kucing dipakai oleh ibu, dan Domba dipakai oleh bapak. Sementara piring yang dipakai pembantu rumah tangga itu seringkali tidak ditempatkan bersama dengan kami karena bentuknya yang lebih cekung dan biasanya datang bersamaan dengan sekantung deterjen besar. Karena kami bentuknya cukup ceper dengan cekungan yang sama, kami sekeluarga selalu dekat dan berbincang satu dengan yang lain.

Sudah lima tahun, aku tidak lagi dipegang oleh si sulung. Tampaknya si sulung sedang pergi merantau entah kemana. Aku kadang-kadang dikeluarkan, namun seringkali tidak. Aku kangen dengan si sulung karena ia salah satu yang sangat senang makan. Aku bertemu si sulung ketika ia mulai berganti kostum sekolah berwarna putih dengan rok berwarna hijau. Aku salah satu yang paling sering dikeluarkan dan si sulung sering sekali menaruh banyak nasi ke atas kepalaku. Aku senang, aku sangat disayang.

Berbeda dengan si Jerapah yang kadang sering kesal sendiri. Si bungsu tidak senang makan. Kadang harus dipaksa-paksa. Dulu ketika si bungsu masih kecil, Jerapah lebih banyak dipegang Ibu ketimbang si bungsu. Jerapah tidak terlalu senang dengan si bungsu. Si bungsu sangat temperamental. Kadang kalau Ibu tidak dapat membujuknya makan, si bungsu sering hampir melempar Jerapah. Jerapah tampaknya sudah hidup dengan prinsip “hiduplah seakan mati esok hari”. Kejadian itu berulang sampai si bungsu sudah mulai memakai rok biru setiap pagi.

Salah satu hal yang kusenang dari keluarga Budiyanto adalah kami sekeluarga sering dikeluarkan bersama. Bapak ingin semua anggota keluarganya makan bersama di satu meja sehingga kami sekeluarga selalu ditumpuk bersamaan dan bisa mengobrol banyak seiring dengan keluarga Budiyanto juga mengobrol. Buaya yang kadang tidak ikut karena si paman seringkali pulang malam dan tidak ikut makan bersama. Paman kadang membawa buaya ke kamarnya dan makan sambil menonton televisi.

Yang paling punya banyak cerita tentu saja malah si Kucing. Kucing adalah yang paling sering dikeluarkan dari rak dapur. Ibu tinggal di rumah sepanjang waktu sehingga Kucing juga keluar di waktu siang. Tidak seperti kami yang keluar hanya pagi dan malam atau malah malam saja. Kucing bilang, dulu dia merasa seperti malaikat. Kepalanya hanya diisikan suatu hal yang putih saja atau ditambah selingan hitam kecap. Polos sekali. Dulu kadang hanya nasi yang sudah diuleg bersama dengan sambal. Karena polosnya, kadang kami sebut dia si Rambut Salon.

Beberapa kali, kami dapat tamu dari tetangga sebelah. Aku cenderung tidak senang menerima tamu ini. Mereka kerap kali mengeluh saja kerjanya. Katanya mereka setiap kali selesai dipakai makan didiamkan saja hingga berkerak. Kadang mereka bercerita kalau makanan yang ditaruh di kepala mereka biasanya hanya tersentuh sedikit saja. Selain mengeluh, mereka juga sombong sekali. Sementara kepala kami hanya diisi dengan makanan-makanan lokal, mereka bangga sekali diisi oleh Tom Yum, Sze Chuan, Tteobokki, Risotto, dan banyak lagi makanan yang aku menyebutkannya saja selalu salah. Mereka datang ke sini sering kali dengan makanan dingin yang tampaknya sudah ditaruh di atas mereka sejak kemarin. Aku sendiri tidak mau hidup seperti mereka. Meskipun hanya nasi, aku senang ditaruh sesuatu yang hangat di atas kepalaku. Satu hal yang aku senang juga adalah tidak pernah ada sisa makanan di atas kepalaku sehingga ketika dicuci aku pun hampir sudah bersih.

