Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2012

 

Hari ini seperti hari Senin yang lain, aku bolos pelajaran sejarah Pak Darmanto. Malas mendengarkan ocehannya yang kadang ngalor-ngidul ketika ditanya siswa tentang keluarga atau istrinya. Toh, lagipula aku sudah pernah membaca materi yang diajarkannya di saat SD. Biarpun begini, aku dulunya penggemar sejarah dan hafal luar kepala apa yang terjadi dari jaman Singosari sampai masa kemerdekaan.

Aku beranjak menuju tempat istimewaku, perpustakaan. Ya, SMA kami memiliki perpustakaan yang sangat rapih dan nyaman. Bahkan pegawai perpustakaannya saja dianugerahi pustakawan terbaik se-Jakarta Selatan minggu lalu. Sejak kecil, aku memiliki hobi membaca dan menulis. Agak tipikal, tapi begitu senangnya aku membaca sampai kadang rela aku menghabiskan seminggu di perpustakaan. Kapan-kapan rasanya perlu aku mendaftar ke rekor dunia untuk lamanya jam yang aku habiskan di perpustakaan.

Sebentar, siapa itu ya? Dia berdiri di belakang rak buku biologi tepat di samping rak novel yang sering kubaca. Tidak telalu tampan tapi meneduhkan, tidak populer tapi memiliki sinar mata cerdas dan karisma, tidak tampak alim tapi menunjukkan gurat-gurat ketaatan di wajahnya. Siapa? Siapa? Aku tidak pernah mengenalnya. Kaget. Jantungku berdegup tidak keruan. Dia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan walkman dan earphone. Dia duduk di sana tanpa mengambil satu bukupun. Memejamkan mata dan mendengarkan walkmannya dengan khidmat. Ya, ini kali pertama aku bertemu Levi, Leviansyah Ardiputro yang tak kusangka akan mengubah hidupku sepenuhnya.

***

“Coba sini, dengar-dengar. Lagu ini bagus banget loh liriknya,” Levi mulai menyodorkan earphone dan iPodnya ke arahku.

“Aduh, Lev. Aku masih ada tugas yang belum selesai. Kamu bukannya bantu, malah ganggu,” ujarku sebal. Levi hanya membalasnya dengan cengiran lucu.

Aku dan Levi sekarang kuliah di satu universitas. Kebiasaan kami masih sama. Aku membaca dan dia mendengarkan lagu di perpustakaan. Kami sama-sama memuja keindahan kata dan itu yang menjadi satu-satunya kesamaan kami. Dia anak teknik mesin dan aku biologi, dia gitaris band dan aku ketua kelompok ilmiah, dia suka musik dan aku suka buku. Kami ada di perpustakaan tiap hari hanya untuk mengerjakan apa yang kami sukai masing-masing. Terkadang mengobrol, terkadang terdiam. Hanya keberadaan fisik saja yang menyatukan kami.

Aku memandangnya lagi. Dia memejamkan mata dan terlarut dalam lagunya. Aku masih menyukainya sama seperti ketika ia berbalut baju putih abu-abu. Miris aku hanya bisa memandangnya. Fisik kami berdekatan bagai telunjuk dan jari tengah namun hati kami terpisahkan laut tak bertepi. Teringat masa ketika kami pertama bertegur sapa. Ketika itu aku ikut membantu perpustakaan untuk membereskan buku. Aku menyusun buku di rak teratas dan tidak sadar ketika ia datang dan duduk di dekat tangga kecil yang kupakai. Ketika aku menyadari kehadirannya, tanpa sadar aku menjatuhkan buku-buku yang kupegang dan mengenai kepalanya. Waktu itu dia malah tersenyum lucu. Senyum yang meluluhkan hatiku, yang mampu membuatku tak bernapas mungkin lima menit lamanya. Sejak saat itu, kami acapkali bertemu. Ia kadang mengajakku berbicara tentang lirik lagu yang kami sukai dan membahasnya. Meskipun sesungguhnya tiap hari aku menantinya dan memandangnya dari kejauhan.

Ah, indah. Semua buku yang kubaca selalu terbayang indah. Jelas tiap makna dan kiasannya. Teruntai indah tiap babnya. Selalu kubayangkan aku berada di dalam buku itu bersamanya. Mengarungi setiap jalan yang tak berujung yang kadang penuh bunga, kadang penuh duri. Berjalan bersamanya di jalanan tua kota Roma. Mendengarkan derap langkah kuda yang melintasi jembatan bata. Memandang langit malam nan indah kota London berlatar gema lonceng Big Ben. Mengamati indahnya aurora dari kapal raksasa yang tak akan pernah tenggelam. Mengarungi angkasa dengan pesawat bersayap kertas menuju awan selembut kapas. Oh, tiada pernah rasanya cerita-cerita ini terasa begitu hidup.

“Yup, sekarang giliranku,“ ujarnya sambil menyodorkan satu earphonenya ke telinga kiriku sementara yang satunya tertambat di telinga kanannya.

