Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2012

Panah Artemis

 

Suatu hari Artemis pernah menitipkan padaku sebuah panah yang cantik terbuat dari emas. Panah indah yang kuterima dengan tangan terbuka. Indah, cantik lagi berkilau penuh kehormatan. Artemis berkata padaku, “Jaga panah ini baik-baik. Suatu hari ia akan menolongmu dari bencana yang sangat menyakitkan.”  Aku mengiyakan dan artemis pun berbalik pergi menuju purnama sembari berkendara kijang. Panah yang kuterima mengambang di atas tanganku dan tengggelam masuk ke dalam lengan kiriku. Kemudian aku terbangun di pinggir sungai di dekat rumah.

Kejadian itu terjadi sepuluh tahun silam ketika aku masih gadis kecil. Kini aku seorang penjaga taman sekaligus merangkap tukang kebun di halaman seorang saudagar kaya. Kadang sembari mengurus bunga aku sendiri sering bermimpi untuk kembali bertemu artemis dan memintanya membawaku ke bulan. Sungguh pekerjaan merapihkan taman seluas hamper satu hektar ini rasanya mengerikan. Harus lari ke sungai untuk mengambil air, menyirami seluruh kebun, memangkas dedaunan yang berantakan, fuh, pekerjaan yang tidak sederhana.

Ada dua hal yang membuatku benar-benar bertahan melakukan pekerjaan ini. Satu, aku tidak memiliki satu keluargapun yang mampu membiayai hidupku. Yang kedua adalah sepupu keluarga majikanku yang sangat tampan. Sebulan dua kali paling tidak dia datang untuk mampir. Entah aku bermimpi atau tidak tapi satu dari dua kunjungan itu, sang pria tampan selalu datang untuk menemuiku di malam hari, di saat bulan purnama.

Aku tidak percaya akan Artemis yang kulihat sepuluh tahun  lalu di mimpiku, tapi lelaki ini membuatku percaya. Tepat di bawah sinar rembulan lelaki ini akan berubah sifatnya padaku. Lembut, sopan, ramah dan penuh kehangatan. Aku yang sebatang kara tidak memiliki saudara sangat senang menerima perhatian yang bukan main kepalang dari pujaan hatiku ini. Kadang kami hanya saling bertukar pendapat di bawah sinar rembulan. Kadang kami bersenda gurau penuh tawa. Tidak ada yang pernah tahu hubungan kami, kecuali aku, dia dan Artemis.

Di siang hari, perilakunya sungguh seperti seorang berpendidikan yang penuh kebijaksanaan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan teruntai tali kebangsawanan dan etika. Penuh logika dan juga sangat masuk di akal. Sungguh berbeda ketika ia dipayungi Artemis, penuh romatisme bagaikan seorang pujangga nakal. Membayangkan bisa bercengkrama dengan seorang bangsawan sudah sebuah dosa bagiku. Tapi, entah kenapa aku begitu ingin terus ada di dekatnya, mengulang setiap kejadian yang direkam Artemis di bawah cahayanya.

Majikanku memiliki seorang anak perempuan seumurku. Seorang gadis cantik nan rupawan lagi berpendidikan. Awalnya aku sangat iri pada dirinya dengan segala kecantikan dan harta kekayaannya. Namun, aku sadar, uang tak sanggup membeli kebahagiaan. Aku yang tiap malam bulan purnama akan selalu menunggu sang pujaan untuk berkunjung ke taman dengan penuh kebahagiaan. Seperti kebalikannya sang putri ini terkadang malah melamun di ujung balkon sambil melihat bintang-bintang. Kesepian tanpa teman.

Hari itu, malam bulan purnama lagi. Aku duduk di bangku di belakang pohon Elm tempat kami biasa bertemu. Sang pujaan hati datang berbalut kostum romantisme dan kemesraan. Kami bercanda lagi di bawah naungan malam, sampai tiba-tiba sang putri datang. Aku terkejut melhatnya. Ia berteriak dan menamparku. Membawa sang pangeranku pergi dengan paksa dan meninggalkanku terpuruk di tengah taman.

Keesokan harinya aku menyadari. Sang pangeran datang setiap dua bulan sekali bukan dengan tanpa maksud. Ia datang untuk mengenal lebih lanjut calon istrinya yang adalah sepupunya sendiri. Mereka akan melanjutkan kepada jenjang pernikahan. Aku mempelajari ini setelah majikanku meminta menata taman dengan dekorasi pernikahan. Dengan penuh kesabaran aku mencoba menerima pekerjaan itu sambil menahan air mata agar tak terjatuh ke gaun usangku.