Dua tahun terakhir, si sulung sudah pulang, dan aku senang bukan kepalang. Aku sering dipakai lagi. Tapi si sulung tidak lagi makan banyak seperti dulu. Bahkan seringkali aku tidak pernah merasakan nasi di atas kepalaku. Pernah beberapa bulan si sulung bahkan tidak menyentuhku. Si sulung hanya makan camilan dari wadah platik berwarna-warni yang dipajang di meja tengah. Tapi, setiap malam, aku tetap ikut dalam ritual makan bersama meskipun di atas kepalaku hanya diisi sedikit. Meskipun aku dipakai sedikit, aku melihat si sulung makin tambah tambun. Kadang ia mengisiku dengan suatu roti yang disebut pizza dan memakannya sendirian dengan rintikan air mata. Kalau sudah begitu, biasanya aku hanya dicuci sehari sekali saja. Aku sangat sayang dengan si sulung. Tampaknya ada sesuatu yang terjadi padanya setelah pulang merantau.

Beberapa bulan terakhir, aku sekeluarga sering sekali diisi dengan makanan yang disebutkan piring tetangga sebelah. Pertama kalinya, aku senang dengan makanan-makanan baru ini. Terasa lucu dan aneh di kepala. Tapi, ada yang kurang, ada yang salah. Sekarang keluarga Budiyanto jarang sekali berbicara satu sama lain sehingga aku sekeluarga juga harus memelankan suara agar tidak terdengar. Masing-masing melihat ke sebuah nampan atau kotak kecil yang bersinar. Kucing juga makin sebal dengan kondisi bahwa makanan di kepalanya sekarang terus bersisa, padahal kami semua selalu bersih sebelum sampai ke tempat cuci piring.

Hari ini adalah hari yang kurang biasa. Aku melihat si sulung datang marah dan berteriak setelah berbicara dengan Ibu. Entah apa yang terjadi. Si sulung mengambil Buaya yang sudah lama tak dipakai karena Paman sudah pindah bekerja di pulau lain. Tampaknya si sulung tidak melihat corak di pinggir piring lagi dan salah mengambil Buaya yang semalam dipakai untuk menaruh kacang rebus.

Besoknya aku tidak lagi melihat Buaya dan juga tidak si sulung. Jujur aku cemas. Kemana keduanya? Dua-tiga hari tidak kulihat keduanya sampai hari keempat aku melihat serpihan Buaya dibuang ke sebuah kantong plastik hitam oleh seorang yang menggunakan sarung tangan. Yang mengerikan adalah pecahan Buaya itu memiliki warna merah di pinggirnya. Darah? Kami keramik, ketika pecah tidak mengeluarkan darah seperti manusia yang terjatuh dari …..

Itu darah si sulung.

Aku baru tersadar. Tampaknya si sulung terluka karena pecahan Buaya sama yang terjadi ketika ia kecil dulu terluka oleh Elang.

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat si sulung. Rumah sepi sekali selama seminggu hingga akhirnya keluarga Budiyanto pulang dan mulai mengeluarkan piring makan. Banyak sekali tamu-tamu dari tetangga sebelah, entah itu yang bentuknya piring melamin, piring kaca berwarna-warni yang selalu datang dengan kantung deterjen, tak lupa ada pula piring sesepuh yang bergambarkan gereja Eropa berwarna hijau, bunga tulip, ataupun pemandangan sungai dan bebatuan. Ramai sekali, aku ditumpuk di tengah-tengah piring asing. Semua orang yang datang juga berbaju hitam. Aku mencoba mencari-cari pandang ada di mana majikanku, si sulung yang kusayang itu. Aku tidak melihat dia berjalan-jalan, tidak pula teriakan cerianya.

