Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2016

Pikiran Piring Makan

20151204063321595

Hai, aku adalah sebuah piring makan putih terbuat dari keramik. Sudah dua puluh empat tahun aku tinggal di lemari keluarga Budiyanto ini. Aku memiliki tujuh saudara yang masing-masing kami memiliki tanda kecil di pinggiran badan kami yang berbeda-beda. Aku dipanggil Gajah oleh saudara-saudaraku karena gambar di pinggiranku adalah seekor gajah merah jambu. Saudaraku yang lain adalah Jerapah, Buaya, Kucing, Domba, Elang, Hiu, dan Capung. Elang sudah meninggalkan kami dari lama. Umurnya hanya setahun karena dulu dipecahkan oleh si sulung keluarga ini yang masih berusia tiga tahun. Hiu dan Capung juga sudah mangkat sepuluh tahun lalu ketika Bapak membuatkan lemari besar untuk tempat semua alat dapur. Ketika kami sekeluarga dipindahkan, Hiu dan Capung lepas dari tangan Ibu dan pecah berkeping-keping. Sekarang tinggal tersisa kami berlima yang menemani keluarga Budiyanto.

Keluarga Budiyanto terdiri dari lima orang keluarga inti dan satu pembantu rumah tangga. Aku adalah piring yang selalu dipakai si sulung, Jerapah dipakai si adik, Buaya dipakai oleh paman, Kucing dipakai oleh ibu, dan Domba dipakai oleh bapak. Sementara piring yang dipakai pembantu rumah tangga itu seringkali tidak ditempatkan bersama dengan kami karena bentuknya yang lebih cekung dan biasanya datang bersamaan dengan sekantung deterjen besar. Karena kami bentuknya cukup ceper dengan cekungan yang sama, kami sekeluarga selalu dekat dan berbincang satu dengan yang lain.

Sudah lima tahun, aku tidak lagi dipegang oleh si sulung. Tampaknya si sulung sedang pergi merantau entah kemana. Aku kadang-kadang dikeluarkan, namun seringkali tidak. Aku kangen dengan si sulung karena ia salah satu yang sangat senang makan. Aku bertemu si sulung ketika ia mulai berganti kostum sekolah berwarna putih dengan rok berwarna hijau. Aku salah satu yang paling sering dikeluarkan dan si sulung sering sekali menaruh banyak nasi ke atas kepalaku. Aku senang, aku sangat disayang.

Berbeda dengan si Jerapah yang kadang sering kesal sendiri. Si bungsu tidak senang makan. Kadang harus dipaksa-paksa. Dulu ketika si bungsu masih kecil, Jerapah lebih banyak dipegang Ibu ketimbang si bungsu. Jerapah tidak terlalu senang dengan si bungsu. Si bungsu sangat temperamental. Kadang kalau Ibu tidak dapat membujuknya makan, si bungsu sering hampir melempar Jerapah. Jerapah tampaknya sudah hidup dengan prinsip “hiduplah seakan mati esok hari”. Kejadian itu berulang sampai si bungsu sudah mulai memakai rok biru setiap pagi.

Salah satu hal yang kusenang dari keluarga Budiyanto adalah kami sekeluarga sering dikeluarkan bersama. Bapak ingin semua anggota keluarganya makan bersama di satu meja sehingga kami sekeluarga selalu ditumpuk bersamaan dan bisa mengobrol banyak seiring dengan keluarga Budiyanto juga mengobrol. Buaya yang kadang tidak ikut karena si paman seringkali pulang malam dan tidak ikut makan bersama. Paman kadang membawa buaya ke kamarnya dan makan sambil menonton televisi.

Yang paling punya banyak cerita tentu saja malah si Kucing. Kucing adalah yang paling sering dikeluarkan dari rak dapur. Ibu tinggal di rumah sepanjang waktu sehingga Kucing juga keluar di waktu siang. Tidak seperti kami yang keluar hanya pagi dan malam atau malah malam saja. Kucing bilang, dulu dia merasa seperti malaikat. Kepalanya hanya diisikan suatu hal yang putih saja atau ditambah selingan hitam kecap. Polos sekali. Dulu kadang hanya nasi yang sudah diuleg bersama dengan sambal. Karena polosnya, kadang kami sebut dia si Rambut Salon.

Beberapa kali, kami dapat tamu dari tetangga sebelah. Aku cenderung tidak senang menerima tamu ini. Mereka kerap kali mengeluh saja kerjanya. Katanya mereka setiap kali selesai dipakai makan didiamkan saja hingga berkerak. Kadang mereka bercerita kalau makanan yang ditaruh di kepala mereka biasanya hanya tersentuh sedikit saja. Selain mengeluh, mereka juga sombong sekali. Sementara kepala kami hanya diisi dengan makanan-makanan lokal, mereka bangga sekali diisi oleh Tom Yum, Sze Chuan, Tteobokki, Risotto, dan banyak lagi makanan yang aku menyebutkannya saja selalu salah. Mereka datang ke sini sering kali dengan makanan dingin yang tampaknya sudah ditaruh di atas mereka sejak kemarin. Aku sendiri tidak mau hidup seperti mereka. Meskipun hanya nasi, aku senang ditaruh sesuatu yang hangat di atas kepalaku. Satu hal yang aku senang juga adalah tidak pernah ada sisa makanan di atas kepalaku sehingga ketika dicuci aku pun hampir sudah bersih.