Hari itu, bulan purnama. Aku datang lagi ke taman dan menghadap pada Artemis. Menunggu, menunggu sang pangeranku datang lagi. Sampai menjelang dini hari dia tidak datang. Aku tahu dia tidak akan datang tapi terus menunggu. Tiga hari waktu bulan purnama dan aku terus menunggu. Setiap malamnya, masih di bangku yang sama di bawah pohon Elm.

Ini sudah tahun ketiga dan aku sudah tidak tahan. Aku baru tersadar bahwa menunggunya sama seperti menunggu Artemis turun. Tidak tahu kapan akan datang atau akankah datang atau tidak. Teringat akan panah di lenganku aku pun menghadap pada Artemis di bawah cahayanya. Wahai Artemis, jika menunggunya adalah sama dengan kemuliaanku menunggumu maka aku ingin mencabut panah yang ada di lenganku. Karena bertemu dengannya adalah satu-satunya obat bagiku, maka pertemuan denganmu bisa kuanggap sebuah pembayaran yang sama.

Seperti mendengar doaku panah Artemis keluar dari tanganku. Panah ini, panah yang sama yang dipakai Artemis untuk berburu kijang untuk mencari makan. Sama seperti diriku yang berusaha sebisa mungkin mengais kebun untuk emas. Panah ini, panah yang sama yang dipakai Artemis untuk membunuh Chione yang merasa lebih cantik darinya. Seperti halnya diriku yang merasa lebih mulia dari sang putri dan keanggunan Artemis. Panah ini, panah yang sama yag dipakai untuk membunuh anak Niobe untuk memberinya pelajaran. Sama seperti diriku yang butuh pelajaran untuk menghentikan nafsuku.

Beberapa detik kemudian, yang kusadari panah itu sudah menghujam di jantungku. Baju putih usangku sudah berlumur darah dan aku merasa seperti terangkat. Artemis menjemputku dan membawaku berjalan di atas cahaya rembulan. Aku berkata kepadanya, “Terima kasih dewi, kau menyelamatkanku dari bencana yang lebih menyakitkan daripada menunggu rembulan.”

Iklan

Read Full Post »

Sayap Debu

Kupandangi tiap juntaian bulu yang tersusun rapi

Bagai utusan raja langit menemani terbitnya hari

Kukepak indah gumpalan awan menyelimuti diri

Sejuk namun hangat membelai damainya hati

 

Di atas sana kulihat mega berarak mendung bergulir

Birunya langit indah mewarnai singgasana terukir

Gelaran pelangi bagaikan sungai bintang yang tersisir

Bentangan pandang bagai menutup jalannya alat pikir

 

Kulihat seorang lagi diujung cakrawala pudar

Di tengah horizon berdiri bagai biola tanpa senar

Kulihat dibelakangnya sayap agung nan besar

Tak ayal lagi betapa putih sucinya memantulkan sinar

 

Semakin lama kurasakan tubuhku terjatuh

Indahnya langit semakin lama semakin menjauh

Bagaikan kapal yang kehilangan sepasang sauh

Sayap indah yang membawaku sepasang luluh

 

Tak ada yang bisa dipinta dan meminta

Mataku terpejam mencari asa tersisa

Meskipun tau kelak mungkin tiada lagi raga

Harapan kuharap tak akan pudar dari jiwa

 

Sekali lagi kucoba bayangkan muasal daya terbang

Menjemput senyum gundah pun menghilang

Meskipun kecepatan tanpa batas mengganti layang

Kebahagiaan bisa datang tanpa adanya pandang

 

Sayapku hanyalah terbuat dari debu

Bukan dari bulu angsa selembut beledu

Bukan dengan ikatan kuat setangguh batu

Hanya sebuah rajutan penuh harapan sendu

 

Tanpa gravitasi aku terus melaju turun

Seakan merobek kulit menghujam jantung

Tekanan besar menghantam beruntun

Kumuntahkan asa bagai mawar terpasung

 

Sekali lagi kupejamkan mata sebisa mungkin

Mencoba menggapai semua asa yang mungkin

Selamat hanya ide tapi bukannya tidak mungkin

Mencoba membayangkan segala hal yang mungkin

 

Mimpi ah mimpi aku kembali kepadamu

Sama seperti ketika aku dulu memujamu

Tolong bawa aku ke setiap indahnya duniamu

Meninggalkan raga menuju tenangnya hatimu

Read Full Post »

