Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2012

Mencintai Kekuranganmu



Seseorang pernah berkata padaku:

‘Aku makin mencintaimu setelah mengetahui kekurangan-kekuranganmu.’

 

Awalnya aku tak paham dan tak juga menanya karena terlalu indahnya.

Selang berapa jeda aku menemukan cahaya alam memberikan pertanda.

Bulan berbicara mengagungkan surya ketika purnama.

Aku merasakan hal yang tak ayal serupa.

 

Kuberkata pada sang rembulan:

‘Aku menemukan kekuranganmu yang paling vital.

Tak disangkal kekurangan yang sangat dalam lagi patut dicerca.

Kekurangan yang membuatmu enggan mengangkat rupa

Ketika khalayak memiliki pengetahuan akan keberadaannya

Sederhana tapi akulah seorang yang mendapatkan pertandanya.

 

Menemukan kekuranganmu awalnya menusuk dada

Membuatku enggan bersua lagi bertegur sapa

Merasa dirimu nista lagi tidak perlu diberikan rasa hormat

Kau berpaling muka dan membuang rasa rindu yang menyesak

 

Mengetahui kekuranganmu ternyata membuatku mendekat

Ketika rindu menutupi jalannya akal nan sehat

Pertemuan menjadi obat penutup lara dan duka

Ternyata tanpa enggan kakiku pun beranjak ke peraduan

 

Melihat kekuranganmu membuatku tersadar

Aku makin mencintaimu di kala menemukannya

Aku tahu aku dapat menjadi ramuan mujarab yang menyembuhkannya

Mungkin tidak sembuh sedia kala tapi memperindahnya

Menyulap sang kekurangan menjadi kelebihan tiada tara

 

Menyadari kekuranganmu membuatku makin jatuh cinta

Kekurangan yang mungkin dilihat orang tidaklah indah

Ternyata menjadi kriteria utama yang mebuatku melihat

Bukan raga bukan ketampanan dan bukan pribadi menawan

Kekuranganmu membuatku jatuh di mabuk asmara

 

Membenahi kekuranganmu mungkin ditakdirkan bagiku menjadi jabatan

Tak bisa dibenahi pun tak apa karena cintaku tumbuh dari sana

Kau membuatku indah dengan kekurangan-kekurangan yang ada

Dan aku tahu adanya diriku dapat membuatmu melihatnya menjadi kelebihan

Hadirnya diriku tampak sangat indah menemani sepinya harap

 

Bulan mungkin tak bisa memancarkan cahayanya

Tapi aku melihat denganku rembulan kini bisa menjadi surya

Aku tahu kelak kau tak akan membuangku percuma

Karena kekuranganmu ketika bersamaku berubah indah

Dan kita bersama kelak bisa meyaingi cerahnya sang surya.’

 

Read Full Post »

Tulisan ini dibuat di notes Facebook awalnya. Momen yang pas membuat saya teringat satu karya yang saya buat beberapa tahun silam. Selamat menikmati!

 

Aku sekarang berada di jalan panjang yang tak kutahu di mana akhirnya
Jalanan ini gelap, sepi tiada yang melalui
Aku juga tiada mengerti kenapa aku harus berjalan sendiri di sini
Tanpa seorang pun bersisian denganku
Awalnya aku berjalan bersama banyak teman
Namun entah mengapa kami berpisah untuk berjalan masing-masing
Hingga sampailah aku ke sini

Tiada kompas, tiada petunjuk arah
Hanya insting alamku yang memberitahu ke mana harus melangkah
Hari telah gelap tanpa matahari menunjukkan arah untukku
Langit pun tiada berbulan dan berawan
Menutup cahaya cerah yang mengarahkan langkahku
Hanya berbekal sebuah pelita di tangan
Tapi aku pun tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan

Suatu ketika sampailah aku ke sebuah jalan bercabang
Jalan ini bisa mengarahkanku ke berbagai arah berbeda
Aku tidak tahu kemana harus melangkah
Kembali tiada mungkin bagiku
Karena jalan yang telah kulewati itu sedemikian berbatu
dan tiada punya jalan kembali