Ketika piring dibagikan aku melihat ada sebuah kereta tanpa kuda yang ditutupi selimut berwarna hijau. Kereta itu juga tidak punya roda, diangkat oleh beberapa lelaki dari depan rumah menuju ke suatu tempat. Seluruh wanita yang lain termasuk Ibu dan si bungsu mengikuti dari belakang sambil menangis. Aku dan piring lain tergeletak begitu saja hingga malam menjelang dan aku dicuci oleh orang-orang asing.

Sejak saat itu, aku sekarang tinggal di lemari dapur tanpa pernah dikeluarkan. Aku kesepian dan hanya bisa mengetahui keadaan keluarga Budiyanto dari celetukan Jerapah, Kucing, dan Domba. Tiga bulan aku ada di lemari dapur untuk kemudian aku dipindahkan ke sebuah lemari kaca bersama sebuah boneka, sebuah piala, sebuah mug, dan foto si sulung. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan teman-teman piring di ruang makan juga saudara-saudaraku. Mudah-mudahan kali ini si sulung tidak merantau terlalu lama. Aku benci ada di rak kaca ini.

beyinke

Saya tergerak untuk menulis ini dikarenakan melihat beberapa teman yang menyebarkan status-status yang berisi penolakan terhadap sistem patrilineal yang berpihak pada laki-laki dan seolah menekan perempuan. Saya perempuan dan saya tumbuh besar dengan menolak sistem patrilineal masyarakat. Dulu, saya ingin mendobrak itu, menjadi wanita yang memang sama superb-nya dengan laki-laki. Dulu, saya ingin menjadi wanita yang sejajar dengan lelaki, sama kuatnya, sama cerdasnya, bukan sekedar menjadi ibu rumah tangga yang kerjanya hanya masak, nyuci, dan ngurusin suami di atas ranjang (ini tidak ada maksud menghina pekerjaan IRT, simply pendapat saya waktu masih sangat awam kala remaja). Tulisan ini hanya refleksi batin dan mungkin pengambilan makna dari sedikit ilmu yang saya cowel sana-sini dari berbagai sisi kehidupan. Kalau ada hal-hal yang dirasa perlu diperbaiki dan diberi masukan, saya akan menerima dengan senang hati karena maklum, saya bukan terbilang ahli dalam bidang filosofi, antropologi, primatologi, atau bahkan ilmu agama islam. Jadi jangan jadikan tulisan saya sebagai referensi, hanya bahan renungan saja.

Jadi kita mulai dengan fitrah(1). Karena saya seorang saintis, biolog terutama, saya mengambil makna fitrah sebagai tabiat bawaan atau naluri. Karena saya berpegang pada Quran namun tidak memungkiri kebenaran teori evolusi Darwin yang tidak bisa diekstrapolasi sehingga tidak pernah menjadi hukum evolusi, maka saya juga tetap menyamakan jasmani manusia sebagai hewan dalam Kingdom Animalia. Saya orang yang percaya bahwa Kun Fayakun itu tidak semata-mata terjadi begitu saja. Ada proses yang terjadi dibalik Kun Fayakun tersebut dan proses dari Kun Fayakun itu tidak terkecuali adalah evolusi yang membawa manusia pada fitrah (naluri) hewaninya. Manusia tercipta dari tanah (partikel), iblis dari api (energi panas), sedangkan malaikat dari cahaya (memiliki sifat partikel dan energi). Jadi tentu saja manusia sama dengan hewan lainnya yang meminjam atom-atom sebagai wadah jasmaninya yang asal mulanya tentu saja dari tanah (materi inorganik yang nantinya akan diubah menjadi materi organik oleh bantuan tanaman dan rantai makanan).  Jadi tolong, meskipun saya percaya evolusi, saya tidak pernah bilang manusia dan monyet itu sama, karena wadah jasmaninya saja yang sama, tapi hakikat akal yang diberikan Allah khusus pada manusia itu sesuatu yang lain lagi, di luar ranah sains atau mungkin saja belum terbaca pada sains saat ini. Maka, saya sendiri selalu mencoba menjadi manusia hakiki yang mencoba melawan fitrah jasmaniah saya sebagai hewan dan mencoba menjadi manusia yang menggunakan akal yang merupakan hak prerogatif manusia dari Allah, tidak ke hewan lainnya.

