Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2008

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khattab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tidak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah kata pun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Sang laki-laki pun bertanya pada Umar apa yang membuat dirinya yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya marah?

Umar menjawab, istrimu memiliki peran besar atas dirimu. Ia adalah penjagamu dari api neraka. Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora biar lepas, dan bukan azab yang kelak diterimanya. Ia justru mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Umar melanjutkan, istrimu juga pemelihara rumah dari pagi hingga sore saat suami bekerja. Suami selalu mengumpulkan harta dan tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini-beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga dan memelihara 24 jam tanpa bayaran, agar harta yang diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia. Adakah yang sudi menjaga hal demikian? Berapa pula ia mau dibayar. Pastinya, sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istri.

“Istri pula yang menjaga penampilan suami,” sambung Umar. Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaiannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang dan menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. “Maka tak mengapa mendengarnya berkeluh-kesah atas kecakapannya itu,” maklum Umar.

Laki-laki itu masih bersiteguh mendengar omongan Umar. Lalu, kata Umar, istri adalah pengasuh anak-anak. Suami meyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawatbenih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ, ia juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan san g tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan, lebih dulu suami yang maju ke depan mengaku, akulah yang membuatnya begitu. Baik-buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan, tak lepas dari sentuhan tangan istri. Umar paham benar akan hal ini.

Terakhir, ujar Umar, istri adalah penyedia hidangan. Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras setelah beraktivitas seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi, dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung sehingga sang istri harus piawai berdebat, menawar harga yang melebihi anggaran. Tak perlu suami pula memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang sehingga ia tak pusing memikirkan berapa takaran bumbu agar citarasa amat pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itu pun terkadang dengan jumlah berlebihan, meyisakan sedikit untuk istri si juru masak, tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Ia mencatat dalam memori, makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Maka untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa Umar mendengarkan segala keluh-kesah buah lelahnya. Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasihati dengan cara yang baik dan bercanda. Hingga terhindar pertumpahan ludah dan caci-maki tak terpuji.

Demi mendengar penjelasan sikap Umar terhadap istrinya yang mengomel, laki-laki itu pun mengurungkan niatnya melaporkan istrinya pada sang khalifah. Ia pulang dengan penuh rasa malu atas sikapnya yang jauh dari bijak.
Wallahua’lam

Iklan

Read Full Post »

Aku Selalu Lupa

Suatu pagi Amanda melahirkan anaknya yang pertama.
Setelah melahirkan amanda melihat anaknya yang cantik bersama suami dan Ibunya tercinta.
Amanda heran melihat anak yang dilahirkannya.
Anak itu berambut merah. Padahal ia dan suaminya sama2 berambut pirang.
“Bu, lihat kenapa anakku berambut merah? Padahal aku dan suamiku sama2 berambut pirang, ujar amanda pada sang Ibu.
“Lho? Ayahmu kan berambut merah, Amanda. Mungkin itu diturunkan dari ayahmu,”balas sang Ibu.
“Mana mungkin, Ma… Aku kan anak angkat…”
“Ah iya…Aku selalu lupa.”

Read Full Post »

Irlandia-
Di suatu malam di sebuah keluarga kecil yang tinggal di rumah sederhana.
Tinggalah seorang gadis dan kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya menganut agama tradisional daerah itu dan sangat patuh pada ajarannya.
Sang anak pun mengikutinya karena ajakan orang tuanya sampai suatu ketika ia bosan.

“Ayah! Ibu! Saya sudah tidak tahan dikekang terus menerus seperti ini. Saya tidak percaya pada agama yang bapak dan Ibu anut dan segala tetek bengek peraturannya. Saya ingin bebas. Saya ingin mencari kerja.” begitu teriakan si gadis kepada Ibu dan Bapaknya di suatu malam. Malam itu juga gadis itu pun langsung kabur dari rumahnya dan pergi ke kota.

Di kota sang anak pun mencari-cari pekerjaan namun tak kunjung mendapatkannya. Akhirnya karena telah putus asa bertahun-tahun mencari pekerjaan, ia menyerah dan menjajakan diri sebagai wanita tuna susila di suatu kota kecil. Kian lama gaya hidup sang anak makin jauh dari ajaran yang dulu pernah diberikan ibunya.