Kuarahkan pelitaku ke jalan pertama
Jalan ini sangat halus tanpa batu
Kumencoba berjalan ke jalan ini
Ternyata jalan ini menuju ke sebuah desa
Banyak rumah-rumah yang bentuknya aneh bagiku
Lingkungannya sangat ramah dan asri
Namun sayang penduduknya tak sejalan denganku
Banyak sekali larangan yang tiada jelas tujuannya
Mereka sangat mengekangku
Aku sedemikian berharga bagi mereka hingga mereka mengatur segala gerakku
Sampai pada akhirnya aku juga tahu
Suatu saat nanti aku akan mengalami masalah buruk
karena adat mereka yang makin tidak sejalan denganku
Akhirnya aku pamit pada kepala suku
untuk kembali ke jalan awal
Kepala suku sangat melarangku dan bahkan hendak bunuh diri
Masa depan mereka ada di tanganku
Namun aku tidak tahu apa hal yang dimaksud
Tapi aku pun tiada mau dikekang dengan adat yang aku sendiri tiada mengerti
Hingga mungkin aku akan merasa tersiksa karenanya

Aku masih mengingat jalan ke persimpangan itu
Dengan berbekal pelita yang lebih terang dari desa itu
Aku mencoba berjalan ke jalan kedua
Di ujung jalan aku melihat cahaya berkilauan
Cahaya seperti yang dimunculkan oleh batu permata
Aku tiada memperdulikan pelitaku lagi
Aku berjalan mengikuti arah cahaya kemilau itu
Tanpa sadar betapa melelahkannya perjalananku itu
Jalan yang kutempuh sangat panjang lagi berbatu
Kakiku sudah memar dan terluka karena banyaknya batu di bawah kakiku
Bahkan semakin jauh duri ternyata menutupi jalan itu
Tantangan itu entah mengapa tiada menyurutkan hatiku
untuk terus berjalan ke arah cahaya nan kemilau itu
Lukaku mungkin sudah tiada terhitung
Karna rasa perih terus makin menjalar di sekujur tubuhku
Ketika aku hampir sampai di ujung jalanan sudah makin halus
Di sana aku bertemu seorang pertapa
Ia memberiku makanan dan berbagai pelajaran
Setelah lama berguru pada pertapa aku menyadari
Cahaya yang kulihat hanyalah kemilau dari lereng gunung
Lereng gunung itu memiliki kandungan mineral yang sangat memukau
Namun tiada ada yang pernah mengambilnya karena beratnya perjalanan
Sang pertapa berkata
Jikalau kau mau tinggal di sini,
maka engkau harus bisa bertahan
Karena tiada masa depan di sini
Hanya menjalani kehidupan ala pertapa penuh kedamaian
dan makan dari udara, uap air, dan juga buah-buahan kecil
Aku tidak yakin akan bertahan
Maka aku pamit pada pertapa
Sang pertapa tiada menunjukkan rasa kecewa karena kehilangan teman
Ia hanya tersenyum dan memberitahuku jalan cepat untuk kembali ke persimpangan
Dia hanya berdoa suatu saat aku bisa kembali lagi bersamanya

Aku kembali ke persimpangan tanpa bekal lebih
Pelitaku tiada mendapatkan tenaga dan makin meredup
Ternyata persimpangan yang kucapai sekarang sedikit berbeda dari yang sebelumnya
Tempatnya jauh lebih gelap dengan semak yang sangat tebal
Suara binatang liar bergema di segala penjuru
Perutku lapar tiada memiliki makanan
Tepat di sampingku aku merasakan bau buah yang ranum
Aku segera berlari ke jalan dengan bau harum itu
Jalan itu sangat gelap dan aku baru sadar aku telah menjatuhkan pelitaku
Namun kelaparanku lebih kuat menarikku
Berjalan makin dalam ke arah kegelapan yang tak tentu
Aku terus berlari hingga akhirnya menabrak pohon besar
Aku menyadarinya karena ia menjatuhkan banyak sekali daun dan buah-buahan
Aku memungutnya dan memakannya terus tanpa melihat lagi
Tapi disampingku aku mendengar desah nafas dan geraman
Seekor serigala hutan sedang duduk disampingku
Jujur aku takut harus duduk di samping seekor serigala hutan
Tapi tak kusangka ia malah duduk manis di kakiku
Berperilaku layaknya seekor anjing manis yang bertemu tuannya
Aku pun tinggal bersamanya sementara waktu
Mengumpulkan tenaga agar aku bisa bangkit lagi mencari
Serigala ini senang sekali aku ada di sampingnya
Membantuku mencari makan buah-buahan
Memelukku dengan bulunya yang hangat di malam yang dingin
Tapi kemudian aku menyadari satu hal
Aku tidak pernah menemukan seekor rusa pun di situ
Sudah hampir seminggu aku tinggal bersamanya dan belum kulihat ia memakan apapun
Sebelumnya aku pernah diserang olehnya
Hingga punggungku berlumuran darah
Tapi kemudian ia membantuku menyembuhkannya
Aku sadar itu bukan kecelakaan
Sudah nalurinya sebagai serigala untuk memakanku