Dengan jasmani yang sesuai dengan teori evolusi, maka manusia tak lain tak bukan adalah primata, ya, sama seperti monyet, gorilla, kera, atau lemur. Secara hormonal, secara jasmaniah, kita sebagai manusia akan melakukan hal-hal yang meningkatkan kesuksesan evolusi kita, memiliki sumber daya yang cukup untuk kemudian memiliki anak yang sukses meneruskan keturunannya juga. Ilmu evolusi menitikberatkan ekonomi untuk satu tujuan egois dari materi genetik tubuh kita, meneruskan kopian dirinya ke generasi selanjutnya (2). Semua perilaku hewan dapat dijelaskan dengan mudah lewat konsep cost and benefit dari keuntungan evolusi jangka panjang, tidak terkecuali strategi mencari makan, mengorbankan diri untuk keluarga, dan tentu saja struktur kelompok sosial.

Alhamdulillah, saya hanya punya satu niatan hidup di dunia, beribadah. Dengan cara apa? Iqra’, membaca. Membaca segala yang tertulis dan tak tertulis. Hidup saya untuk belajar dengan berbagai macam pegangan (3) terutama:

Sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

فَـضْلُ الْعِـلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَـضْلِ الْعِـبَادَةِ، وَخَيْرُ دِيْنَكُمُ الْوَرَعُ .

 

Artinya: “Keutamaan ilmu adalah lebih baik dari pada keutamaan ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah ketakwaan.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (no. 3972) dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (ta’liq hadits no. 96 sebagai syahid), dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu’anhu]

Hal ini juga yang terus membuat saya belajar lebih luas. Dan entah dengan cara-Nya Allah mempertemukan saya dengan ilmu baru agar saya belajar hakikat fitrah jasmaniah manusia, primatologi.

Primata memiliki kecenderungan untuk memiliki sistem struktur sosial untuk memberikan keuntungan evolusi bagi mereka, diantaranya adalah terlindung dari predator, akses yang lebih baik kepada makanan, dan akses pada pasangan kawin(4). Keberadaan gender tentu saja tidak lain dan tidak bukan untuk kemungkinan adanya perkawinan, jadi kita sungguh tidak bisa menghilangkan itu dari persamaan kehidupan.

Hampir setiap makhluk hidup advance memiliki sel telur yang secara ukuran jauh lebih besar dan memiliki setiap sumber daya untuk bakal anak dikemudian hari. Sedangkan sel sperma hanyalah sel kecil yang berenang membawa materi genetik dan sumber daya yang mencukupi perjalanannya menuju sel telur (jadi jelaslah ya kenapa cowok selalu travel light tanpa bawa apapun, dan cewek selalu at least bawa tas kecil, secara fitrahnya memang begitu :p). Begitupun sebenarnya cost yang akan dikeluarkan betina untuk menyukseskan dirinya secara evolusi (punya anak) akan jauh lebih besar ketimbang pejantan. Pejantan hanya perlu akses yang mudah kepada betina yang siap kawin, sedangkan betina harus selektif terhadap pejantan karena ia harus memastikan pejantan yang ia pilih memiliki sumber daya yang cukup untuk membantu anak yang akan ia lahirkan (see the point? Now, you know why boy loves bitches – easily accessible, and why girl tends to be gold-digger, it’s all natural).

Pada primata, yang lebih banyak dilakukan adalah model berkelompok satu jantan banyak betina. Mengapa? Karena memang pengasuhan anak benar-benar membutuhkan energi yang besar. Seorang ibu harus dibantu untuk merawat bayinya, entah oleh pasangannya sendiri atau oleh saudara-saudaranya. Karenanya pola matrilineal akan jauh lebih menguntungkan dimana betina-betina berkumpul dan saling membantu, sementara pejantan akan pergi bersama pejantan lain dan menghindari agresi dengan pejantan pemimpin kelompok. Pola yang sangat matrilineal, bukan? Memastikan sumber daya kepada anak yang jelas dari DNAnya karena ibu pasti tahu yang mana anaknya, sedangkan bapak tidak. Karena ketidakpastian paternitas itulah agresi akan sangat tinggi dan pejantan yang kuat akan mengusir pejantan lain dari kelompoknya. Hal ini untuk memastikan bahwa anak yang dilahirkan di kelompok adalah anaknya sendiri, bukan anak pejantan lain. Pola matrilineal. Menariknya, jantan tidak menunjukkan agresinya kepada betina tapi kepada pejantan lainnya.