Sang Ibu yang bertahun-tahun tak kunjung mendengar berita dari anaknya pun mencari-cari sambil bertanya pada semua orang di manakah anaknya berada. Sampai suatu ketika ia mendengar kabar bahwa anaknya berada di kota kecil di sebelah timur. Sang Ibu pun membuat poster berisi foto dirinya dan tulisan “Pulanglah Nak, Ibu akan selalu menerima dan menyayangimu.” Sang Ibu meminta kepada orang2 di penjuru kota itu untuk menempelkan poster tersebut di setiap tempat.

Suatu malam sang anak sedang minum2 di bar karena tidak kunjung mendapatkan klien. Dalam keadaan setengah mabuk si anak melihat ke papan pengumuman. Dia memperhatikan poster yang dibuat ibunya. Gadis itu terkejut melihat poster itu. Mengapa foto ibunya bisa terpampang di situ? Ketika ia membaca tulisannya, spontan gadis itu menangis.

Malam berikutnya gadis tersebut pulang ke rumahnya. Dia melihat pintu rumahnya terbuka. Karena takut ada perampok yang telah masuk, gadis itu langsung masuk ke rumah dan mencari Ibunya. Dipeluknya Ibunya yang sedang mengambil air minum di dapur.

“Ibu, maafkan aku Bu. Maafkan aku sudah membuat Ibu khawatir. Maafkan aku sudah hidup seperti ini, tidak menjadi anak yang berbakti buat Ibu,” ujar sang anak sambil terisak-isak.

Sambil memeluk balik anaknya si Ibu hanya berkata lembut, “Kamu baik-baik saja kan Anakku? Ibu sudah memaafkanmu dari jauh2 hari.”

“Ibu, Ibu baik2 saja kan? Tidak ada yang melukai Ibu? Tadi aku melihat pintu depan terbuka? Apakah ada perampok yang masuk dan mengancam Ibu?” tanya si anak.

“Sejak kau pergi, pintu itu selalu terbuka bagimu….”

Anakku, ketika kau masih kecil
Dan hanya berjarak satu rengkuhan
Aku melindungimu dengan selimut
Melawan udara malam yang dingin

Tapi sekarang kau sudah besar
Dan di luar jangkauanku,
Aku hanya dapat menengadahkan tangan
Dan melindungimu dengan doa

Dona Maddux Copper

Read Full Post »

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.
Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Tampak dari raut mukanya putrinya bahwa ia sudah menunggu lama

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Sarah nunggu Papa pulang. Soalnya Sarah mau tanya berapa sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.
“Oke. Sarah boleh hitung sendiri.
Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-.
Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.
“Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, Sarah pintar. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak.
Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya,

“Papa, Sarah boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ?Papa capek. Papa mau mandi dulu. Tidur saja ya”.

“Tapi Papa…”
Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,

“Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa.
Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, Sarah enggak mau minta uang. Sarah cuma mau pinjam. Nanti Sarah kembalikan kalau Sarah sudah punya tabungan lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Sarah menunggu Papa dari jam 8. Sarah mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, Sarah mau ganti waktu Papa. Sarah buka celengan, cuma ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- buat setengah jam Sarah harus ganti Rp. 20.000,-.
Tapi duit tabungan Sarah ternyata kurang Rp.5.000, makanya Sarah mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.
Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Read Full Post »

Sangkar Emas

Di satu sudut jendela di sebuah apartemen yang indah
terdapat sebuah sangkar yang terbuat dari emas
Di dalamnya dapat kau lihat seekor burung berwarna merah cantik lagi menawan
Bulunya indah laksana sutra sang peri
Suaranya merdu bak dendang alam di senja hari
Perilakunya elok gemulai laksana seorang putri

Dari jauh dapat kau lihat betapa menawannya sang burung
Betapa eloknya kharisma yang dipancarkannya
Betapa inginnya kita menjadi dirinya
Begitu terawat, indah, lagi bahagia dalam sangkar yang juga tak kalah indahnya
Sangkar itu menjaganya….
Sangkar itu membingkainya…
Sehingga keindahannya terus terpancar dan makin indah dengan adanya si sangkar emas

