Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2011

Mungkin anda agak sedikit bingung tentang apa kaitan dari kedua tempat di atas, Pulau Komodo dan Kepulauan Galápagos. Bagi anda yang belajar tentang ekologi, anda mungkin akan sangat ingat dengan Darwinian finches dan evolusi radiatifnya yang merupakan hasil observasi di Kepulauan Galápagos yang sekarang menjadi bagian dari Equador, Amerika Selatan. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi di Pulau Komodo dengan berbasis kepada studi kasus di Kepulauan Galápagos. Saat ini saya sedang belajar mengenai konservasi dan biodiversitas dari seorang ahli biologi konservasi yang berkecimpung puluhan tahun di Galápagos. Sekadar share ilmu yang saya dapat dari beliau dan sedikit opini tentang Pulau Komodo karena jujur saja saya sendiri belum pernah datang ke sana dan melihat sendiri kondisi lapangan di Pulau Komodo.

Kepulauan Galápagos terletak di tengah Samudra Atlantik dan berjarak 972 km dari dataran utama Equador. Awalnya tidak ada orang yang tau mengenai betapa kayanya biodiversitas di Kepulauan tersebut sampai Charles Darwin menerbitkan bukunya The Origin of Species yang membahas dalam tentang perjalanannya keliling dunia termasuk di dalamnya kekayaan alam di Kepulauan Galápagos. Kepulauan Galápagos memiliki letak yang sangat strategis untuk berkembangnya berbagai macam biodiversitas dikarenakan erupsi vulcanik yang terus menerus di daratannya dan juga bertemunya tiga arus laut yang berbeda di perairannya.

Kekayaan alam yang sangat tinggi dan jinaknya spesies yang ada di sana membuat Kepulauan Galápagos sangat menarik untuk ‘dieksploitasi’. Pada awalnya penduduk lokal mulai mengeksploitasi dan menjual berbagai satwa yang dianggap menguntungkan ke Amerika Selatan dan sekitarnya. Karena eksploitasi ini akan membawa dampak buruk bagi ekosistem endemik di sana, maka akhirnya ketimbang menjual apa yang ada di sana, strategi diganti menjadi ecotourism di mana berita disebar mengenai kekayaan alam Kepulauan Galápagos dan mengundang turis untuk datang berkunjung. Idenya adalah Take nothing with you but photograph and leave nothing behind you but footprints, tidak mengambil apapun kecuali foto dan tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki. Ide ini sangat menarik dikarenakan setelah adanya turis yang berdatangan akhirnya eksploitasi di Kepulauan Galápagos pun menurun dan penduduk lokal mengubah kapal-kapalnya menjadi kapal-kapal turis untuk mengantarkan turis dari dataran utama ke Galápagos. Para pemandu wisatanya kebanyakan adalah para ahli konservasi dan ekologi yang mengerti tentang kekayaan alam di Kepualuan Galápagos. Selain menjadi sarana wisata, Galápagos pun menjadi sarana edukasi bagi para turis.

Cerita tidak berhenti sampai di situ. Awalnya, wisata ke Galápagos disediakan oleh kapal pesiar yang dapat menampung puluhan orang dan menfasilitasi makanan serta pembuangan sendiri. Semua persediaan makanan dibawa dari dataran utama ke kapal, sampah tetap berada di kapal dan nanti akan dibawa pulang ke daratan utama. Mengingat adanya turis dengan dana minim akhirnya penduduk lokal pun mengubah kapal-kapal penangkap ikan mereka menjadi kapal-kapal turis untuk mendapatkan uang lebih banyak. Karena Equador adalah negara berkembang maka banyak dari penduduk di daratan utama akhirnya melakukan emigrasi ke Galápagos. Mereka mulai membangun rumah dan penginapan di sana yang akhirnya membawa masalah akan datangnya spesies baru dari dataran utama dan juga masalah pembuangan air kotor dan sampah. Hal-hal tersebut sangat membahayakan bagi kekayaan alam di Galápagos. Apalagi seperti yang saya sebutkan bahwa spesies di sana sangat jinak, banyak dari hewan-hewan tersebut tidak mengenal bahaya akan mobil yang berseliweran atau bahaya dari anjing yang dimiliki oleh penduduk lokal.