Tiba kepada manusia, pejantan dengan pola agresinya mencoba menekan betinanya dengan falsafah fitrah yang sama, yaitu kepastian paternitas. Ketika seorang wanita sudah menikah, ia menjadi terbatas untuk keluar rumah, tidak boleh menjadi dominan, parahnya di masa lalu adalah wanita benar-benar ditekan tidak boleh berekspresi. Menjadi pejantan adalah dominansi terbaik, ia yang menguasai segalanya dan dianggap memiliki power dengan agresinya dengan testosteronnya. Awalnya, wanita sebenarnya yang memiliki pilihan untuk memilih pejantan mana yang akan ia nikahi, pejantan yang memiliki sumber daya yang baik untuk anak-anaknya. Namun, seiring dengan patrilineal yang kebablasan, wanita diinjak-injak. Dianggap nista memiliki anak wanita karena kasih sayangnya, karena ketulusannya, dan fitrah yang dimiliki hati nurani manusia, berbakti pada suaminya. Pejantan-pejantan masa lalu terlalu menuruti kata jasmaninya selayaknya primata non-manusia lainnya, yang beranggapan bahwa wanitanya bisa saja berselingkuh dengan pria lain, memiliki anak dari pria lain, sehingga kepastian paternitas haruslah dipastikan. Wanita harus dibatasi pergerakannya. Bukannya mengusir pejantan lain, yang dilakukan laki-laki kita justru mengekang wanitanya.

Namun, yang terjadi sekarang justru penolakan patrilineal yang kebablasan. Banyak dari kita lupa falsafah telur dan sperma tersebut. Bahwa sesungguhnya wanita lah, betina lah, yang terhormat dan memiliki sumber daya sangat tinggi. Pejantanlah yang harusnya datang dengan segala sumber dayanya sedemikian rupa mendekati betinanya untuk dikawin. Wanita mengekspos seksualitasnya, yang mana sebetulnya tidak menyaring pejantan-pejantan dengan kualitas baik karena kita menjual murah sel telur kita. Fitrah manusia sebagai salah satu hewan juga adalah mengurus anaknya dengan sumber daya yang terbaik yang ia miliki dan menyapihnya ketika dewasa. Menjadi ibu rumah tangga adalah fitrah karena mengikuti fitrah jasmaniah yang akan menyiapkan anak-anaknya sebagai bagian kesuksesan evolusi dirinya. Sejak saat itu, justru saya memilih jadi ibu rumah tangga di kala saya memiliki anak nanti dan menyapihnya sedikit demi sedikit hingga usia baligh. Patrilineal di mana ibu diminta untuk ada di rumah dianggap menyiksa kebebasan wanita. Meminta wanita berhijab dianggap mengekang kebebasan wanita. Mungkin kita sudah kebablasan.