Kuputuskan untuk berlari meninggalkan serigala
Aku berlari menuju persimpangan yang ditunjukkan pertapa
Di tengah jalan aku menemukan kembali pelitaku yang menyala redup
Kini aku berada di persimpangan yang ditunjukan pertapa
Aku melihat ke setiap sudut dengan pelitaku
Ternyata persimpangan ini dikelilingi banyak jalan
Namun selain jalan yang kulewati, semua tertutup semak dan kayu
Aku belum bisa melihat apa yang ada di balik setiap jalan
Kemudian aku juga menyadari
Bahwa persimpangan ini hanya berjarak sekitar tiga puluh langkah
dari persimpangan awalku memulai pemilihan ini

Kini aku hanya terduduk di sini
Bersama pelitaku
Duduk terdiam merenungi
Merenungi sisa energi dan luka tubuhku
Serta kemana aku harus melangkah
Haruskah aku kembali ke salah satu jalan yang telah kulalui
Dengan setiap kebaikan dan resiko yang akan kutempuh
Atau apakah aku harus mencoba ke salah satu jalan lain
yang masih tertutup semak dan kayu
Untuk mencoba kembali
dan mungkin mendapatkan yang jauh lebih baik
Sehingga aku tidak harus terus berjalan dalam gelap
dan menemukan tempat yang terbaik bagi hidupku

 

nb: Saya sertakan pula link notes Facebook saya karena ada seorang sahabat yang menjawab puisi ini dengan puisi lain yang memukau.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=67066830802

Read Full Post »

Tunas Kelapa

Kemarin selagi saya kembali ke Indonesia dan bercakap-cakap dengan adik, terlintas dalam benak saya mengenai kegiatan pramuka yang dulu sangat giat kami ikuti selagi duduk di bangku SD/MI. Kemana hilangnya para pramuka yang dulu ada dimana-mana dan membantu para polisi dan masyarakat sekitar? Kemana juga anak-anak muda yang dulu sangat bersemangat mengadakan PERSAMI (Perkemahan Sabtu-Minggu) dan belajar bagaimana cara-cara bertahan di alam liar serta tinggi kecintaannya pada alam sekitar? Selagi belum terlalu terlambat untuk memperingati Hari Pramuka Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Februari bertepatan dengan hari lahirnya bapak pramuka sedunia Robert Baden-Powell, mari kita kaji ulang mengenai kurangnya minat masyarakat akan kepramukaan seiring dengan modernitas.

APA ITU PRAMUKA?

 Bahasan pertama tentu saja kembali kepada definisi.  Apa sesungguhnya pramuka itu dan untuk apa didirikan. Menurut Wikipedia, Pramuka atau yang disebut dengan Scout Movement adalah gerakan pemuda sedunia yang dimaksudkan untuk mendukung anak-anak muda dalam perkembangan fisik, mental dan spiritualnya sehingga mereka dapat melakukan membangun masyarakat. Pramuka dimulai sejak tahun 1907 dan diprakarsai oleh Robert Baden-Powell, seorang letnan jenderal Inggris. Kegiatan pramuka ditekankan pada kegiatan outdoor yang meliputi berkemah, keterampilan dari kayu, keterampilan dalam air, mendaki gunung dan olahraga. Semua anggota pramuka harus menaati Scout Promise and Law[1] yang setara dengan Tri Satya dan Dasa Dharma di kepramukaan Indonesia.

