Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2014

Namaku Srikandi

Namaku Srikandi, Kang Mas
Aku titisan Dewi Amba untuk membalaskan dendam pada Bhisma
Aku datang ke sini untuk berguru ilmu berperang dan memanah
Hari pembalasan akan datang bagi Bhisma dan aku penyelesainya

Namaku Srikandi, nama pemberian ayahanda Drupada
Nama asliku Srikandini dimana aku dilahirkan selayaknya wanita
Ayahanda terkejut melihat diriku harus menjadi titisan Amba
Ketika aku kecil dengan polosnya mengalungkan puspamala tanpa nama

Namaku Srikandi, nama seorang pria
Nama yang kudapat ketika ayahku tersayang terkejut akan takdir nyata
Aku ditukarkan dengan seorang yaksa dimana ia menjadi yaksini dan aku menjadi pria
Mencoba menghindari takdir namun sayang yaksa mangkat dan aku kembali jadi wanita

Namaku Srikandi, Kang Mas
Aku adik iparmu, adik dari Drupadi istrimu tersayang
Seperti yang kau ketahui aku ini entah pria entah wanita
Ada perasaan lemah yang kumiliki tapi ingin mengayomi seperti pria

Namaku Srikandi, Kang Mas
Sejak kecil aku dibesarkan layaknya seorang pria
Diberikan pedang dan panah sebagai teman berbagi kebijaksanaan
Dididik untuk menjadi panglima perang bukanlah menjadi putri raja

Namaku Srikandi, Kang Mas
Ketika aku seorang pria, aku pernah memiliki wanita tersayang
Seorang yang ingin kujadikan teman seumur raga dan jiwa
Namun ia bertanya-tanya akan kejantanan seorang mantan wanita

Namaku Srikandi, Kang Mas
Setelah sang yaksa berpulang aku pun kembali menjadi wanita
Perasaan lemah mengurung dada mulai menyiksa raga dan jiwa
Keinginan kuat menjadi lembut seketika karena perasaan menyesak

Namaku Srikandi, Kang Mas
Saya datang kemari meminta bimbingan dari ksatria lembut nan perkasa
Untuk mengajari saya ilmu berperang dan memanah tepat sasaran
Tidak perlu membunuh banyak orang karena hanya Bhisma yang jadi incaran

Namaku Srikandi, Kang Mas
Fakta bahwa aku perempuan yang memiliki perasaan lembut lagi lemah
Memohon bimbingan selembut sutra lagi sekeras tempaan logam
Kata-kata lembut untuk feminitas dan tekanan fisik untuk maskulinitas

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Sama seperti wanita lain pada umumnya yang lemah pandangnya
Mohon maaf apabila hati ini tidak bisa tetap pada tempatnya
Seperti wanita lainnya, saya mungkin akan jatuh hati pada anda

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Dua sisi feminitas dan maskulinitas membuat saya seringkali bimbang
Inginkah saya beristri atau inginkah saya diperistri orang
Ingin rasanya menggenggam tangan wanita namun ingin dilindungi pelukan pria

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Aku adik iparmu yang penuh dengan kekurangan
Perasaan yang ada untukmu pun juga penuh kebimbangan
Yang jelas dariku hanyalah rasa ingin berkembang mengarah pada tujuan

Iklan

Read Full Post »

Lantai kayu yang berderit ini sudah lama tak kupijak
Gema suara alunan nada tak lagi bergaung dari dinding retak
Cermin di sekeliling jarak pandang sudah tak lagi meniru gerak
Palang logam mengitari ruang tak lagi lengkap dan berkerak

Teringat kostum merah yang kukenakan bersama piring di tangan
Teringat kostum hijau yang kukenakan bersama tombak di genggaman
Teringat kebaya encim yang kukenakan bersama sarung tersampir di pasangan
Teringat kemben hitam yang kukenakan bersama bokor dan bunga setaman

Semua dimulai di sini
Tidak hanya kisah tari
Tapi juga kisah cinta sedih
dan kisah harapan yang bertepi