Islam datang untuk menyeimbangkan, menyeimbangkan fitrah hati nurani kita yang sudah dianugerahkan Allah sebagai manusia dan menyeimbangkan fitrah jasmaniah kita sebagai hewan. Kebijakan yang sangat mengkompensasi jasmaniah manusia tentu saja, kebijakan Islam dengan membolehkan laki-laki memiliki empat istri, dengan prasyarat harus bisa adil (5). Adil adalah kepuasaan istri, keridhoan istri. Keputusan poligami ini sekali lagi sesungguhnya secara evolusi bukan ada di suami. Sesuai dengan fitrah jasmaniah manusia sebagai primata,  sesungguhnya ada di istri. Bahwa ketika pejantan memiliki sumber daya yang begitu berlimpah dan mampu menghidupi diri dan anak-anaknya kelak, maka betina tidak masalah mengikuti jantan tersebut di dalam haremnya. Keputusan ada di wanitanya, bukan di pejantan. Cemburu dari istri juga respon alamiah, karena sesungguhnya ketakutan bahwa sumber daya dari suami akan dialokasikan kepada betina lain dan anak-anak dari betina lain tentu saja merupakan hal buruk bagi dirinya dan anak-anaknya. Makanya, reluktansi cenderung tinggi dari pihak istri pertama untuk menerima betina kedua. Fitrah jasmaniah.

Ikatan pernikahan juga merupakan kompensasi teradil dari adanya timpang antara kebutuhan pejantan dan betina dalam kesuksesan evolusi. Pejantan yang pada dasarnya akan menyebarkan benih ke banyak betina dan kebutuhan dari betina yang membutuhkan bantuan dalam membesarkan anak-anaknya. Ikatan pernikahan sesungguhnya sangat mengikat pejantan sehingga ia tidak dapat melakukan fitrah jasmaniahnya (sungguh lelaki yang berkomitmen dengan pernikahannya selalu saya anggap sebagai manusia sejati yang berbeda dengan hewan karena mampu menahan fitrah jasmaniahnya) untuk bertemu banyak betina dan mengawini sebanyak mungkin betina. Primata yang tendensinya cenderung merawat anak-anaknya dalam komunitas saudara-saudara wanita dekat mendapatkan kepastian perawatan anak dari suami, sehingga kedekatan dengan keluarga awal tidak selalu diperlukan dan memungkinkan manusia melakukan pergerakan yang lebih baik ketimbang primata lain. Kalau selama ini semua orang selalu mengatakan, mengapa Ibu harus ditaati karena ia telah mengandung 9 bulan 10 hari, maka sekarang saya mengatakan bahwa keistimewaan suami juga memang sudah merupakan haknya. Suami yang baik yang menahan fitrah jasmaniahnya dan menjaga sumber daya dan komitmennya untuk satu istri, sangat berhak untuk kepastian paternitas. Kalau hukum Islam hanya mengekang lelaki, tentu tidak adil bagi lelaki. Secara evolusi, kepastian paternitas, itu yang diinginkan oleh lelaki, maka Allah menempatkan ridho suami sebagai ridho-Nya juga (6). Suami yang menjaga sumber dayanya kepada istri berhak atas kepastian paternitas. Tidak keluar rumah tanpa ijin suami, tidak berpuasa Sunnah tanpa  ijin suami, dan adab-adab terhadap suami lainnya adalah sebuah guidelines tentang kepastian paternitas. Diharapkan suami tidak pernah sedetikpun berpikir ada ketidakpastian paternitas. Caranya ga mesti melulu sama dengan yang tertulis di berbagai adab yang ditulis hadits-hadits karena memang hadits muncul di tanah Arab di masa itu. Modernitas dan kultur berbeda dari tanah Arab tentu saja mengubah berbagai macam hal termasuk diantaranya tentu kebimbangan tentang kepastian paternitas itu, but at least you’ve got the point, jangan sekalipun menggoyahkan kepastian paternitas itu dan caranya bisa dikomunikasikan masing-masing antar pasangan.