Gerakan pramuka masuk ke Indonesia semenjak tahun 1912 yang dibawa oleh bangsa Belanda. Awalnya organisasi pramuka pertama bernama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).[2] Kemudian, para pemimpin nasional pun mulai membentuk organisasi pramuka untuk menjadi kader pergerakan nasional. Istilah Padvindery pun dilarang dan munculah istilah Pandu atau Kepanduan. Pada tahun 1961, dikarenakan 80% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan 75% adalah petani maka Kwarnas (Kwartir Nasional) Gerakan Pramuka menganjurkan supaya para pramuka mengadakan kegiatan di bidang pembangunan desa. Pada saat itu, yang menjabat sebagai Kepala Kwarnas adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia.[3]

Berbeda dengan Scout Movement di luar negeri yang memisahkan antara Boy Scout (laki-laki) dan Girl Guide (perempuan), untuk Indonesia, pramuka laki-laki dan perempuan berada di wadah yang sama hanya dengan nomor gugus depan yang berbeda saja. Gugus depan ganjil adalah gugus depan laki-laki sedangkan gugus depan genap adalah gugus depan perempuan. Di luar negeri, pramuka di bagi berdasarkan umur dengan nama yang berbeda (Cub Scout, Boy Scout, Rover Scout) di Indonesia, tingkatan umur dibedakan dengan tingkatan pramuka berupa siaga, penggalang, penegak dan pandega.

Aturan dasar dan kompetensi yang harus dimiliki seorang pramuka tertulis dalam Pancasila, Tri Satya dan Dasa Dharma[4] (untuk penggalang,penegak dan pandega):

TRI SATYA

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :

  • Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjalankan Pancasila.
  • Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat.
  • Menepati Dasa Darma.

DASA DHARMA

Pramuka itu :

  1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan kesatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, trampil dan gembira
  7. Hemat, cermat dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Tujuan kepramukaan sendiri seperti yang tertulis di website pramuka Indonesia adalah[5] :

Gerakan Pramuka sebagai penyelenggara pendidikan kepanduan Indonesia yang merupakan bagian pendidikan nasional, bertujuan untuk membina kaum muda dalam mencapai sepenuhnya potensi-potensi spiritual, social, intelektual dan fisiknya, agar mereka bisa:

  1. Membentuk, kepribadian dan akhlak mulia kaum muda
  2. Menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara bagi kaum muda
  3. Meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi calon pemimpin bangsa yang handal pada masa depan.

KEANGGOTAAN DAN STRUKTUR ORGANISASI GERAKAN PRAMUKA INDONESIA

Hal lain yang menjadi pertanyaan besar bagi saya ketika kecil adalah saya dulu sempat menjadi pramuka siaga ketika kelas 1-3 SD/MI dan sekali naik pangkat dari Siaga Mula menjadi Siaga Bantu dan kemudian ketika saya kelas 4-6 SD/MI saya otomatis menjadi Pramuka Penggalang. Di tingkat Penggalang pun saya hanya sampai pada naik tingkat dari Penggalang Ramu menjadi Penggalang Rakit dan tidak lagi melanjutkan pada Penggalang Terap. Yang membingungkannya lagi, tampaknya tidak ada pencatatan khusus dari pembina saya mengenai kenaikan pangkat saya menjadi penggalang yang lebih tinggi dan pemberian TKK (tanda kecakapan khusus) juga diberikan begitu saja. Apakah ada pencatatannya tentang jabatan kepramukaan dan TKK yang saya dapat? Apa sebenarnya kompetensi yang harus dimiliki dan apakah pengujinya kompeten untuk menguji anak didiknya? Mungkin bagi anak-anak SD yang kerjaannya hanya ‘main-main’ bisa saja standard kompetensi tidak menjadi masalah, tapi bagaimana dengan pramuka-pramuka ditingkat penegak dan pandega? Apakah ada kelanjutannya dan berpengaruhkah hal ini kepada minat anak-anak didik?

Untuk menjawab pertanyaan di atas mari kita kaji ulang mengenai keanggotaan dan struktur organisasi pramuka Indonesia.

Berikut ini skema keanggotaan dalam gerakan pramuka[6]:

Sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka no. 203 tahun 2009, telah diatur tentang pengertian keanggotaan yang dimaksud adalah anggota dalam Gerakan Pramuka.

