Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2016

Wanita-wanita Bapak

poligami

Aku terduduk di pojok dapur. Suara itu menggema di sekeliling rumah, bersahut-sahutan. Hampir setiap minggu sekali. Aku terduduk di antara pecahan piring dan gelas di dapur. Ah, suara sesuatu pecah terlempar lagi. Tampaknya vas kaca yang dibeli Ibu di pameran seni di Bogor waktu itu sudah tinggal puing. Aku merangkak dan meringkuk di bawah meja. Ah, lututku tergores beling dari gelas kesayanganku yang telah pecah berkeping-keping. Aku terdiam di sana menekuk lutut dan menangis.

Ini bukan kali pertamaku mengalami hal ini. Aku sudah muak, ini sudah terjadi berulang-ulang. Aku tidak tahu siapa yang harus kubela. Ingin rasanya keluar dari rumah ini. Penuh teriakan tanpa ketenangan lagi. Aku tidak tahu kapan semua ini dimulai. Mungkin ketika aku diajak bapak makan ke Lido, Sukabumi ketika aku masih kelas lima SD. Ketika itu aku pikir aku menang karena adik dan ibu ditinggal di rumah. Aku diperhatikan lebih dari adikku yang masih TK dan rewel itu. Namun aku tidak tahu waktu itu ternyata ada seorang wanita di sana. Bapak cuman berkata, “Perkenalkan Sita, ini anakku dari istri pertama, Abdullah. Panggilannya Bedul. Bedul ini ibumu juga.” Aku spontan melongo.

Bukan satu dua kali aku bertemu “wanita-wanita Bapak”, sudah tidak bisa dihitung jari lagi. Aku menolak memanggil mereka Ibu. Toh, mereka tidak pernah ada yang awet lebih dari 6 bulan bersama Bapak. Lagipula aku tidak tega melihat Ibu yang terus-terusan menangis karena bapak. Padahal Bapak seorang guru agama di sebuah sekolah negeri yang lokasinya lumayan dekat dengan rumah. Tapi entah mengapa Bapak berperilaku tidak berperikemanusiaan terhadap Ibu. Wanita-wanita itu memang istri sah bapak. Mereka menikah siri, bahasa agamanya atau menikah tanpa catatan sipil. Bapak selalu menjaga istri-istrinya selalu dalam batas Islam, tidak pernah lebih dari empat dalam satu periode. Semuanya pasti bapak kenalkan kepadaku tanpa sepengetahuan Ibu. Semuanya tak terkecuali.

Ibu yang dulunya seorang aktivis di universitasnya tidak mau tinggal diam. Ibu yang merasa dirinya telah diperlakukan tidak adil seringkali mencari tahu data-data tentang istri baru bapak. Ibu tidak pernah ragu untuk membawa senjata tajam atau kadang memanggil polisi. Acungan senjata tajam sudah menjadi pemandangan biasa di dalam rumah ini. Pernah Ibu menyeretku dan menanyakan kepadaku di mana rumah istri yang baru saja diperkenalkan oleh Bapak. Bersama beberapa anggota polisi kami menyambangi rumah tersebut. Semua ribut dan teriakan terdengar di sana sini. Ibu seringkali menampar istri baru Bapak atau Bapak yang kadang memukul Ibu. Beruntung aku ataupun adik tidak pernah mendapatkan bogem mentah dari Bapak atau Ibu. Hanya saja teriakan, pecahan kaca setiap hari membuatku tidaklah bisa menganggap rumah tempat tinggal. Ini sebuah medan perang.

Buruknya puncak dari segala masalah selalu terjadi di saat aku akan menghadapi Ebtanas. Tiga tahun lalu dan juga hari ini. Besok ujian Matematikaku sama seperti tiga tahun lalu. Aku tidak mengharapkan hal ini terjadi namun aku sudah belajar dari jauh-jauh hari untuk menghindari hal yang mungkin terjadi. Hari itu, Bapak pulang ke rumah sekitar jam setengah sepuluh, adik-adik sudah tidur. Tampak tenang awalnya. Bapak meminta kopi hitam dan Ibu membuatkannya. Aku belajar di meja makan, mencoba mencerna hitung-hitungan bangun ruang yang sudah kulupakan setelah ulangan harian setahun lalu. Kemudian Ibu menaruh gelas kopi itu dengan sedikit gebrakan di depan Bapak.