Sudah selesai semuanya, gamelan yang bertabuh sudah selesai
Nyanyian dari tenggorokan sang syekh dan tabuhan gendang sudah berakhir
Tiada lagi alunan nada, peluh bercucur dan tangis tergenang
Sepi, sunyi, kosong ditinggalkan mati oleh para penari

Aku dengan hatiku yang sama kosongnya kembali ke sanggar
Ingin memulai hentak pertama kembali menghidupkan asa
Kuhidupkan stereo lama yang menyimpan rekaman usang
Kucoba mengingatkan satu demi satu gerakan yang lapuk dimakan usia

Sekali gerakan meloncat membuatku terjatuh
Aku sadar kali ini aku menari bukan untuk bercerita
Aku menari untuk mengeluarkan riuh di dada
Kesedihan mendalam ditinggalkan seorang tercinta

Kaki sudah tergetar untuk menginjak lantai kayu
Kaki sudah tergetar tidak dapat diajak menuju meja dapur
Kaki sudah tergetar untuk memulai hidup baru
Kaki sudah tergetar tidak ingin melihat nisan kian lebur

Oh hati tolong berhentilah menangis
Getaranmu begitu hebat membuat kaki ikut meringis
Tiap degupan jantung bagai silet yang mengiris
Cahaya matahari hangat pun selalu terasa bagai gerimis

Oh hati yang terus tergetar
Aku sampaikan salam dari kaki telah ikut tergetar
Kuhidupkan kembali semua yang sudah mati
Gerakan, tari, alunan musik dan mungkin ia yang sudah mati

Biarkan aku dan dia terus hidup dalam tarian
Tarian yang membawa kami bersama
Tarian yang membawa kami satu dalam jiwa dan asa
Biarkan aku dan dia terus hidup dalam alunan jiwa

Kaki tolonglah engkau terus menari dan melangkah
Demi hidupnya hati yang terus merana dalam duka
Biarkan hati ini dalam kondisi damai dan tentram
Agar engkau tidak perlu terus tergetar dan payah

Read Full Post »

Anak Ayah yang Tercantik

Hari ini adalah hari besar untukku
Hari dimana aku akan pergi dari rumah orang tuaku
Hari dimana seorang pangeran meminangku
Hari dimana ayahku memindahkan tanggung jawab atas diriku

Kepada seorang yang belum terlalu lama dikenalnya
Kepada seorang yang tidak sampai setengah dari bilangan usianya
Kepada seorang yang baru seumur jagung pengalaman hidupnya
Kepada seorang yang berjanji akan membahagiakan putrinya

Aku bertanya-tanya setiap harinya akankah hari ini datang
Mencari dan terus mencari padanan ayah yang seimbang
Lawan jenis yang akan menjadi teman sekaligus sandang
Lelaki yang akan menjadi ayah anakku yang cemerlang

Oh, hari ini dia datang ayah
Tangisku pun tidak terbendung menggenang basah
Kakiku bergetar untuk kemudian menyapa tanah
Melihat kebaya putih tergantung aku merasa payah

Sekian tahun lamanya aku memimpikan hari ini
Bukan, mimpi ini sudah datang sejak aku sanggup menulis
Aku ingin menjadi pengantin membawa mawar putih
Menikahi seorang tampan lagi pintar seperti ayahku sendiri

Ayah, Aku akan berpisah denganmu
Tidak lagi tinggal bersamamu
Tidak lagi bergelayut manja di pundakmu
Tidak lagi setiap waktu meminta kehadiranmu

Ayah, nanti
Ketika aku hendak pergi, aku akan meminta ijin suamiku
Ketika aku ketakutan, aku akan berlindung di dalam rumah suamiku
Ketika aku menangis kesepian, aku akan berada dalam dekap lengan suamiku

Ayah, engkau melemparkan pesta besar laksana festival untuk kepergianku
apakah engkau senang kewajibanmu terlepas dari pundakmu
apakah engkau senang aku tidak lagi perlu merepotkanmu
apakah engkau senang akan ketiadaanku di rumahmu