Anggota Gerakan Pramuka adalah perseorangan warga negara Indonesia yang secara sukarela dan aktif mendaftarkan diri sebagai Anggota Gerakan Pramuka, telah mengikuti program perkenalan kepramukaan serta telah dilantik sebagai anggota.

Anggota Gerakan Pramuka terdiri atas:

a. Anggota Biasa

Anggota Biasa Gerakan Pramuka terdiri atas:

1 1. Anggota muda :

Siaga (7-10 tahun, dengan tingkatan Mula, Bantu dan Tata),

Penggalang (11-15 tahun, dengan tingkatan Ramu, Rakit dan Terap),

Penegak (15-18 tahun dengan tingkatan Bantara dan Laksana),

dan Pandega (18-22 tahun yang akan membentuk satuan di tingkat gugus depan bernama Racana).

2 2. Anggota dewasa : anggota biasa yang berusia di atas 25 tahun.

Anggota dewasa terdiri atas:

a. Anggota Dewasa biasa : anggota dewasa yang masih aktif sebagai fungsionaris dalam organisasi, yaitu: Pembina, Pelatih, Pembina Profesional, Pamong Saka, Instruktur Saka, Andalan dan pembantu andalan, Mabi, Staf/ Karyawan Kwartir.

b. Anggota Mitra : anggota dewasa yang tidak aktif sebagai fungsionaris dalam organisasi

b. Anggota Luar Biasa

adalah warga Negara asing yang menetap untuk sementara Waktu di Indonesia yang bergabung dan aktif dalam kegiatan kepramukaan.

c. Anggota Kehormatan

Adalah perorangan yang berjasa luar biasa terhadap Gerakan Pramuka dan kepramukaan.

Berikut adalah struktur organisasi gerakan pramuka :

Jadi, sesungguhnya struktur organisasi yang ada sekarang sudah cukup baik dan sangat membantu para anggotanya untuk terus berkarya sesuai dengan jenjang umurnya sebagai anak muda. Tingkatan pramuka yang ada dibagi berdasarkan tingkatan umur. Entah sudah naik pangkat atau belum dalam tingkat siaga, setelah umur 10 tahun, seorang pramuka otomatis akan naik menjadi penggalang, sesuai dengan jenjang umurnya karena kompetensi yang berbeda-beda di tingkatan umur yang berbeda.

Kenaikan pangkat sesungguhnya juga bukannya tanpa standard melaikan ada standard kompetensi yang harus diikuti yang disebut SKU (Syarat Kecakapan Umum). SKU adalah syarat kecakapan yang wajib dimiliki setiap anggota pramuka sebagai prasyarat untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Umum yang berupa kenaikan pangkat (contoh : dari siaga mula menjadi siaga bantu). Selain daripada SKU ada juga Syarat Kecakapan Khusus yang akan mendapat imbalan Tanda Kecakapan Khusus (TKK). TKK sifatnya optional. Tapi bagi saya yang dulu sangat senang pamer prestasi, pengejaran TKK sebelum pelantikan menjadi hal wajib yang perlu dikejar.

Syarat Kecakapan Umum (SKU)

Syarat Kecakapan Umum

Tanda Kecakapan Khusus (TKK) dan Selempang

Tanda Kecakapan Khusus (TKK) dan Selempang

MODERNITAS DAN KURANGNYA MINAT AKAN PRAMUKA

 Sekarang, mari kita masuk kepada isu utama tentang berkurangnya minat pemuda-pemudi akan kegiatan kepramukaan seiring dengan berkembangnya zaman. Setiap tahunnya, saya dan keluarga akan pergi ke Klaten dari Jakarta menggunakan jalan darat alias mobil. Sewaktu saya kecil, saya seringkali melihat para pramuka (mungkin tingkatan penegak dan pandega) yang membantu para polisi utnuk mengatur lalu lintas dikarenakan padatnya lalu lintas di saat musim mudik. Seiring berjalannya waktu, saya sudah tidak pernah melihat lagi para anak-anak pramuka ini berkeliaran membantu sana-sini.