Yang lebih detrimental lagi adalah ketika eksploitasi akhirnya dimulai lagi. Karena adanya penginapan dan restaurant di Galápagos mereka akhirnya mulai memasak makanan lokal yang bahannya tidak lain tidak bukan adalah satwa sekitar. Banyak kapal-kapal ilegal pun berdatangan untuk mengambil kekayaan alam yang ada. Eksploitasi lobster, teripang, testis singa laut, sampai eksploitasi sirip hiu banyak ditemukan dan kebanyakan datangnya bukan dari penduduk lokal melainkan dari benua lain. Pada tahun 2007 UNESCO mengkategorikan Galápagos sebagai salah satu dalam List of World Heritage in Danger dan mulai membenahi kerusakan-kerusakan yang terjadi di Galápagos. Progres yang terjadi berjalan cukup baik dan pada tanggal 29 July 2010 Galápagos tidak lagi menyandang gelar List of World Heritage in Danger.

Mengenai pro dan kontra akan Pulau Komodo menjadi 7 Wonders of Nature, pandangan saya adalah :

  • Sama halnya seperti Equador, Indonesia butuh peningkatan taraf hidup dan ekonomi masyarakatnya. Terkenalnya Pulau Komodo akan membawa devisa pada negara dan kemungkinan turis asing untuk melirik Indonesia sebagai tujuan pariwisata terutama ecotourism menjadi besar.  Sepengetahuan saya, sedikit sekali pengetahuan masyarakat asing tentang Indonesia dan kekayaan alamnya. Ketimbang dieksploitasi kayu atau kekayaan tambangnya, saya rasa menyebarkan keberagaman biodiversitas dan mengembangkan ecotourism akan jauh lebih baik. Banyak kesadaran dari luar (terutama UNESCO) yang nantinya akan membantu pemerintah kita dalam managementnya jika dirasa kekayaan alam di Pulau Komodo sangat penting. Anda tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Galápagos juga seandainya tidak pernah ada inisiasi ecotourism di sana. Mungkin efek yang terjadi akan lebih detrimental.
  • Berbeda dengan Kepulauan Galápagos yang memiliki luas area sangat besar, 7.880 km2 daratan yang terdiri dari 18 pulau utama dan tersebar di perairan seluas 45.000 km2. Pulau Komodo memiliki luas 1917 km2 dan diapit oleh banyak pulau di sekelilingnya sehingga managementnya lebih mudah. Penginapan turis dan restaurant bisa dibangun di pulau-pulau sekeliling  yang jaraknya dekat. Jarak antara Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya cukup memungkinkan untuk diadakannya Day Tour, perjalanan pulang-pergi dalam sehari. Dibandingkan dengan Galápagos yang perjalanan kapal butuh waktu 8 jam, Pulau Komodo memiliki keuntungan dengan adanya pulau-pulau di sekitarnya dan kerusakan akan adanya hunian manusia di sana dapat diminimalisir.
  • Perbedaan spesies yang dilindungi juga membawa efek besar. Spesies yang dilindungi di Galápagos kebanyakan adalah spesies tidak berbahaya dan jinak. Komodo adalah karnivora yang memakan binatang lain. Gigitan Komodo dapat membawa kematian dikarenakan bakteri yang hidup dalam air liurnya. Selain itu, komodo kurang bernilai ekonomi melainkan dari pembuatan taxidermy atau awetan komodo untuk dipajang. Ini satu hal yang perlu diawasi juga oleh management Pulau Komodo nantinya. Pengecekan rutin dan berkala perlu diadakan untuk mencegah adanya penyelundupan Komodo ke luar pulau. Kerjasama dari management dan kesadaran dari masyarakat sekitar benar-benar sangat diperlukan akan hal ini. Edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai pentingnya keberadaan komodo di pulau tersebut perlu ditekankan. Karena pada dasarnya ketika dihitung-hitung, pemasukan dari ecotourism sendiri akan jauh lebih besar ketimbang menjual komodo satuan kepada pihak luar.

Kesimpulannya adalah mari dukung ecotourism Indonesia, tingkatkan kesadaran masyarakat akan kekayaan biodiversitas yang kita miliki dan mari Vote untuk Pulau Komodo menjadi 7Wonders of Nature. Untuk Pulau Komodo dan masyarakat sekitar pada khususnya dan untuk pariwisata Indonesia pada umumnya. 😀

Iklan

Read Full Post »