Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2016

beyinke

Saya tergerak untuk menulis ini dikarenakan melihat beberapa teman yang menyebarkan status-status yang berisi penolakan terhadap sistem patrilineal yang berpihak pada laki-laki dan seolah menekan perempuan. Saya perempuan dan saya tumbuh besar dengan menolak sistem patrilineal masyarakat. Dulu, saya ingin mendobrak itu, menjadi wanita yang memang sama superb-nya dengan laki-laki. Dulu, saya ingin menjadi wanita yang sejajar dengan lelaki, sama kuatnya, sama cerdasnya, bukan sekedar menjadi ibu rumah tangga yang kerjanya hanya masak, nyuci, dan ngurusin suami di atas ranjang (ini tidak ada maksud menghina pekerjaan IRT, simply pendapat saya waktu masih sangat awam kala remaja). Tulisan ini hanya refleksi batin dan mungkin pengambilan makna dari sedikit ilmu yang saya cowel sana-sini dari berbagai sisi kehidupan. Kalau ada hal-hal yang dirasa perlu diperbaiki dan diberi masukan, saya akan menerima dengan senang hati karena maklum, saya bukan terbilang ahli dalam bidang filosofi, antropologi, primatologi, atau bahkan ilmu agama islam. Jadi jangan jadikan tulisan saya sebagai referensi, hanya bahan renungan saja.

Jadi kita mulai dengan fitrah(1). Karena saya seorang saintis, biolog terutama, saya mengambil makna fitrah sebagai tabiat bawaan atau naluri. Karena saya berpegang pada Quran namun tidak memungkiri kebenaran teori evolusi Darwin yang tidak bisa diekstrapolasi sehingga tidak pernah menjadi hukum evolusi, maka saya juga tetap menyamakan jasmani manusia sebagai hewan dalam Kingdom Animalia. Saya orang yang percaya bahwa Kun Fayakun itu tidak semata-mata terjadi begitu saja. Ada proses yang terjadi dibalik Kun Fayakun tersebut dan proses dari Kun Fayakun itu tidak terkecuali adalah evolusi yang membawa manusia pada fitrah (naluri) hewaninya. Manusia tercipta dari tanah (partikel), iblis dari api (energi panas), sedangkan malaikat dari cahaya (memiliki sifat partikel dan energi). Jadi tentu saja manusia sama dengan hewan lainnya yang meminjam atom-atom sebagai wadah jasmaninya yang asal mulanya tentu saja dari tanah (materi inorganik yang nantinya akan diubah menjadi materi organik oleh bantuan tanaman dan rantai makanan).  Jadi tolong, meskipun saya percaya evolusi, saya tidak pernah bilang manusia dan monyet itu sama, karena wadah jasmaninya saja yang sama, tapi hakikat akal yang diberikan Allah khusus pada manusia itu sesuatu yang lain lagi, di luar ranah sains atau mungkin saja belum terbaca pada sains saat ini. Maka, saya sendiri selalu mencoba menjadi manusia hakiki yang mencoba melawan fitrah jasmaniah saya sebagai hewan dan mencoba menjadi manusia yang menggunakan akal yang merupakan hak prerogatif manusia dari Allah, tidak ke hewan lainnya.

Dengan jasmani yang sesuai dengan teori evolusi, maka manusia tak lain tak bukan adalah primata, ya, sama seperti monyet, gorilla, kera, atau lemur. Secara hormonal, secara jasmaniah, kita sebagai manusia akan melakukan hal-hal yang meningkatkan kesuksesan evolusi kita, memiliki sumber daya yang cukup untuk kemudian memiliki anak yang sukses meneruskan keturunannya juga. Ilmu evolusi menitikberatkan ekonomi untuk satu tujuan egois dari materi genetik tubuh kita, meneruskan kopian dirinya ke generasi selanjutnya (2). Semua perilaku hewan dapat dijelaskan dengan mudah lewat konsep cost and benefit dari keuntungan evolusi jangka panjang, tidak terkecuali strategi mencari makan, mengorbankan diri untuk keluarga, dan tentu saja struktur kelompok sosial.

