Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2012

Sunyi

Orang-orang bergantian melewati diriku. Ah orang itu, sedari tadi menatapi layar komputer di depannya. Cantik lagi anggun. Kuamati dia menyibakkan rambutnya selayaknya putri. Lucu perangainya. Baju putih yang dipakainya berpadu anggun dengan rok jeans panjang berkibar.

Kuberanjak dari tempat dudukku. Berdiri di sebelahnya. Dia melihat kearah diriku, tersenyum. Senyumannya bagai membiusku. Aku balas senyumannya penuh arti dan mencari kembali buku yang ingin aku pelajari dari katalog perpustakaan.

Keesokannya, aku datang kembali ke perpustakaan. Sang putri juga ada di sana, sedang mengambil buku yang juga ingin aku pelajari. Wiliam Butler Yeats. Orang ini juga punya selera yang tinggi untuk sastra inggris. Aku, sarjana sastra Inggris, mungkin bisa menarik hatinya dengan tulisan-tulisanku.

Kutuliskan sebuah sajak di notesku dan menaruh di atas tumpukan buku yang ia pegang. Ia tersenyum dan gembira sembari tersipu menatapku, ia pun membalas senyuman kembali seperti sebelumnya dan berlalu pergi sambil membawa tumpukan bukunya.

Aku tidak menyerah tentu saja dan kembali lagi keesokan harinya. Setelah berkeliling, kutemukan ia ada di depan sebuah mejanya bersama dengan laptopnya. Tampak sibuk dengan laptop dan buku-buku yang disekelilingnya, aku tak tega menghampirinya. Hanya memandangnya dari jauh sungguh membahagiakanku. Kerut dahinya ketika berpikir keras. Kebiasaannya menggigit bibirnya di kala sedang bimbang. Yang lebih membuatku terpana adalah ketika dia memandang dengan senyum jauh ke arah jendela ketika mencari inspirasi.

Sebulan ini aku menghabiskan waktuku setidaknya tiga hari di perpustakaan setiap minggunya. Hanya untuk mencari sang pujaan hati dan memandangnya dari kejauhan. Tak ada salahnya sembari menulis tesisku yang tak kunjung selesai sekaligus mencari buku-buku referensi baru di perpustakaan. Minat bacaannya yang sama dengan diriku membuatku tidak sulit menemukannya kembali di perpustakaan nasional yang bukan main luasnya ini.

Terkadang, aku menyelipkan sebuah sajak di balik tumpukan buku-bukunya. Aku mengamati dari jauh setiap kali ia membuka sajak-sajak yang kutulis. Aku tahu terkadang dia mencariku setelah membaca sajak dariku. Terkadang ia menemukanku dan tersenyum lucu padaku sambil menunjuk kertas coklat bergaris merah itu. Terkadang ia tak menemukanku dan hanya tersenyum kecil sendiri sambil melipat kertas coklat itu rapih.

Suatu hari tanpa sadar aku kembali bertemu dengannya di depan rak buku. Bertubrukan bisa dikatakan. Aku terburu-buru mencari satu buku referensi yang hendak aku tunjukkan kepada siswa didikanku. Ia terjatuh dan meringis. Dia tidak berteriak hanya memejamkan matanya. Sesaat kemudian ia melihatku dan tersenyum lagi. Aku membantunya berdiri dan dibalasnya dengan anggukan malu untuk kemudian pergi meninggalkanku. Ah, sungguh bidadari yang sangat pemalu.

Hari ini aku coba memberanikan diri untuk menemui ia secara langsung. Kucing-kucingan memang menyenangkan tapi ingin sekali aku mencoba lebih dekat dengan sang pujaan hati. Aku duduk di sebelah tas yang ia tinggalkan sementara untuk makan siang. Berbekal bunga setangkai yang kubeli mendadak sebelum datang ke perpustakaan tadi, aku menunggunya selesai makan siang.

Selang beberapa menit kemudian, ia datang. Ia tersentak dan menutup mulutnya. Aku mempersilahkannya duduk di sebelahku. Ia pun duduk dan menatapku panik. Aku tersenyum untuk membuatnya nyaman. Dengan penuh kepanikan ia mengambil satu buku dan membuka buku tersebut, mencoba membaca. Dengan lembut, aku ambil buku di tangannya, menutupnya dan menaruhnya di depanku. Aku tersenyum lagi dan mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dan berkenalan.

Dengan ragu, ia membalas jabatan tanganku dan menatapku lekat-lekat. Aku sebutkan namaku tapi ia tidak membalas. Hanya menatapku tajam dan kemudian mengangguk lagi. Aku bingung dan mencoba cara lain. Aku tulis nomor telponku di selembar kertas coklat dan memberikannya tapi ia menggeleng. Ia tidak mau menerima nomor telponku.

Setelah ragu-ragu beberapa saat akhirnya ia memutuskan mengambil pena dan menulis sesuatu dibalik kertas berisi nomor telponku. Aku tersenyum melihat isinya dan mulai mengeluarkan bukuku untuk berbicara dengannya. Akhirnya, kami pun saling mengenal.

***

Hari ini seperti hari-hari biasanya, aku datang ke perpustakaan. Aku melihat sang bidadari dan mendatanginya. Aku berikan isyarat cukup untuk mengajaknya makan bersama ketika waktu makan siang. Hari ini aku akan memberikannya kejutan, sebuah lamaran dalam sunyi.

Iklan

Read Full Post »

Hanya Dalam Hatimu

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kala itu jariku dan jemarimu bertaut dibawah bintang kemilau

Ketika hangatnya diriku meresap dalam dirimu

Dan dinginnya hatimu melunakkan jiwaku

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kala itu kau dekap diriku penuh sayang nan lembut

Ketika kesedihan hatiku mulai surut karenamu

Dan kehadiranku menenangkan gundahnya jiwamu

 

Bermimpikah diriku? Karena kadang aku terjaga

Kala itu kuputuskan mengucapkan rasa cinta dalam dada

Kau tepis dengan candaan dan tawa

Bahwa dirimu hanya kekanakan dan takkan pernah dewasa

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kala itu kau ajak aku berlarian mengejar rembulan di tengah mendung

Ketika kegembiraan mulai menyesap dalam kalbu

Dan kita berdua menikmati kehadiran insan penghapus sendu

 

Bermimpikah diriku? Karena kadang aku terjaga

Kala itu aku datang kepadamu atas panggilan spesial

Kau tepis kegembiraanku dengan sebuah rasa bersalah

Bahwa dirimu dan diriku telah melakukan sebuah dosa besar

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kabar berlayangan terbang melewati samudra dan teluk

Jarak tak menjauhkan sebaliknya menumbuhkan rindu

Dan engkau seakan lupa bahwa pernah menepis diriku

 

Mimpikah aku selama ini? Bermimpikah diriku?

Kemarin kau menjemputku dengan sebuah pelukan rindu

Berbicara dengan tenang dan mendengarkan kisahku

Seolah suaraku adalah hal terindah dalam hidupmu

 

Bermimpikah diriku? Karena kadang aku terjaga

Tak ada memoar, Tak ada koneksi khusus

Semuanya terpencar acak tanpa benang jelujur

Seperti pintamu, semua hanya dalam hatimu

Read Full Post »