Islam menempatkan wanita secara terhormat, sangat terhormat bahkan. Karena bisa jadi mencegah patrilineal kebablasan yang terjadi tepat sebelum Islam datang. Bahwa agresi atas dorongan testosteron yang sangat kuat, membuat wanita tidak bisa berbuat apa-apa. Agresi tidak lagi ditujukan kepada pejantan lain, tapi juga kepada wanita-wanitanya. Wanita direndahkan, tidak boleh ikut berdebat dengan lelaki, tidak boleh mendapatkan ilmu lebih. Quran berulang kali mengatakan secara sejajar untuk kata ganti pria dan wanita (mu’miniin wa mu’minaat, muslimiin wa muslimaat). Bahwa karena wanita dengan hormon oksitosinnya yang sangat penyayang dan pria dengan testosteron dan agresivitasnya sesungguhnya sama saja secara batiniah. Islam tidak pernah melarang wanita menjadi seorang pemimpin, seorang yang sukses, seorang yang memiliki karisma di mata masyarakat. Istri Nabi Muhammad SAW, Khadijah RA, saja sebelumnya adalah bos dari sang Nabi ketika berdagang, menunjukkan bahwa wanita secara perkembangan intelektual, mentalitas, dan batiniah bisa setara dengan laki-laki atau bahkan lebih. Namun, ketika dilihat dari sisi gender/seksualitas, patrilineal tetap lebih diutamakan atau kalau tidak, maka ketidakpastian paternitas akan membuat sistem keluarga menjadi hancur dan kepastian sumber daya untuk anak menjadi hancur pula karena anak tidak jelas hasil dari sperma siapa, dan kepastian sumber daya dari ayah yang mana tidak dapat dipastikan. Perlu digarisbawahi, men travel light, jadi kalau kepastian paternitas tidak terjamin, pejantan akan dengan mudahnya meninggalkan keluarga.

Jadi, gender ada bukan untuk disetarakan, tidak ada persamaan gender. Keduanya memilki strategi masing-masing dengan perkembangan evolusionernya masing-masing. Saya sendiri berhijab karena ingin menjaga diri dan ingin dipandang di luar dari seksualitas saya. Bahwa sel telur saya masih sesuatu yang mahal dan kalau ingin menjamah seksualitas saya maka akan lain urusannya dengan apa yang saya capai secara intelektual, mentalitas, dan batiniah. Patrilineal kebablasan memang menganggap wanita sebagai objek yang harus ditutupi, yang tidak boleh diekspos, tidak boleh dilihat oleh siapapun. Tapi, tolong lihat dari sudut pandang fitrah jasmaniah antara pejantan dan betina. Jika tidak ingin menjadi objek seksualitas, maka janganlah menjadi objek seksualitas. Tutupi seksualitasmu dan berjalan bersisian dengan gender yang berbeda. Tutupi yang harus ditutupi agar tidak mempermudah akses lawan jenis untuk mengaktifkan sisi jasmaniahnya. Sebaliknya pun sama, bukan tubuh sensual yang diincar oleh wanita secara fitrah evolusi jasmaniah, tapi kebaikan hati, kepedulian, dan segala bentuk pemberian yang memastikan bahwa anda adalah suami kompeten juga membuat lelaki dilihat secara seksual (saya dan teman-teman jujur saja juga suka memperbincangkan hal ini dan tampaknya betapa kami memandang laki-laki sebagai objek seksual: bisa dengan mudah diminta antar sana-sini, dimintain beli ini-itu, diminta tolong ini-itu, tidak ada bedanya dengan laki-laki yang memandang wanita secara sensual. Karena secara evolusi betina dan pejantan menarget hal yang berbeda, maka topiknya pun berbeda).

Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Coba tilik lagi guidelines yang diberikan agamamu. Tilik lagi, karena sesungguhnya agama diturunkan agar kita berperilaku lebih manusiawi dan tidak menuruti nafsu hewani yang sudah menjadi fitrah. Kalau ingin dinilai berbeda dari hewan, maka bertindaklah manusiawi dan kendalikan fitrah hewanimu. Sayangnya sekarang, manusia cenderung lupa dan cenderung menuruti nafsu hewaninya tanpa lagi bertanya pada ruhnya, pada batiniahnya. Tidak terkecuali saya yang terus tergelincir sana sini, karena kadang di dunia modern, suara hati nurani itu entah kenapa teredam, makin kecil dan makin kecil. Butuh perhatian khusus untuk mendengarkannya, butuh perhatian khusus.