“Nih kopinya, jadi si Arum ga nyediain ya di sana?” ketus Ibu.

“Oh, tadi ga pulang ke sana. Lagi di rumah orang tuanya,” Bapak menjawab santai.

Saat itu pula Ibu datang cepat ke arahku. Menjewerku sambil menyeretku ke depan Bapak.

“Arum, Dul! Arum! Nama siapa lagi yang belum kamu sebutkan ke Ibu, hah? Kamu senang ya Ibu malu dengar semua dari tetangga? Senang?”

“Ibu. Sakit, Bu. Sakit!” jeritku payah. Aku mulai menangis.

“Nangis kamu? Nangis? Memang Ibu tidak sedih, memang hati Ibu tidak sakit? Anak pertama Ibu yang Ibu gadang-gadang membela si hidung belang ini?” teriak Ibu sembari mengambil gelas kopi yang masih panas itu dan menyiramkannya ke muka Bapak.

Dan seketika tamparan itu mendarat di pipi Ibu. Tidak keras tapi cukup memulai pertengkaran hebat. Adu argumen makin keras, tak terarah. Ibu mulai mengambil beberapa barang pecah belah dari atas meja. Gelas kesayangan yang kudapat dari teman dekatku yang pindah ke Australia jadi salah satu sasarannya. Aku hendak mengambil kepingannya sebelum remuk terinjak namun terlambat. Pecahan itu terinjak sepatu ayah dan lututku tergores salah satu kepingannya. Teriakan makin meninggi dan aku hanya menangis di bawah meja. Aku lelah, aku lelah.

Saat itu, aku melihat pintu dapur terbuka. Suara tinggi argument-argumen tak masuk akal itu memenuhi pikiranku. Pandanganku kabur karena air mata yang menggenang. Nafasku sulit karena sesenggukan. Aku tidak mengerti bagaimana, namun ketika pikiranku cerah aku sudah berada di seberang jalan. Aku naik salah satu angkot yang menepi mencari penumpang. Kurogoh kantongku. Masih ada tiga lembar seribuan sisa uang jajan minggu ini. Entah apa yang akan kulakukan mengingat besok hari Ebtanas matematikaku. Angkot ini yang biasa membawaku ke sekolah. Kubiarkan angkutan ini membawaku ke sekolah di jam yang tidak biasa ini.

***

Hari ini ulang tahunku ketiga puluh dua, bersamaan dengan hari pernikahanku. Wanita di sampingku baru kukenal sekitar setahun lalu. Seorang yang begitu berprestasi, santun, ramah, dan idaman setiap mertua. Aku bertemu dengannya ketika menyelesaikan disertasiku di salah satu universitas negeri di Jakarta. Istriku ini anak bungsu dari salah satu petinggi ormas agama yang begitu disegani. Tamu yang kusalami sedari tadi tidak ada yang kukenal. Istriku pandai membawa diri dan dengan ramah menyambut tamu-tamu dengan gelar yang begitu tinggi itu. Di sebelah jauh dari pelaminan berdiri Ibuku dengan senyum yang sangat menyenangkan hati bersama dengan seorang yang kukenalkan lima tahun lalu, salah satu board advisory di perusahaanku yang lama, seorang duda yang ditinggal mati belasan tahun lalu oleh istrinya. Bapak kuatur agar datang pada akad saja, sedang Ibu dan suami barunya bisa bertengger di pelaminan saat ini. Aku tidak mau merobek luka lama Ibuku. Beruntung Bapak datang sendirian tidak dengan serentet wanita-wanita yang sudah tak kukenal lagi siapa mereka semenjak lulus SMA.

Seorang yang kukenal dengan baik datang dan menyalamiku hangat, “Wah Dul, sudah insaf kamu ya sekarang. Cantik pula istri kau ini. Makasih ya diundang segala aku ini. Sampai tidak enak,” ujar Tigor yang saat itu terlihat sekali sangat berusaha untuk memakai pakaian tebaik yang ia punya dari lemari kain kecilnya. Tigor ini berandalan yang menemukanku sehari sebelum Ebtanas dan mengajakku ke kamar kostannya yang kecil untuk bermalam dan kemudian pergi Ebtanas esok paginya.

