Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2011

 

Sekali lagi kuteringat hari itu

Hari ketika sayapku tercabik

Hari ketika kakiku berlumur darah

Hari ketika hati tiada lagi merasa

Hari ketika aku meronta menghindari raga

 

Sakitnya ranting menusuk tulang sayap

Lilitan liana menguliti bulu terbang

Jeratan jala mengekang dada

Jebakan baja mengurung pandang

Sungguh tiada ada kelam yang lebih nista

 

Semburat cahaya menerpa sayap patah

Jerami basah menambah dinginnya malam

Kutengadahkan kepala mengintip asal cahaya

Bulan purnama begitu indah bersinar menenangkan

Mengobati sakit raga dan jiwa dalam perjalanan panjang

 

Lapar

Tidak hanya raga tapi juga batin berteriak memohon asa

Setelah sekian lama akhirnya aku merasa terdampar

Terlempar dan terdorong dalam sudut sempit ruangan

Terguncang keras bagai sampan yang terhanyut ombak

 

Satu derakan keras mengakhiri segalanya

Seulur tangan membuka pintu kebebasan

Tanpa daya aku tak lagi menghindar dari genggamannya

Mengingat sayap patah dan memori yang melingkupinya

Pasrah tanpa daya aku menyerahkan diri dalam pelukannya

 

Sejak itu kumulai hidup baru sebagai pesakitan

Hidup dalam kotak kaca penuh asupan mujarab

Dibawa keluar setiap senja untuk pemeriksaan

Dimasukkan jarum dan diganti perban demi pengobatan

Sembari melihat bulan purnama yang sama dalam luas

 

Kubentangkan dua sayapku lebar-lebar

Kulihat bulu indah berbaris rapi laksana barikade perang

Aku dikeliingi angsa hitam lain yang tak kalah anggunnya

Yang takjub melihat betapa luas kubentangkan sayap

Kadang tinggal dalam kotak kaca membuat pertumbuhan melambat

 

Hari lain yang tak akan pernah aku lupa

Hari ketika aku dan angsa lainnya dilepas ke sebuah danau indah

Airnya kemilau bagai berlian memantulkan mentari senja

Ketika malam datang bintang bertaburan laksana permata

Ketika pagi datang semburat sinar mentari membangunkan embun bak intan

 

Tertatih-tatih kucoba berlari dengan kaki yang masih lemah

Mencoba kembali mengepakkan kaki di atas permukaan berlian indah

Sekali lagi mengembangkan sayapku setinggi-tingginya

Udara yang kuhirup dahulu di kala suram kembali membanjiri dada

Tapi kali ini terasa begitu manis dan mendamaikan jiwa

 

Suatu hari aku menemukan angsa hitam seukuranku

Terdiam termenung di satu sisi kelam danau indahku

Sinar mentari memancar dari sela ranting pinus

Membuat segaranya nampak keemasan bias padu

Bulu hitamnya pun indah laksana mutiara hitam berkilau

 

Sang angsa datang menghampiriku melihat mengamati

Paruh merahnya memainkan air danau membuatku terpercik

Kubalas dengan anggukan dalam sembari mengagumi

Ia berenang mengitariku sembari menunjukkan mata jeli

Dibawah taburan bintang memintaku mengikuti

 

Sungguh sedih ada di sudut indah itu sendiri

Indah tapi kurasakan begitu sepi merintih

Tiap kali taburan bintang menyinari kucoba mengunjungi

Mencoba menghibur hati yang sepi

Tanpa sadar bahwa hati yang sepi ada pada diri

 

Suatu pagi aku terbangun dengan air mata bergulir

Bahwa ternyata pesakitan telah menjadi dewi

Hati yang dulu menjerit kini telah menengguk harum surgawi

Mata yang dulu terhimpit kini memandang indah segara murni

Sayap yang dulu terjepit kini melanglang buana mengarungi langit

 

Ketika aku mulai mengepakkan sayap menuju buana

Aku merasakan sayapku diterjang dari belakang

Terpekik ku melihat warna merah berpadu bulu hitam

Aku terhempas membentur permukaan segara

Sayapku sakit bulu-bulu hitamku berhamburan

 

Apakah gerangan yang menerjangku tadi

Luka lama yang telah tertutup dan terjahit rapi

Kini membuka lebar bersimbah darah lagi

Aku tertunduk menatap sayap patah nan nyeri

Menangisi kelemahan dan ketakberdayaan diri

 

Empat ekor angsa bergerak ke arahku

Ah sang angsa dengan bulu bak mutiara hitam itu

Dibelakangnya kulihat memori buruk

Sayatan di paruh merah pada angsa hitam lain itu

Membawaku pada masa kelamku dahulu, masa nerakaku

 

Kala itu ketika aku menginjak tanah segara kali pertama

Ketika diriku begitu gembira melihat indahnya gemerlap

Aku bertemu seekor angsa lain, angsa Australia

Ia lebih kecil dariku tapi jauh lebih kuat

Dia membimbingku, mengajari ilmu untuk bertahan

 

Kala itu seekor angsa dengan sayatan di paruh menerjangku

Sama dengan hari ini, hingga aku berdarah dan patah sayapku

Ia angsa New Zealand sama sepertiku

Bercengkrama dengan angsa Australia adalah nista buatku

Makian, luka dan darah ia pakai agar jera diriku

 

Aku berlari menghindari luka

Berlari dengan sayap yang telah patah sebelah

Mencoba terbang menerjang ranting dan belukar

Dalam kejaran seekor angsa penjagal

Berakhir dalam jala pemburu berhati biadab

 

Kupandang angsa yang kukagumi dengan penuh harap

Mengharap mimpi burukku tidak pernah terulang

Kulihat tatapan mata jeli yang sama ketika kami berdansa

Tersentak kulihat darah menempel di leher sang angsa pujaan

Sebuah kewajiban aku tahu untuk mencegah kami punah

 

Aku tertunduk terdiam bisu dalam kelam hati

Memandang sayap patah mengeluarkan darah tiada henti

Ternyata mata jua meneteskan buliran nelangsa tiada henti

Sudah cukup aku menjalani mimpi buruk sekali

Hanya ingin menjadi selayaknya angsa terbang membawa diri

 

Gerombolan angsa jenisku itu lantas meminta izin dalam diam

Berenang pelan menuju tempat yang tak kutahu kemana

Meninggalkanku terdiam dalam gelapnya malam tanpa bintang

Semburat cahaya purnama membuat warna merah berpendar

Menungguku mengharap artemis kan datang menjemput menuju cygna

 

Read Full Post »