 

(1) http://kuliahnyata.blogspot.co.id/2013/07/konsep-fitrah-dalam-al-quran_8004.html

(2) Dawkins, Richard. 1989. The selfish gene. Oxford: Oxford University Press.

(3) https://muslimah.or.id/2416-nikmatnya-menuntut-ilmu-bagian-2.html

(4) Fleagle, John G. 2013. Primate adaptation and evolution. San Diego: Academic Press.

(5) Quran Surat An-Nisaa’ ayat 3

(6) “Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya, maka ia masuk surga.” (HR. At- Tirmidzi).

Seribu satu

1000_by_aveqiu1

Seribu

Sebuah kata yang menggambarkan jumlah yang banyak namun kuantitatif

Seribu

Gampang terucap namun kadang sulit untuk dijalankan

 

Bukankah Tuhan pernah menjanjikan sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan? Iming-iming yang begitu menjanjikan karena hampir tiada orang yang bisa hidup hingga seribu bulan.

Bukankah istri raja Syahrazan pun juga menyajikan setiap cerita hingga seribu malam agar sang suami beringasnya itu luluh hatinya? Suami yang selalu menebas kepala istri-istrinya terdahulu sebelum mereka kembali mencium hangatnya sang surya setelah malam pertama.

Bukankah Sadako Sasaki pun melipat seribu bangau kertas sebagai perlambang betapa banyak doa dan harapannya untuk sembuh? Hingga bangaunya menjadi sebuah simbol perdamaian dunia. Agar tiada lagi peperangan yang meluluhlantahkan manusia menggunakan senjata nista lagi pengecut yang memporakporandakan kemanusiaan.

Perasaan adalah hal yang tidak pernah terkuantifikasi. Sesuatu yang kadang bisa tertutupi oleh hati itu sendiri, termodifikasi oleh zat kimiawi, atau bahkan termatikan oleh bebalnya menanti.

 

Seribu perlambang kata banyak

Jika kucapai engkau seribu

Mungkin aku tahu perasaanku

Dan aku tidak lagi bimbang akan hatiku

 

Lampaui seribu maka akan terjadi suatu hal yang baik. Angka dibalik seribu itu, satu kesatuan yang tak terpisahkan dari jalannya kesempurnaan.

Musim panas membawa keceriaan semu
Ketika ia datang, ceria berpadu
Ketika ia pergi, ceria pun melayu
Membiarkan jeruk di depanku tak tersentuh

Musim panas membawa kau padaku
Sebagai seorang teman dan pembantu
Tak kuketahui ternyata kau pesaingku
Namun sekarang selayaknya dua menjadi satu

Bercerita engkau tentang seorang putri
Terpuja cantik lagi akhlaknya terpuji
Suaranya laksana nyanyian peri
Bagimu pecinta musik aku tahu sangat berarti

Kita bekerja selayaknya matahari tak pernah padam
Pagi muncul berganti sore dan bertandanglah malam
Hidupku bergantung pada melihat cahaya temaram
Jeruk itu kau sampaikan ke depanku yang awam

Jeruk itu pengganti matahari dan sebuah ciuman penenang
Seperti nama eloknya dalam bahasa negeri seberang
Setiap pagi jeruk itu menjadi penghibur hati yang tegang
Akibat jabatan terlalu tinggi yang tak pernah kupegang

Musim panas berakhir saatnya kembali ke kehidupan dingin
Jabatan tangan dan kecupan di pipi meninggalkan rasa masin
Aku tak akan pernah bertemu kau lagi di kesempatan lain
Kau berjanji bahwa maya pun bisa menjadi ajang menjalin

Putri selayaknya peri ternyata memberi titah
Padamu untuk selalu ada di sampingnya menatah
Sebuah hati yang ternyata ia siapkan mentah
Meninggalkanku tepekur mencari serpihan hati di tanah

Jeruk yang sudah kusiapkan akan kukirimkan
Pada tiap musim panas untuk mempererat hubungan
Ternyata hanya terdiam di depanku tak lagi bertuan
Jeruk dan musim panas sebuah hikayat yang tak berpasangan