Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2015

Musim panas membawa keceriaan semu
Ketika ia datang, ceria berpadu
Ketika ia pergi, ceria pun melayu
Membiarkan jeruk di depanku tak tersentuh

Musim panas membawa kau padaku
Sebagai seorang teman dan pembantu
Tak kuketahui ternyata kau pesaingku
Namun sekarang selayaknya dua menjadi satu

Bercerita engkau tentang seorang putri
Terpuja cantik lagi akhlaknya terpuji
Suaranya laksana nyanyian peri
Bagimu pecinta musik aku tahu sangat berarti

Kita bekerja selayaknya matahari tak pernah padam
Pagi muncul berganti sore dan bertandanglah malam
Hidupku bergantung pada melihat cahaya temaram
Jeruk itu kau sampaikan ke depanku yang awam

Jeruk itu pengganti matahari dan sebuah ciuman penenang
Seperti nama eloknya dalam bahasa negeri seberang
Setiap pagi jeruk itu menjadi penghibur hati yang tegang
Akibat jabatan terlalu tinggi yang tak pernah kupegang

Musim panas berakhir saatnya kembali ke kehidupan dingin
Jabatan tangan dan kecupan di pipi meninggalkan rasa masin
Aku tak akan pernah bertemu kau lagi di kesempatan lain
Kau berjanji bahwa maya pun bisa menjadi ajang menjalin

Putri selayaknya peri ternyata memberi titah
Padamu untuk selalu ada di sampingnya menatah
Sebuah hati yang ternyata ia siapkan mentah
Meninggalkanku tepekur mencari serpihan hati di tanah

Jeruk yang sudah kusiapkan akan kukirimkan
Pada tiap musim panas untuk mempererat hubungan
Ternyata hanya terdiam di depanku tak lagi bertuan
Jeruk dan musim panas sebuah hikayat yang tak berpasangan

Read Full Post »