Tidak hanya itu, kegiatan pramuka di almamater saya sendiri sudah seperti mati. Dulu, pembina pramuka yang melatih saya sangat kompeten dan memang mengerti mengenai kegiatan kepramukaan dan bahkan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan setingkat Kwartir Cabang atau bahkan Nasional. Mungkin memang pembina pramuka putri bukanlah seorang yang kompeten dan hanya seorang guru yang membantu menjalankan kegiatan kepramukaan, tapi hal tersebut tidak menjadi kendala ketika kami memiliki 3-4 pembina putra yang memang kompeten di bidang ini. Pramuka yang kami jalankan benar-benar sesuai dengan standard kompetensi yang tertulis di SKU dan pelantikan juga dilaksanakan tiap tahun. Setiap anggota yang SKUnya sudah terisi penuh bisa meminta untuk dilantik menjadi pramuka tahap selanjutnya di hari pelantikan yang sudah ditentukan yaitu ketika PERSAMI tahunan. Kami juga banyak mengikuti Jambore dan PERSAMI di tingkat nasional. Kami pun mengikuti beberapa lomba setingkat Kwartir Ranting dan Kwartir Cabang. Berbeda dengan pramuka yang saya liat sekarang ada di almamater saya. Mereka cenderung hanya diajari tali-temali, baris-berbaris dan menyanyi lagu-lagu hymne sehingga popularitasnya menurun dan digantikan dengan kegiatan lain yang dirasa lebih bermanfaat seperti Dokter Kecil atau les-les musik dan menyanyi.

Modernitas juga seakan sudah menelan asyiknya kegiatan pramuka. Dulu saya yang sangat senang akan berinteraksi dengan alam bebas, benar-benar senang setiap hari sabtu datang. Bukan karena sekolah yang hanya setengah hari (dulu sekolah masih dilaksanakan 6 hari dalam seminggu) tapi karena sorenya kami akan melakukan kegiatan pramuka. Menurut saya kala itu, bisa hidup di alam liar betul-betul keahlian yang sangat diperlukan dan menurut bahasa anak muda sih, keren banget. Kami juga belajar disiplin dengan latihan baris-berbaris serta kekompakan tim dengan berbagai aksi tongkat yang kami lakukan. Kami juga belajar dasar pertolongan pertama serta tinggal di alam liar.

Menurut saya juga, generasi zaman sekarang cenderung manja dan tidak bisa dilepas seandainya ada keadaan darurat. Saya yang sejak kecil terbiasa tidur di tenda dan lantai, tidak punya masalah ketika harus berpergian sana-sini dan harus tidur di kondisi apapun. Banyak teman saya yang menurut saya terlalu manja yang harus tidur di atas kasur atau tidak bisa tidur di kendaraan. Lucunya lagi, anak-anak zaman sekarang terlalu bergantung pada teknologi. Pernah suatu ketika saya bepergian dengan teman-teman dengan mobil di Irlandia. Untuk saya, membaca peta dan menghapal arah jalan sudah menjadi hal yang biasa. Lucunya, teman-teman saya lebih percaya pada GPS. Perjalanan yang harusnya hanya memakan waktu setengah jam menjadi tiga kali lipat lamanya karena percaya pada GPS. Saya sempat takut karena GPS bukan megarahkan pada jalan antar kota yang cukup ramai tapi malah membawa kami ke desa-desa yang tidak jelas. Untung saja waktu itu GPSnya terus berfungsi satu setengah jam non-stop dan tidak mati seperti waktu kami pergi.

Sejujurnya menurut data sensus tiga tahunan WOSM (World Organization of Scout Movement) 2010, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah pramuka tertinggi sedunia yaitu sejumlah 17,100,000 orang dan saya belum menemukan data berarti mengenai berkurangnya anggota pramuka secara signifikan dari tahun ke tahun. Namun pergeseran opini masyarakat mengenai pramuka terutama di Jakarta sangatlah nyata[7][8].

Menurut pengamatan saya dan beberapa pendapat teman-teman, kurangnya minat anak-anak muda zaman sekarang akan pramuka disebabkan oleh beberapa hal :

  • Pramuka hanyalah ajang menyanyi dan main tali temali.