Indah,miris,sedih. Setiap lirik yang ia perdengarkan padaku terdengar bertalu indah dalam jalinan nada yang memikat. Tiap baitnya berpadu erat dan menggugah hati. Selalu kubayangkan dirinya memperdengarkan lagu itu untukku sebagai gambaran hatinya, luapan perasaannya, cerminan jiwanya.  Senyumnya ketika membahas indahnya permainan lirik yang menginsprasinya membuatku luluh. Hatiku serasa mencair dan tidak tahu bagaimana mengumpulkan kembali tiap tetesannya. Miris karena ia begitu menyukai ungkapan cinta tak berbalas. Hatiku terasa diiris sembilu mendengarkan bait-bait tentang keadaan hatiku. Di saat itu, aku merasa ia menyentuh hatiku. Menjadi bagian dari diriku dan berbicara pada hatiku saja. Serasa hatiku akan hancur ketika ia ditarik paksa menjauh dariku. Sedih karena setiap aku merasakan ia bicara pada hatiku, semakin kurasa ia jauh. Semakin kami mendekat dan membahas tiap kiasan semakin aku merasa aku tidaklah pantas untuknya. Terkadang ketika ia berbicara tentang liriknya sembari menutup mata, air mataku bergulir. Entah karena sedihnya makna ungkapan yang kudengar dari iPodnya atau karena hatiku menjerit karena tidak tahan akan perasaan di hatiku yang hendak meluap.

Sejak bertemu Levi kembali di perpustakaan kampus, aku benar-benar merasakan hidup. Gejolak perasaan yang tidak pernah berhenti benar-benar membuatku merasakan delusi yang sangat nyata. Terlepas dari kehidupan kampus yang membosankan. Kadang di malam hari, aku seringkali mendengarkan ulang tiap lirik yang ia perdengarkan. Tertidur bersama bayangan indah tentang dirinya atau menangis semalaman karena sedihnya. Ya, sekali lagi aku dibuat jatuh cinta pada sudut perpustakaan. Tidak hanya karena buku yang menjadi belahan jiwaku sejak kecil tapi juga karena Levi, lirik lagunya dan teduh senyumannya.

Mata kami sama-sama terpejam. Kami mendengarkan lagu seolah sedang berada di alam kosmos yang sunyi senyap. Dia bercerita tentang si pembuat lagu yang dulunya juga adalah sastrawan. Memuji semua lirik yang bertaut indah dan penuh kiasan. Aku menimpali dan menceritakan fabel yang juga menggunakan kiasan yang senada. Sungguh rasanya ingin sekali waktu berhenti di saat seperti ini. Membiarkan kami berdua berada di alam mimpi tanpa manusia lainnya.

“Levi! Aduh, kamu ada di sini lagi ternyata. Mau pulang bersama ? Ibuku pengen ketemu kamu,” suara Clarissa yang lembut membuyarkan lamunanku.

“Oh, Clarissa. Iya, seperti biasa. Levi mencari teman untuk diskusi tentang lagu-lagunya,” jawabku dengan senyum pada Clarissa.

“Hahaha, memang bagian dia yang itu cuman cocok sama kamu ya. Oh ya, Levi saya bawa pulang dulu ya. Ibuku rasanya tidak bosan-bosan menginterogasi Levi. Mungkin takut tunangan anaknya ternyata seorang anak band berandalan yang sering dugem dan pake narkoba,” ceriwis Clarissa.

“Hei, aku ini anak rohis juga. Ga mungkin kan ikut-ikutan dugem dan sakau. Bisa ditendang dari rohis aku,” bela Levi gencar. Kami tertawa mendengar pembelaannya yang seperti anak kecil.

“Sudah ya, Nanda. Kami pergi dulu.”

Aku melambaikan tangan dan tersenyum simpul pada mereka berdua. Ya, Levi sudah memiliki tunangan. Clarissa, teman baikku yang dulu memberi tahu siapa laki-laki yang kupandang di perpustakaan kala SMA dulu. Laki-laki itu adalah Levi, pacar Clarissa sejak SMA. Aku dan Clarissa berteman dekat sejak SMP. Kami sering curhat dan berbagi apapun bersama. Di SMA, kami ikut kegiatan yang berbeda hingga jarang sekali bertemu. Sampai suatu hari kuceritakan tentang laki-laki di perpustakaan itu yang ternyata adalah pacar Clarissa. Sungguh, terasa nista ketika aku ternyata mulai menyukainya seiring makin seringnya aku memandangnya dari kejauhan di perpustakaan SMA. Kucoba pendam rasa itu dan menyibukkan diri dengan kegiatan akademik dan ekstrakurikuler. Pertemuan dengan Levi lagi di perpustakaan membuat perasaanku padanya kembali mencuat dan malah makin bertambah. Aku tahu sudah tidak mungkin aku mengambilnya dari sahabat baikku setelah lamanya hubungan mereka. Biarkan perasaan ini Levi rasakan, aku simpan dan tersembunyikan dari Clarissa. Kini aku merasa tak bisa lagi merasakan hidup tanpa memandangnya. Sebagian hatiku kini ada pada Levi dan tak mungkin bisa aku tarik lagi.

 

Read Full Post »