Alhamdulillah, saya hanya punya satu niatan hidup di dunia, beribadah. Dengan cara apa? Iqra’, membaca. Membaca segala yang tertulis dan tak tertulis. Hidup saya untuk belajar dengan berbagai macam pegangan (3) terutama:

Sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

فَـضْلُ الْعِـلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَـضْلِ الْعِـبَادَةِ، وَخَيْرُ دِيْنَكُمُ الْوَرَعُ .

 

Artinya: “Keutamaan ilmu adalah lebih baik dari pada keutamaan ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah ketakwaan.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (no. 3972) dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (ta’liq hadits no. 96 sebagai syahid), dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu’anhu]

Hal ini juga yang terus membuat saya belajar lebih luas. Dan entah dengan cara-Nya Allah mempertemukan saya dengan ilmu baru agar saya belajar hakikat fitrah jasmaniah manusia, primatologi.

Primata memiliki kecenderungan untuk memiliki sistem struktur sosial untuk memberikan keuntungan evolusi bagi mereka, diantaranya adalah terlindung dari predator, akses yang lebih baik kepada makanan, dan akses pada pasangan kawin(4). Keberadaan gender tentu saja tidak lain dan tidak bukan untuk kemungkinan adanya perkawinan, jadi kita sungguh tidak bisa menghilangkan itu dari persamaan kehidupan.

Hampir setiap makhluk hidup advance memiliki sel telur yang secara ukuran jauh lebih besar dan memiliki setiap sumber daya untuk bakal anak dikemudian hari. Sedangkan sel sperma hanyalah sel kecil yang berenang membawa materi genetik dan sumber daya yang mencukupi perjalanannya menuju sel telur (jadi jelaslah ya kenapa cowok selalu travel light tanpa bawa apapun, dan cewek selalu at least bawa tas kecil, secara fitrahnya memang begitu :p). Begitupun sebenarnya cost yang akan dikeluarkan betina untuk menyukseskan dirinya secara evolusi (punya anak) akan jauh lebih besar ketimbang pejantan. Pejantan hanya perlu akses yang mudah kepada betina yang siap kawin, sedangkan betina harus selektif terhadap pejantan karena ia harus memastikan pejantan yang ia pilih memiliki sumber daya yang cukup untuk membantu anak yang akan ia lahirkan (see the point? Now, you know why boy loves bitches – easily accessible, and why girl tends to be gold-digger, it’s all natural).

Pada primata, yang lebih banyak dilakukan adalah model berkelompok satu jantan banyak betina. Mengapa? Karena memang pengasuhan anak benar-benar membutuhkan energi yang besar. Seorang ibu harus dibantu untuk merawat bayinya, entah oleh pasangannya sendiri atau oleh saudara-saudaranya. Karenanya pola matrilineal akan jauh lebih menguntungkan dimana betina-betina berkumpul dan saling membantu, sementara pejantan akan pergi bersama pejantan lain dan menghindari agresi dengan pejantan pemimpin kelompok. Pola yang sangat matrilineal, bukan? Memastikan sumber daya kepada anak yang jelas dari DNAnya karena ibu pasti tahu yang mana anaknya, sedangkan bapak tidak. Karena ketidakpastian paternitas itulah agresi akan sangat tinggi dan pejantan yang kuat akan mengusir pejantan lain dari kelompoknya. Hal ini untuk memastikan bahwa anak yang dilahirkan di kelompok adalah anaknya sendiri, bukan anak pejantan lain. Pola matrilineal. Menariknya, jantan tidak menunjukkan agresinya kepada betina tapi kepada pejantan lainnya.