Yup, ini pendapat banyak orang mengenai keadaan pramuka zaman sekarang. Banyak sekali sekolah-sekolah yang mengadakan kegiatan ekstra-kurikuler pramuka namun dengan pembina yang kurang kompeten. Hal ini mengakibatkan kegiatan yang ada tidak lagi berdasarkan pada kompetensi yang tertulis di SKU tapi hanyalah kegiatan senang-senang dan bermain dengan alam. Pramuka sesungguhnya mengajarkan KETERAMPILAN yang tidak diajarkan di sekolah seperti morse, semaphore, sandi dan juga P3K. Seorang pembina pramuka yang dulunya juga menjalani pramuka sampai tingkat pandega akan memiliki kompetensi yang baik dan bisa meneruskannya. Kebanyakan ekskul pramuka terutama di Jakarta tidak dibina oleh seorang pembina yang kompeten dan bersemangat menanamkan nilai kepramukaan pada anak didiknya.

  •  Kurangnya semangat para pembina dan orang tua untuk membawa anak didik ke ‘alam liar’.

Kebanyakan orang tua jaman sekarang sangat ‘over-protective’ terhadap anak-anaknya. Orang tua jarang membiarkan anaknya untuk pergi berkemah dalam kelompok dan sangat takut anaknya nati akan sakit karena tidur di luar selama beberapa hari. Saya dulu juga teringat ketika masa-masa kelas 4 SD/MI ikut berkemah ke sana kemari. Ibu sangat khawatir dan membawakan barang macam-macam yang menurut saya berlebihan. Kadang saya minta saran kepada ayah akan barang apa saja yang dibutuhkan sehingga barang-barang akan lebih ringan. Ayah senang mengajarkan anaknya hidup prihatin dan seadanya sehingga siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Ketika berkemah, ternyata apa yang ditakutkan orang tua saya tidaklah seseram yang dibayangkan. Pembina mengajarkan bagaimana bertahan hidup ketika di alam liar termasuk menggunakan tongkat untuk bermacam-macam keperluan ketika memanjat gunung. Mulai dari menjadikan tongkat sebagai alat bantu jalan, sampai menggabungkan beberapa tongkat menjadi satu dengan simpul tertentu untuk membangun jembatan atau tenda kecil.

Kadang hal ini juga bukan hanya sepihak dari orang tua tapi dari guru itu sendiri. Karena pembinanya kurang kompeten, biasanya mereka akan takut untuk membawa anak-anak ke alam bebas karena sang guru sendiri tidak punya bekal cukup untuk survival atau berkemah. Mereka takut kena damprat orang tua kalau-kalau terjadi sesuatu yang salah ketika berkemah. Semangat kepramukaan yang kurang kuat dalam diri pembina membuat pembina ragu-ragu untuk membawa anak-anak berkemah ke dunia yang agak sedikit liar. Paling juga mengajak anak-anak ke bumi perkemahan yang reputasinya jauh lebih baik.

Ada masalah lagi yang muncul dari bumi perkemahan. Seorang teman saya sempat kapok mengikuti pramuka karena pernah ikut berkemah di Bumi Perkemahan Cibubur. Di sana banayk orang berjualan dan menjadikan berkemah tidak lagi mengasyikkan karena kurangnya paparan dengan alam liar. Belum lagi Bumi Perkemahan Cibubur tidak hanya dipakai untuk berkemah tapi juga dijadikan tempat untuk kongser dangdut dan hajatan. Hal ini membuat bumi perkemahan tidak lagi layak sebagai sarana membantu anak-anak pramuka punya potensi belajar keterampilan di alam liar.

  • Tidak perlunya keterampilan di alam liar karena bantuan alat-alat modern.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, di zaman modern ini, anak-anak cenderung malas pergi keluar dan mencari petualangan di luar rumah. Adanya PlayStation, Nintendo Wii, PC membuat anak-anak merasa senang terkurung di rumahnya sendiri. Anak-anak zaman dulu yang senantiasa mengadakan eksplorasi ke hutan-hutan sudah tidak ada lagi. Mendapatkan High-score di online game menjadi jauh lebih menarik ketimbang eksplorasi harta karun di kebun-kebun dekat rumah. Keterampilan untuk membangun tenda dan menggunakan berbagai sandi dan simpul yang dulu saya anggap keren sudah dianggap ketinggalan zaman. Signifikansinya juga sudah berkurang karena anak-anak cenderung malas pergi ke alam liar dan berkurangnya hutan-hutan yang menarik untuk dikunjungi karena adanya penebangan liar dan pengubahan hutan-hutan dekat kota menjadi pemukiman. Kecuali ada kecelakaan pesawat parah dan anda terdampar di suatu pulau tanpa sinyal handphone mungkin keterampilan itu baru akan digunakan.