Tapi, sang burung memiliki pemikiran yang berbeda
Dilihatnya burung gereja yang hinggap di atas dahan pohon dekat sudut jendela
Betapa nikmatnya menjadi si burung gereja
Mempunyai kesempatan terbang bebas
Menjangkau langit yang biru menawan
Menengok segala kegiatan manusia
Dan melihat indahnya alam dari atas sana
Karena yang selama ini ia lihat
hanyalah sebuah taman di bawah apartemennya
Taman buatan manusia
Di mana hanya ada beberapa manusia
yang melakukan rutinitas yang sama setiap harinya
Ingin rasanya terbang bebas
Ingin rasanya melihat dunia yang berbeda
Ingin rasanya lepas dari sangkar emas
yang terus membelenggu hingga penat tak terelakkan

Tiba suatu hari di mana kesempatan itu terwujud
Seekor kucing melompat masuk ke jendela terbuka
dan tanpa sengaja mendorong si sangkar emas jatuh
Pintu sangkar emas terbuka
Dan pikir sang burung inilah saatnya
Saat di mana kebebasannya dapat diraih
Saat di mana akhirnya dia bisa lepas dari sangkar emas yang terus mengekang
Maka terbanglah ia keluar sangkar

Di luar ia merasakan betapa nikmatnya angin yang bertiup
Betapa indahnya mengudara di langit biru
Betapa senangnya melihat aktivitas manusia mengarungi samudra hidup
Segala keindahan yang tiada pernah ia rasakan terwujud
Keindahan yang tidak ia rasakan dalam sangkar emasnya
Keindahan yang jadi pujaan dalam hatinya

Selang berapa lama turunlah hujan
Hujan rintik-rintik yang menyegarkan jiwa
Sang burung begitu senangnya merasakan kesegaran hujan
Merasakan percik-percik air membasahi raga
Namun tak lama alam mulai mengganas
Angin bertiup sangat kencang
Menghempaskan sang burung ke tanah
Hujan terlampau deras hingga seluruh bulunya basah tak dapat terbang
Petir menggelegar menyayat jiwa
Oh tuhan, apakah aku akan mati begini saja pikirnya

Selepas hujan sang burung terdiam
Dilihatnya bulu2 indahnya
Kini sudah terburai dan lepas tak beraturan
Dicobanya untuk berkicau
Tapi tak bisa
Suaranya telah hilang karena terus berteriak ketika petir menggelegar
Keindahan yang meliputinya telah hilang
Sang burung hanya terdiam di bawah semak
Tak tersadar ada bahaya di belakangnya
Seekor kucing siap menyergapnya
Nyaris terlahap, sang burung kembali terbang dengan kelelahan yang sangat
Karena sayapnya tak terlatih untuk terbang jauh
Karena badannya tidak kuat menghadapi dinginnya udara semalam
Sang burung kemudian terjatuh di atas atap apartemen
Apartemennya

Dilihatnya sangkar emasnya
Di dalamnya kini sudah ada penghuni baru
Seekor burung biru kecil yang lugu
Keindahannya begitu memukau hati
Suaranya yang merdu menenangkan jiwa
Ya, ia rindu sangkar emasnya
Ia ingin kembali ke sana
Mendapatkan perawatan terbaik dan keindahan
Sama seperti yang sekarang ia lihat
untuk sang penghuni baru
di luar sangkar emasnya yang dulu

Read Full Post »

Suatu ketika seorang raja sedang galau memikirkan nasib rakyatnya
Betapa buruknya kerajaan yang sekarang ia pimpin
Rakyatnya berakhlak buruk lagi tiada mau bekerja keras
Walhasil, ekonomi kerajaan melemah dan daya tahan kerajaan pun tidak ada
Rakyat cenderung berperang satu sama lain ketimbang membela kerajaan sendiri
Segala cara telah dilakukan, berbagai kebijakan sudah dibuat
Namun apa daya, tak satu pun mampu mengubah keadaan rakyat
Saling menipu, berperang dan kekerasan terus berlangsung hari demi hari

