Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2012

Mimpi

Seperti biasa kuhabiskan hari di taman memandang ke arah serambi aula utama. Hampir setiap bulan purnama, serambi itu akan diterangi cahaya dari perapian, obor-obor dan lilin cantik. Pertemuan resmi kerajaan. Aku hanyalah pengurus rumah tangga kerajaan, bukan orang yang pantas berdiri di sana. Sepatuku hanyalah terbuat dari beludru kusam dan gaunku penuh noda arang dari dapur. Ah, berdiri di sana bagaikan mimpi untukku.

Aula dansaku hanyalah ada di taman ini. Aku menggenggam pangeranku. Ia menaruh tangannya di atas pinggangku. Kubalas rangkulan kecil ke arah tengkuknya. Jari jemari bergenggaman dan musik mulai memasuki ruang pikiranku. Aku mengambil langkah mundur sekali dan mulai berputar bersamanya. Mimpi yang kumiliki semenjak kecil, berdansa bersama pangeranku yang selalu kulihat berdiri di serambi dengan gagah. Kami berdansa sembari berputar di bawah rembulan yang indah. Kupandang senyumnya yang menawan tak kunjung padam.

Aku terpeleset, terjatuh. Ah sudah kuduga hanya halusinasi semata seperti biasa. Pangeran yang telah dewasa hanyalah ada dalam pikiranku. Pangeran yang mana aku bermain bersamanya ketika kecil, ketika aku masih anak bangsawan. Sambil terduduk aku kembali menatap ke arah serambi aula utama. Ah, dia ada di sana seperti biasa memandang ke arah bulan purnama. Gurat wajahnya yang tampan dan gagah hanya bisa kupandang. Hatinya tak akan bisa kuraih, disapa pun tidak. Tembok status ini terlalu tinggi. Meskipun kutau dulu kami pernah berjanji bersama, tapi tak akan ada guna.

Seorang perempuan cantik nan anggun keluar dari aula utama. Ah, putri dari kerajaan sebelah rupanya. Kulihat mereka bercakap dengan anggun nan sopan satu dengan yang lain. Cukup lama sang putri tersenyum gembira dan pangeranku tertawa-tawa. Pangeranku membuka tangannya dan sang putri membalas meletakkan tangannya di genggaman sang pangeran. Tawaran berdansa yang tak pernah dilakukannya pada seorang pun. Tawaran berdansa yang aku impikan selama dua dekade hidupku.

Aku tidak berhak marah meskipun dulunya ia seorang yang dijodohkan untukku. Semenjak ayahku berkhianat pada kerajaan, aku masih hidup saja sudah kebaikan hati dari raja. Selaku teman bermain pangeran semenjak kecil dan kebaikan hatinya, aku bisa hidup dalam kerajaan sebagai pelaksana rumah tangga. Dulu aku pernah bermimpi menjadi putri, menerima tawaran berdansa darinya. Mungkin khayalku terus membawaku ke sana. Tapi ya, aku tak berhak marah. Aku tak berhak marah.

Iklan

Read Full Post »

Kartini

Ambigu apa yang ada dalam hatinya

Tidakkah ketaatan hanyalah membawa jalan

Semua berkata ia membawa revolusi untuk wanita

Cerita batinnya terpapar kepada khalayak

 

Sebagai seorang wanita dikekang kebebasannya

Bagai mata rantai tak pernah terputus melanglang pikirannya

Melalui surat buah pikiran terus mengalir tanpa penghalang

Diterima oleh seorang penuh liberal dan mendukung hatinya

 

Oh betapa ada kenyataan tak terpapar

Bahwa ia juga seorang wanita nan shalihah

Di akhir suratnya yang tak terberita

Ia mengakui kodrat seorang wanita dalam agama

 

Kadang kenyataan terbayang

Kadang hanya terungkap sebahagian

Pada keduanya terdapat fitnah dan penggantian citra

Karena pada akhirnya hanya Tuhan dan saya yang tau ceritanya

Read Full Post »