Tiba kepada manusia, pejantan dengan pola agresinya mencoba menekan betinanya dengan falsafah fitrah yang sama, yaitu kepastian paternitas. Ketika seorang wanita sudah menikah, ia menjadi terbatas untuk keluar rumah, tidak boleh menjadi dominan, parahnya di masa lalu adalah wanita benar-benar ditekan tidak boleh berekspresi. Menjadi pejantan adalah dominansi terbaik, ia yang menguasai segalanya dan dianggap memiliki power dengan agresinya dengan testosteronnya. Awalnya, wanita sebenarnya yang memiliki pilihan untuk memilih pejantan mana yang akan ia nikahi, pejantan yang memiliki sumber daya yang baik untuk anak-anaknya. Namun, seiring dengan patrilineal yang kebablasan, wanita diinjak-injak. Dianggap nista memiliki anak wanita karena kasih sayangnya, karena ketulusannya, dan fitrah yang dimiliki hati nurani manusia, berbakti pada suaminya. Pejantan-pejantan masa lalu terlalu menuruti kata jasmaninya selayaknya primata non-manusia lainnya, yang beranggapan bahwa wanitanya bisa saja berselingkuh dengan pria lain, memiliki anak dari pria lain, sehingga kepastian paternitas haruslah dipastikan. Wanita harus dibatasi pergerakannya. Bukannya mengusir pejantan lain, yang dilakukan laki-laki kita justru mengekang wanitanya.

Namun, yang terjadi sekarang justru penolakan patrilineal yang kebablasan. Banyak dari kita lupa falsafah telur dan sperma tersebut. Bahwa sesungguhnya wanita lah, betina lah, yang terhormat dan memiliki sumber daya sangat tinggi. Pejantanlah yang harusnya datang dengan segala sumber dayanya sedemikian rupa mendekati betinanya untuk dikawin. Wanita mengekspos seksualitasnya, yang mana sebetulnya tidak menyaring pejantan-pejantan dengan kualitas baik karena kita menjual murah sel telur kita. Fitrah manusia sebagai salah satu hewan juga adalah mengurus anaknya dengan sumber daya yang terbaik yang ia miliki dan menyapihnya ketika dewasa. Menjadi ibu rumah tangga adalah fitrah karena mengikuti fitrah jasmaniah yang akan menyiapkan anak-anaknya sebagai bagian kesuksesan evolusi dirinya. Sejak saat itu, justru saya memilih jadi ibu rumah tangga di kala saya memiliki anak nanti dan menyapihnya sedikit demi sedikit hingga usia baligh. Patrilineal di mana ibu diminta untuk ada di rumah dianggap menyiksa kebebasan wanita. Meminta wanita berhijab dianggap mengekang kebebasan wanita. Mungkin kita sudah kebablasan.

Islam datang untuk menyeimbangkan, menyeimbangkan fitrah hati nurani kita yang sudah dianugerahkan Allah sebagai manusia dan menyeimbangkan fitrah jasmaniah kita sebagai hewan. Kebijakan yang sangat mengkompensasi jasmaniah manusia tentu saja, kebijakan Islam dengan membolehkan laki-laki memiliki empat istri, dengan prasyarat harus bisa adil (5). Adil adalah kepuasaan istri, keridhoan istri. Keputusan poligami ini sekali lagi sesungguhnya secara evolusi bukan ada di suami. Sesuai dengan fitrah jasmaniah manusia sebagai primata,  sesungguhnya ada di istri. Bahwa ketika pejantan memiliki sumber daya yang begitu berlimpah dan mampu menghidupi diri dan anak-anaknya kelak, maka betina tidak masalah mengikuti jantan tersebut di dalam haremnya. Keputusan ada di wanitanya, bukan di pejantan. Cemburu dari istri juga respon alamiah, karena sesungguhnya ketakutan bahwa sumber daya dari suami akan dialokasikan kepada betina lain dan anak-anak dari betina lain tentu saja merupakan hal buruk bagi dirinya dan anak-anaknya. Makanya, reluktansi cenderung tinggi dari pihak istri pertama untuk menerima betina kedua. Fitrah jasmaniah.

