Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2013

Artikel berikut saya kutip dari Intisari edisi Februari 2004 yang ditulis oleh Darnoto dan Yds.Agus Surono dengan judul asli ‘Hamengku Buwono X, Memimpin Dengan Hati Rakyat.’ Sekilas membaca artikel ini langsung teringat kepada Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta di tahun 2013 ini, Bapak Joko Widodo dan Bapak Basuki CP yang begitu mengabdi untuk rakyat. Banyak hal yang patut disebarkan dari teladan Sri Sultan yang disebut di artikel ini. Saya hanya mengutip yang saya anggap sangat mengena ketika Sri Sultan HB X berbicara mengenai ayahnya, Sri Sultan HB IX. Berikut isi artikel tersebut:

***

Tak banyak bicara, menyimpan teladan di balik tindakan, itulah potret ayah yang menancap dalam kenangannya. Almarhum tak mau menulis otobiografi, lantaran tak ingin menonjolkan ketokohannya dalam revolusi kemerdekaan.

“Sekarang, setelah saya menggantikan kedudukannya barulah saya paham. Seorang pemimpin tak boleh mengharap imbalan dari rakyat . Walau sekadar pujian sekalipun.”

Pernah, ketika Pemerintah RI ingin memberi gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Sultan HB IX, pihak ahli waris diwajibkan mengisi formulir permohonan. “Saya menolak. Kalau pemerintah mau memberi penghargaan pada orangtua kami, silakan. Tapi kalau saya harus mengisi formulir permohonan, walau itu procedural, saya tetap menolak, sebab kesannya kami minta penghargaan,” nada suara penggemar golf dan renang ini mengental tegas.

Ketegasan sikap si anak sulung ini telah dibaca jauh -jauh hari oleh Sultan HB IX. Sering terjadi dialog – dalam bahasa Indonesia, agar pupus kesenjangan ayah dan anak – tentang segala peristiwa di Tanah Air. “Beliau menanyakan sikap politik atau visi saya. Terjadilah pendewasaan lewat dialog dan diskusi.”

Suatu hari, sebulan sebelum ayahandanya wafat, ia ditanya, mau hidup mukti atau mulya? Putra Mahkota yang telah bergelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataramitu memilih yang pertama.

Mengapa?

“Kalau mukti, seluruh diri saya diabdikan untuk kepentingan orang lain. Sedangkan mulya cenderung untuk diri sendiri.” Setelah terdiam sejenak, HB IX bicara penuh wibawa, “Kalau Mas Jun (nama kecil HB X) pilih hidup mukti, maukah berjanji untuk bisa mengayomi semua orang, termasuk yang tidak suka padamu, Kedua, tidak melanggar peraturan negara. Ketiga, tak boleh punya ambisi apapun kecuali meyejahterakan rakyat. Dan keempat, lebih berani menyatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah …”

“Lebih berani dari siapa …?” sela sang putra mahkota.

“Dari saya. Zaman Bung Karnodan Pak Harto, kalau beda pendapat, saya pilih diam. Ternyata itu salah,” bergetar suara penggagas (asli) Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berhasil menguasai Yogya selama enam jam itu.

Saat duduk di Dampar Kencana pada 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) ketika penobatan dirinya menjadi Sultan hamengku Buwono X, ia membatin, akan membawa mati keempat janji itu.

Keberanian itu ia buktikan, ketika seminggu setelah jumenengan (penobatan) , datang “seseorang” menanyakan komitmennya pada Pak Harto selaku presiden.

Dengan tegas ia katakan, “Sebagai rakyat biasa saya loyal kepada Pak Harto sebagai Presiden RI. Sebagai individu, saya loyal pada bangsa dan negara. Sebagai generasi muda, saya loyal pada Pak Harto sebagai generasi tua. Namun, saya berharap Pak harto memberi kesempatan pada generasi muda untuk berproses dalam kehidupan bernegara, jangan justru mematikan generasi muda.” Jawaban inilah (mungkin) yang membuatnya kurang disukai pihak Cendana, apalagi ia ungkapkan hal itu berkali-kali secara terbuka.

Puncak keberaniannya terjadi ketika sejak 14 Mei 1998 ia tampil di berbagai tempat menyuarakan pembelaan pada rakyat. Setelah berpuasa sebulan penuh (19 April – 19 Mei 1998), kemudian ia mengadakan pisowanan agung di Alun-alun Utara, dengan jutaan rakyat Yogya menggerumuti sepasang beringin kurung pada Rabu 20 Mei 1998. Apel raksasa yang mengeluarkan Maklumat Yogyakarta yang mendukung Gerakan Reformasi itu mencair begitu saja, tanpa kerusuhan. Kharisma Sultan HB X dan wibawa keraton dipertaruhkan. Esoknya, 21 Mei 1998, Soeharto lengser.

***

Mukti atau Mulya. Rasanya di zaman sekarang banyak sekali fenomena orang yang memilih mulya ketimbang mukti. Punya pamor bagus di depan khalayak ramai tapi niatan untuk mengabdikan diri sesungguhnya kurang. Ditambah dengan maraknya sosial media dan fasilitas-fasilitas lainnya. Banyak sekali orang yang gila pencitraan. Contohnya saja yang saya baca di buku “Parlemen Undercover” karya Abu Semar, banyak sekali pejabat-pejabat kita yang menyewa media untuk menyebarkan berita sangat baik tentang dirinya terbebas dari bagaimana kinerjanya di parlemen untuk mewakili rakyat. Bahkan dari yang dekat-dekat saja, saya mendengar cerita adanya seorang santri yang demi kepamorannya meminta diri untuk mengadakan ceramah di luar negeri tanpa tujuan. Hanya untuk sekadar pamer bahwa dirinya pernah berceramah di negeri seberang. Sungguh, orang yang punya kapabilitas untuk menjadi mulya saja memilih untuk hidup mukti. Kenapa kita yang kemampuan hidup mulya saja belum tentu ada malah mendewakan segala cara untuk hidup mulya.

خير الناس أنفعهم للناس

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Jadi, mau hidup mulya atau mukti? Sekali lagi itu pilihan.

Read Full Post »