Kegalauan hati sang raja tertangkap oleh sang penasehat kerajaan
Abdi kerajaan yang setia lagi bijaksana ini menghampiri sang raja
Tanpa diduga, Abdi nan setia ini ternyata mengajak sang raja berkeliling
Diajaknya sang raja ke sebuah pekuburan tua di kaki bukit
Mereka menuju ke satu makam yang terletak di tepi tebing
Sang raja tak habis pikir untuk apa dirinya di bawa ke tempat seperti ini
Ketika mereka berhenti, raja membaca tulisan yang terpatri di atas nisan
Yang dimakamkan di sana bukanlah pahlawan, bukan pula keturunan kerajaan
Bukanlah leluhur tersohor dan bukan pula seorang penyair kenamaan
Namun tulisan di nisan tersebut mengambarkan satu pelajaran dalam hidupnya

“Ketika saya masih anak-anak, saya ingin mengubah dunia menjadi lebih baik.
Namun ketika menginjak remaja, saya tersadar bahwa saya tidak mungkin mengubah dunia.
Maka saya ingin mengubah negara saya.
Ketika saya dewasa, saya tersadar bahwa saya tidak mungkin mengubah negara saya.
Maka saya ingin mengubah komunitas sekitar saya.
Ketika saya umur paruh baya, saya tersadar saya tidak mungkin mengubah komunitas saya.
Maka saya ingin mengubah keluarga saya.
Ketika saya telah berusia senja saya baru tersadar, bahwa saya tidak akan mungkin mengubah keluarga saya.
Maka saya ingin mengubah diri saya sendiri.
Seandainya saya dulu ketika anak-anak bisa mengubah diri saya sendiri terlebih dahulu,mungkin saat ini saya sudah mengubah keluarga saya, komunitas saya, negara saya atau bahkan dunia menjadi lebih baik.”

Hati raja tersentuh membaca nisan tersebut.
Ya, mungkin rakyatnya akan berubah jika ia mau mengubah dirinya sendiri terlebih dahulu.
Memberikan teladan yang baik, menanamkan kepercayaan rakyat pada dirinya, dan memberi kebijakan-kebijakan yang bermanfaat bagi rakyat.
Lebih mementingkan rakyat sehingga rakyat sendiri mau berkorban lebih banyak bagi kerajaan dan bagi sesamanya.
Dan perubahan itu tidak bisa ditunda lagi.
Tidak bisa menunggu tahun depan, sebulan lagi, esok hari, atau bahkan sedetik lagi.

Mulai dari diri sendiri
Mulai dari hal-hal yang kecil
Mulai dari SEKARANG

Read Full Post »

Sadarkah engkau?

Kadang engkau tak sadar, engkau telah berjalan terlampau cepat
Kadang engkau tak sadar, bahwa kau tak pernah sekalipun menengok ke belakang

Padahal mungkin di belakangmu ada seseorang
yang berjalan cepat mengikutimu
mencoba melawan diri yang mempunyai cara tersendiri
melampaui hidup dengan berjalan lebih lambat
engkau tidak tahu seberapa besar usaha yang telah ia lakukan
untuk menyamakan langkahnya dengan langkahmu
dan tanpa sadar
ia telah menjadi terbiasa berjalan cepat mengikutimu

Tapi sadarkah engkau akan kehadirannya
mungkin tidak
karena engkau tidak pernah coba untuk menengok ke belakang
kepada orang yang telah terbiasa mengikuti langkahmu
untuk mencoba berjalan melampaui jalan ini bersisian denganmu

Pernahkah engkau menyadari
mencoba sekali saja untuk menengok ke belakang
tidakkah engkau mengerti bahwa suatu saat orang itu bisa saja lelah
orang itu bisa saja putus asa
untuk terus berjalan cepat melawan kebiasaannya
hanya untuk berjalan bersisian denganmu

Cobalah menengok ke belakang sekarang
mungkin saja ia masih ada di belakangmu
berjalan cepat mengikutimu
jangan engkau tunda lagi
berhentilah dan lihat ke belakang
Apabila engkau tidak menengok ke belakang untuk melihat sekarang
engkau akan terus berjalan cepat dan mencari
dan tidak tahu bahwa mungkin
orang yang selama ini kau cari
adalah ia yang mengejarmu
ketika saat itu kau tersadar dan menengok ke belakang
kau baru tersadar kau telah kehilangan sesuatu yang berharga

Read Full Post »

Older Posts »