Serpihan Mimpi

Duka menyesak dada seketika

Buliran air mata tak kunjung mereda

Entah kekuatan apa yang menghimpit jiwa

Memaksa emosi terbakar dan keluar tanpa sebab nyata

 

Kali ini sebuah memori merasuk dalam ingatan

Indah bagai kemilau cahaya menyilaukan

Luka mengiris jemari tak lagi menjadi beban

Merahnya darah menetes mewarnai rerumputan

 

Malam menyelimuti jiwa terus membawa sadarku

Serpihan kaca itu terus menerus menusuk dadaku

Tangis duka galau terus menerus berganti di pikiranku

Bayangan sang ksatria terus menghantui malamku

 

Pagi harinya aku berjalan kembali ke padang luas

Mengumpulkan lagi serpihan yang terbentur keras

Dalam telapak kukumpulkan setiap pecahan gelas

Yang kemudian kusadari adalah pecahan cermin naas

 

Kususun setiap serpihannya satu demi satu

Kubermimpi akan sang ksatria malam demi malam

Kulihat bayangan indah dunia cermin hari demi hari

Kusadari sang ksatria membaik mimpi demi mimpi

 

Sejak saat itu mimpiku selalu bertabur bintang

Cermin retak tersusun rapi terus kupegang

Dalam dekapanku sang cermin terduduk tenang

Dalam mimpiku sang ksatria tersenyum senang

Read Full Post »

Cermin Rembulan

 

Hari ini aku memohon pada rembulan

Agar ia tak menampakkan purnamanya

Betapa teriris jiwa mengingat cintanya

Yang harus terhalang sebilah tabir maya

 

Wahai cermin rembulan penuh nestapa

Tolong jangan berharap dan menumpuk asa

Tidakkah kau tahu masa membuat merana

Perputaran bulan tak sebanding beratnya lara

 

Cermin rembulan yang memantulkan cahaya

Yang meredup di kala sinar terbit menyilaukan

Ketika gelap menjemput rintihan duka

Kilau bintang mendekatkan jarak dua insan

 

Kudekap cermin rembulan tersayang

Air mata bergulir mengingat berbagai kenangan

Guratan di cermin makin terasa nyata

Sesosok yang kukenal muncul ke permukaan

 

Kata-kata selembut awan menghapus tangisan

Rayuan seindah bunga setaman menghujani jiwa

Kupandang kembali sosok yang amat kupuja

Cemas di hatinya mengajakku bercengkarama

 

Sekali lagi sang surya mewarnai fajar

Sosok di depanku perlahan berganti rupa

Cermin rembulan tak kuasa menahan kuatnya surya

Sosok tampan berganti binatang buas siap menerkam

 

Tiada daya untukku menyimpan dalam pangkuan lagi

Ketika fajar menyingsing cakarnya meraih mencabik

Kuputuskan memecahkan sang cermin laksana bui

Membebaskan jiwa yang tersiksa bulan lagi mentari

 

Kuangkat sang cermin tinggi bersiap mengakhiri

Mengingat purnama malam ini membuat jiwa berkelit

Kuputuskan meninggalkan sang cermin di padang sepi

Berharap gadis lain dapat mengakhiri kutukan suci

Read Full Post »

Cermin Matahari

 

Kulihat sekali lagi pemuda di hadapan

Wibawa berkharisma lagi tampan

Tiada yang kurang lagi penuh kemantapan

Sinar matanya tajam dan pandangannya meneduhkan

 

Empat musim berlalu semenjak aku mengenalnya

Empat musim pula waktu yang dibutuhkan untuk melihatnya

Cermin matahari yang ternyata ada dalam genggamannya

Yang memberi kekuatan lagi kelemahan dalam dirinya

 

Ketika mentari tak lagi bersinar

Ia menjadikanku tempatnya bersandar

Terkejut aku melihat tatapannya nanar

Berbekal iba kuberikan hati tanpa sadar

 

Cermin matahari sungguh menguras hati

Tak hanya dirinya terus menerus mengiris batin

Diriku melihat terus menerus penuh perih

Melihat pantulan cahaya dari cermin pemberi energi

 

Cermin matahari membenci cahaya rembulan

Bukannya memantulkan cahaya penguat

Bulan membawa nestapa pada sang penggenggam

Kesadaran, ingatan dan logika dapat seketika redam

 

Kadang aku memohon pada rembulan untuk berhenti

Kadang aku memohon pada matahari untuk berhenti

Kusadari cermin matahari yang harus berhenti

Meski dengan konsekuensi aku yang harus berhenti

Read Full Post »