Ikatan pernikahan juga merupakan kompensasi teradil dari adanya timpang antara kebutuhan pejantan dan betina dalam kesuksesan evolusi. Pejantan yang pada dasarnya akan menyebarkan benih ke banyak betina dan kebutuhan dari betina yang membutuhkan bantuan dalam membesarkan anak-anaknya. Ikatan pernikahan sesungguhnya sangat mengikat pejantan sehingga ia tidak dapat melakukan fitrah jasmaniahnya (sungguh lelaki yang berkomitmen dengan pernikahannya selalu saya anggap sebagai manusia sejati yang berbeda dengan hewan karena mampu menahan fitrah jasmaniahnya) untuk bertemu banyak betina dan mengawini sebanyak mungkin betina. Primata yang tendensinya cenderung merawat anak-anaknya dalam komunitas saudara-saudara wanita dekat mendapatkan kepastian perawatan anak dari suami, sehingga kedekatan dengan keluarga awal tidak selalu diperlukan dan memungkinkan manusia melakukan pergerakan yang lebih baik ketimbang primata lain. Kalau selama ini semua orang selalu mengatakan, mengapa Ibu harus ditaati karena ia telah mengandung 9 bulan 10 hari, maka sekarang saya mengatakan bahwa keistimewaan suami juga memang sudah merupakan haknya. Suami yang baik yang menahan fitrah jasmaniahnya dan menjaga sumber daya dan komitmennya untuk satu istri, sangat berhak untuk kepastian paternitas. Kalau hukum Islam hanya mengekang lelaki, tentu tidak adil bagi lelaki. Secara evolusi, kepastian paternitas, itu yang diinginkan oleh lelaki, maka Allah menempatkan ridho suami sebagai ridho-Nya juga (6). Suami yang menjaga sumber dayanya kepada istri berhak atas kepastian paternitas. Tidak keluar rumah tanpa ijin suami, tidak berpuasa Sunnah tanpa  ijin suami, dan adab-adab terhadap suami lainnya adalah sebuah guidelines tentang kepastian paternitas. Diharapkan suami tidak pernah sedetikpun berpikir ada ketidakpastian paternitas. Caranya ga mesti melulu sama dengan yang tertulis di berbagai adab yang ditulis hadits-hadits karena memang hadits muncul di tanah Arab di masa itu. Modernitas dan kultur berbeda dari tanah Arab tentu saja mengubah berbagai macam hal termasuk diantaranya tentu kebimbangan tentang kepastian paternitas itu, but at least you’ve got the point, jangan sekalipun menggoyahkan kepastian paternitas itu dan caranya bisa dikomunikasikan masing-masing antar pasangan.

Islam menempatkan wanita secara terhormat, sangat terhormat bahkan. Karena bisa jadi mencegah patrilineal kebablasan yang terjadi tepat sebelum Islam datang. Bahwa agresi atas dorongan testosteron yang sangat kuat, membuat wanita tidak bisa berbuat apa-apa. Agresi tidak lagi ditujukan kepada pejantan lain, tapi juga kepada wanita-wanitanya. Wanita direndahkan, tidak boleh ikut berdebat dengan lelaki, tidak boleh mendapatkan ilmu lebih. Quran berulang kali mengatakan secara sejajar untuk kata ganti pria dan wanita (mu’miniin wa mu’minaat, muslimiin wa muslimaat). Bahwa karena wanita dengan hormon oksitosinnya yang sangat penyayang dan pria dengan testosteron dan agresivitasnya sesungguhnya sama saja secara batiniah. Islam tidak pernah melarang wanita menjadi seorang pemimpin, seorang yang sukses, seorang yang memiliki karisma di mata masyarakat. Istri Nabi Muhammad SAW, Khadijah RA, saja sebelumnya adalah bos dari sang Nabi ketika berdagang, menunjukkan bahwa wanita secara perkembangan intelektual, mentalitas, dan batiniah bisa setara dengan laki-laki atau bahkan lebih. Namun, ketika dilihat dari sisi gender/seksualitas, patrilineal tetap lebih diutamakan atau kalau tidak, maka ketidakpastian paternitas akan membuat sistem keluarga menjadi hancur dan kepastian sumber daya untuk anak menjadi hancur pula karena anak tidak jelas hasil dari sperma siapa, dan kepastian sumber daya dari ayah yang mana tidak dapat dipastikan. Perlu digarisbawahi, men travel light, jadi kalau kepastian paternitas tidak terjamin, pejantan akan dengan mudahnya meninggalkan keluarga.