  • Kurangnya pemahaman tentang arti pramuka secara menyeluruh.

Memang kegiatan pramuka pada dasarnya adalah keterampilan di alam liar dan berbagai macam keterampilan fisik lainnya. Ya benar, untuk tingkat siaga dan penggalang. Harusnya penanaman nilai pramuka ini sudah ditanamkan dari sejak tingkat siaga bahwa pramuka nantinya juga akan meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan juga meningkatkan kesadaran sosial. Pramuka juga membantu sesama, mengadakan event-event dan juga melaksanakan bakti sosial. Hal ini yang rasanya kurang ditanamkan kepada anggota-anggota pramuka. Ketika saya menjabat sebagai pramuka penggalang saya sudah ikut dua kali bakti sosial ke desa tertinggal. Kami menyumbang dana dan pakaian ke masyarakat sekitar dan membatu pekerjaan mereka. Kami menginap selama beberapa hari di rumah penduduk sekitar. Makan bersama mereka, bekerja bersama mereka dan tidur di rumah mereka yang sangat sederhana. Sungguh pengalaman seorang pramuka yang sesungguhnya tidaklah hanya bermain tali-temali atau menyanyi saja.

  • Adanya banyak kegiatan lain yang lebih spesifik dalam meningkatkan keterampilan.

Pramuka, nama yang sungguh kurang menjual jika dibandingkan dengan Palang Merah Remaja yang jelas-jelas belajar Pertolongan Pertama atau Pecinta Alam yang jelas-jelas melakukan kegiatan memacu adrenalin seperti arung jeram dan panjat tebing. Pramuka memang menjual sesuatu yang menyeluruh. Mendidik anak-anak muda untuk menjadi seorang yang utuh secara jiwa,raga dan spiritual. Tidak hanya orang yang kuat secara fisik, tapi juga memiliki empati dan sifat rela menolong. Tapi kemampuan yang dibangun itu lebih cenderung kepada soft skill yang mungkin kurang terlihat wujud nyatanya. Tidak heran banyak orang tua atau anak-anaknya sendiri menganggap pramuka tidak lagi relevan dan enggan mengikuti kegiatan pramuka.

  • Tidak adanya sertifikasi dan pengakuan dari pihak terkait.

Sertifikasi yang didapat dari pramuka hanyalah dengan satu jahitan yang terdapat di baju yang menjadi TKU dan TKK. Tidak ada pencatatan khusus tentang siapa yang sudah menjadi pramuka tingkat apa dan dimana. Kebanyakan institusi (sekolah dan perusahaan) juga tidak menganggap pramuka sebagai suatu hal yang bisa dipandang lebih untuk mendaftar sekolah atau pekerjaan. Karenanya adanya pencatatan, sertifikasi dan quality assurance dari kegiatan pramuka mungkin akan meningkatkan minat anak-anak dan orang tua untuk mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan kepramukaan ini.

 

PRAMUKA, MASIHKAH RELEVAN?

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan pendapat saya mengenai pramuka. Masihkah pramuka relevan? Tentu saja, jawaban saya pramuka masih relevan. Harus dibantu dengan pembina-pembina yang kompeten sehingga semangat kepramukaan masih bisa disampaikan kepada anggota-anggotanya. Di zaman modern ini justru pramuka menjadi sangat penting apalagi di kota-kota. Kota-kota besar mulai menunjukkan kecenderungan adanya kehidupan individualistik dimana tidak adanya rasa peduli antar sesama dan kurangnya kesadaran sosial. Pramuka membantu anak-anak muda kembali menyelami nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan. Membangun anak-anak muda untuk memiliki keterampilan dasar di alam liar (yang pasti jauh lebih sehat ketimbang bermain Xbox di kamar) dan juga membangun pribadi yang bersahaja justru malah sangat dibutuhkan oleh masyarakat modern zaman sekarang.

Read Full Post »