Dua tahun terakhir, si sulung sudah pulang, dan aku senang bukan kepalang. Aku sering dipakai lagi. Tapi si sulung tidak lagi makan banyak seperti dulu. Bahkan seringkali aku tidak pernah merasakan nasi di atas kepalaku. Pernah beberapa bulan si sulung bahkan tidak menyentuhku. Si sulung hanya makan camilan dari wadah platik berwarna-warni yang dipajang di meja tengah. Tapi, setiap malam, aku tetap ikut dalam ritual makan bersama meskipun di atas kepalaku hanya diisi sedikit. Meskipun aku dipakai sedikit, aku melihat si sulung makin tambah tambun. Kadang ia mengisiku dengan suatu roti yang disebut pizza dan memakannya sendirian dengan rintikan air mata. Kalau sudah begitu, biasanya aku hanya dicuci sehari sekali saja. Aku sangat sayang dengan si sulung. Tampaknya ada sesuatu yang terjadi padanya setelah pulang merantau.

Beberapa bulan terakhir, aku sekeluarga sering sekali diisi dengan makanan yang disebutkan piring tetangga sebelah. Pertama kalinya, aku senang dengan makanan-makanan baru ini. Terasa lucu dan aneh di kepala. Tapi, ada yang kurang, ada yang salah. Sekarang keluarga Budiyanto jarang sekali berbicara satu sama lain sehingga aku sekeluarga juga harus memelankan suara agar tidak terdengar. Masing-masing melihat ke sebuah nampan atau kotak kecil yang bersinar. Kucing juga makin sebal dengan kondisi bahwa makanan di kepalanya sekarang terus bersisa, padahal kami semua selalu bersih sebelum sampai ke tempat cuci piring.

Hari ini adalah hari yang kurang biasa. Aku melihat si sulung datang marah dan berteriak setelah berbicara dengan Ibu. Entah apa yang terjadi. Si sulung mengambil Buaya yang sudah lama tak dipakai karena Paman sudah pindah bekerja di pulau lain. Tampaknya si sulung tidak melihat corak di pinggir piring lagi dan salah mengambil Buaya yang semalam dipakai untuk menaruh kacang rebus.

Besoknya aku tidak lagi melihat Buaya dan juga tidak si sulung. Jujur aku cemas. Kemana keduanya? Dua-tiga hari tidak kulihat keduanya sampai hari keempat aku melihat serpihan Buaya dibuang ke sebuah kantong plastik hitam oleh seorang yang menggunakan sarung tangan. Yang mengerikan adalah pecahan Buaya itu memiliki warna merah di pinggirnya. Darah? Kami keramik, ketika pecah tidak mengeluarkan darah seperti manusia yang terjatuh dari …..

Itu darah si sulung.

Aku baru tersadar. Tampaknya si sulung terluka karena pecahan Buaya sama yang terjadi ketika ia kecil dulu terluka oleh Elang.

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat si sulung. Rumah sepi sekali selama seminggu hingga akhirnya keluarga Budiyanto pulang dan mulai mengeluarkan piring makan. Banyak sekali tamu-tamu dari tetangga sebelah, entah itu yang bentuknya piring melamin, piring kaca berwarna-warni yang selalu datang dengan kantung deterjen, tak lupa ada pula piring sesepuh yang bergambarkan gereja Eropa berwarna hijau, bunga tulip, ataupun pemandangan sungai dan bebatuan. Ramai sekali, aku ditumpuk di tengah-tengah piring asing. Semua orang yang datang juga berbaju hitam. Aku mencoba mencari-cari pandang ada di mana majikanku, si sulung yang kusayang itu. Aku tidak melihat dia berjalan-jalan, tidak pula teriakan cerianya.

Ketika piring dibagikan aku melihat ada sebuah kereta tanpa kuda yang ditutupi selimut berwarna hijau. Kereta itu juga tidak punya roda, diangkat oleh beberapa lelaki dari depan rumah menuju ke suatu tempat. Seluruh wanita yang lain termasuk Ibu dan si bungsu mengikuti dari belakang sambil menangis. Aku dan piring lain tergeletak begitu saja hingga malam menjelang dan aku dicuci oleh orang-orang asing.

Sejak saat itu, aku sekarang tinggal di lemari dapur tanpa pernah dikeluarkan. Aku kesepian dan hanya bisa mengetahui keadaan keluarga Budiyanto dari celetukan Jerapah, Kucing, dan Domba. Tiga bulan aku ada di lemari dapur untuk kemudian aku dipindahkan ke sebuah lemari kaca bersama sebuah boneka, sebuah piala, sebuah mug, dan foto si sulung. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan teman-teman piring di ruang makan juga saudara-saudaraku. Mudah-mudahan kali ini si sulung tidak merantau terlalu lama. Aku benci ada di rak kaca ini.

Read Full Post »