Hendak berjingkat aku keluar kamar rias ketika aku melihatmu
Bersama belahan jiwamu yang sedang menyeka air matamu
Aku melihat gurat welas asih lagi gagah yang menghiasi wajahmu
Menjadi layu lagi bersedih penuh haru biru seperti bukan dirimu

Melihat wajah itu kututup pintu kamar riasku
Bukan, aku tahu itu bukan wajah kesenangan akan kehilanganku
Pesta ini ada sebagai kado terakhir untuk membahagiakanku
Sebelum anak barunya memberikan seluruh usahanya untuk ceriaku

Kuambil kebaya putih yang baru berumur dua minggu itu
Aku bersiap di depan kaca mengambil bedak dan mulai menyaput
Kusampirkan pula hijab berhiaskan manik dan payet terdesain khusus
Kuminta adik dan sahabat baikku menghiasi kepalaku dengan melati nan harum

Ayah, kini aku tak ragu
Sama seperti ayah yang menyiapkan acara indah penuh beludru
Menunjukkan betapa aku adalah anak tersayangmu
Dimana pesta terakhirmu untuknya sanggup menghabiskan pundi-pundimu

Ayah,
aku ingin tampil secantik mungkin di pesta terindah yang pernah diberikan ayah
Bukan untuk suamiku, bukan untuk teman-temanku, tapi untuk ayah
Aku ingin menunjukkan pada dunia betapa cantiknya anak ayah

Dunia harus tahu betapa ayahku adalah ayah terhebat
Dapat membesarkanku hingga segagah srikandi, secantik mawar, seanggun angsa
Dunia harus tahu betapa ayahku adalah ayah terhebat
Dapat menjadikan putri kecilnya seorang ratu di istana dengan singgasana penuh asa

Read Full Post »

Sama

Pernah aku bertandang ke sebuah pulau berwarna hijau di ujung sana
Pulau yang selang setengah tahun telah menarik hatiku bersamanya
Pulau yang mana tiada tanaman dapat tumbuh kecuali rumput para domba
Pulau yang mana tunduk pada senjata dan merahasiakan budayanya

Sudah beberapa tahun sejak aku pergi meninggalkan pulau tersebut
Pulau yang mengajarkan aku bagaimana baiknya tutur kata menyambut
Pulau yang senantiasa membuka pintunya untuk para pengelana tanpa selimut
Pulau yang berusaha bangkit dari keadaan yang kian surut

Kini aku berada di sebuah pulau hangat berbentuk kerucut
Pulau yang memiliki gunung dan indahnya pasir pun tak luput
Pulau yang mana hamparan padi menghiasi daratan bagai selimut
Pulau yang ombaknya selalu membuat hatiku terhanyut

Sama mungkin sama
Seperti dijelaskan sebuah teori mengenai perbedaan jarak dan besarnya pulau
Aku pun mulai jatuh cinta
Aku mulai ingin mengenal pulau ini seperti cintaku pada sang pulau hijau

Keramahan yang kurasa
Kehangatan yang kudamba
Kenikmatan yang kutenggak
Kepuasan hati yang kugenggam

Semuanya sama

Betapa terbukanya sebuah populasi yang hidup sendiri di sebuah pulau
Tiada pernah menghakimi hanya mengambil yang diperlu tanpa menuntut
Kebaikan hati yang terbuka membuat benua tidak lebih baik dari pulau
Yang terus menambahkan keragaman dengan keterbukaan dan saling panut

Oh lihat betapa mereka menamakan satelitnya sebagai inis
Oh lihat betapa mereka menamakan satelitnya sebagai gili
Tiga satelit yang mengitari satu pulau pembawa cita
Dimana untuk mencapainya aku harus mengitari ketiganya

Satu kali adalah kebetulan, dua kali bukanlah sebuah candaan
Mungkin Tuhan ingin menyampaikan sesuatu yang tiadaku paham
Pulau hijauku, pulau kerucutku yang dalam benakku terus berkeliaran
Maaf mungkin belum kutahu mengapa Tuhan membiarkan langkahku terhujam

Dua hal yang sama di tempat dan waktu yang berbeda
Mungkin takdir mungkin juga hanya kebetulan semata

Read Full Post »