Jadi, gender ada bukan untuk disetarakan, tidak ada persamaan gender. Keduanya memilki strategi masing-masing dengan perkembangan evolusionernya masing-masing. Saya sendiri berhijab karena ingin menjaga diri dan ingin dipandang di luar dari seksualitas saya. Bahwa sel telur saya masih sesuatu yang mahal dan kalau ingin menjamah seksualitas saya maka akan lain urusannya dengan apa yang saya capai secara intelektual, mentalitas, dan batiniah. Patrilineal kebablasan memang menganggap wanita sebagai objek yang harus ditutupi, yang tidak boleh diekspos, tidak boleh dilihat oleh siapapun. Tapi, tolong lihat dari sudut pandang fitrah jasmaniah antara pejantan dan betina. Jika tidak ingin menjadi objek seksualitas, maka janganlah menjadi objek seksualitas. Tutupi seksualitasmu dan berjalan bersisian dengan gender yang berbeda. Tutupi yang harus ditutupi agar tidak mempermudah akses lawan jenis untuk mengaktifkan sisi jasmaniahnya. Sebaliknya pun sama, bukan tubuh sensual yang diincar oleh wanita secara fitrah evolusi jasmaniah, tapi kebaikan hati, kepedulian, dan segala bentuk pemberian yang memastikan bahwa anda adalah suami kompeten juga membuat lelaki dilihat secara seksual (saya dan teman-teman jujur saja juga suka memperbincangkan hal ini dan tampaknya betapa kami memandang laki-laki sebagai objek seksual: bisa dengan mudah diminta antar sana-sini, dimintain beli ini-itu, diminta tolong ini-itu, tidak ada bedanya dengan laki-laki yang memandang wanita secara sensual. Karena secara evolusi betina dan pejantan menarget hal yang berbeda, maka topiknya pun berbeda).

Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Coba tilik lagi guidelines yang diberikan agamamu. Tilik lagi, karena sesungguhnya agama diturunkan agar kita berperilaku lebih manusiawi dan tidak menuruti nafsu hewani yang sudah menjadi fitrah. Kalau ingin dinilai berbeda dari hewan, maka bertindaklah manusiawi dan kendalikan fitrah hewanimu. Sayangnya sekarang, manusia cenderung lupa dan cenderung menuruti nafsu hewaninya tanpa lagi bertanya pada ruhnya, pada batiniahnya. Tidak terkecuali saya yang terus tergelincir sana sini, karena kadang di dunia modern, suara hati nurani itu entah kenapa teredam, makin kecil dan makin kecil. Butuh perhatian khusus untuk mendengarkannya, butuh perhatian khusus.

 

(1) http://kuliahnyata.blogspot.co.id/2013/07/konsep-fitrah-dalam-al-quran_8004.html

(2) Dawkins, Richard. 1989. The selfish gene. Oxford: Oxford University Press.

(3) https://muslimah.or.id/2416-nikmatnya-menuntut-ilmu-bagian-2.html

(4) Fleagle, John G. 2013. Primate adaptation and evolution. San Diego: Academic Press.

(5) Quran Surat An-Nisaa’ ayat 3

(6) “Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya, maka ia masuk surga.” (HR. At- Tirmidzi).

Iklan

Read Full Post »