“Hush,” ujarku dan kemudian mencolek istriku hangat “Alhamdulillah sekali Maya mau sama aku, ya sayang?”

Istriku itu hanya tersenyum simpul dan malu-malu. Seorang yang benar-benar polos dan lugu, begitu hangat dengan sekelilingnya. Ada sedikit ketakjubanku bisa tiba-tiba memutuskan melamar perempuan sebaik dirinya dan diterima dengan baik.

Aku masih melihat kesana kemari menantikan undangan yang paling kutunggu. Aku memberikan undangan tersebut secara personal bulan lalu. Undangan yang mungkin kurang dinantikan oleh dirinya.

 

“Kamu yakin?” ujar teman istimewaku itu ketika aku memberikan undangan.

                “Tidak terlalu. Tapi keluarga sudah menyetujui. Ibuku senang dan keluarga calon istriku pun tidak memberikan pertanyaan aneh-aneh.”

                “Tapi, aku masih mencintaimu. Dan aku yakin kamu pun begitu. Apa yang begitu kurang?”

                Aku terdiam dan hanya menjawab, “Aku harap kamu datang.”

 

Sampai acara lempar buket selesai dan semua alat foto sudah dirapikan oleh fotografer, aku tak kunjung melihat dirinya. Aku menghela napas panjang. Waktunya untuk merapikan diri. Hari ini melelahkan sekali. Aku memeluk dan mencium pipi istriku yang harus melepaskan dandanan yang kurasa sudah cukup membebani dirinya yang tidak terbiasa berdandan setebal itu. Aku mencium tangan ibuku dan memintanya beristirahat sembari menepuk ayah tiriku itu. Aku pun memutuskan untuk kembali ke ruang rias pengantin pria yang seharusnya kosong melompong.

Setibanya di sana aku terkejut karena ternyata Randi ada di sana sembari menunggu dengan sebuket bunga di tangan.

“Selamat untuk kesayanganku. Selamat karena sudah meninggalkanku untuk seorang wanita,” katanya sembari berjalan di belakangku dan menutup pintu.

“Aku tidak akan meninggalkanmu untuk wanita-wanita lain seperti Bapakku. Karena wanitaku cuma hanya ada satu. Sedangkan pria-pria lain bersamaku kau kenal semua. Mau kuajak Tigor juga bersama malam ini?” ujarku sembari menangkupkan wajahnya dan mendaratkan ciuman rinduku untuknya.

 

Depok,  30 September 2016

Iklan

Read Full Post »

international-events2

It has been curdling up in my mind for quite a long time already and I guess I really need to write this up just to clear up my mind.

It was never in my mind to somehow in touch and being an event organizer for a big international event. I am not even a professional in this field, so yeah, it’s just a view from a person who somehow involved in this kind of things.

My father is a super great manager. He is helping here and there for managerial advice for many organizations. Since I adore him so much, I enjoy listening to all his story about his companies and organizations. Then, I jumped in a real life situation of what he always tell me.

 

Singapore 23rd International Biology Olympiad 2012

When I graduated from NTU Singapore, I joined International Biology Olympiad 2012 as a Team Guide and there I started my first big international event. There are more than 50 countries attending this event with at least 6 delegates per country. We need to house the 4 students and minimal 2 juries per country. Both student and juries should not meet in any condition, not even communicating until the scheduled time. My duty is just a simple one, just follow the protocols and I will guide 4 kids from the same country who won’t have their gadgets for a week event and ensure they all follow the schedule. Pretty simple, huh? That’s what I thought until all those unpredictable details come in. Somehow, I guess to cut the cost, we stayed in a student hostel which house a person in a room.

Firstly, Somehow, I guess to cut the cost, we stayed in a student hostel which house a person in a room. OK, so every morning, we need to knock on each of 4 high school kids’ room, so that they will be on time for all the schedules. Easy peasy for me since I am such an early bird myself since I was in high school. Until the nightmare raise when we understand a situation. Just like us, the highschooler at that time is so depends on their gadget including their phone to get them awake and see the time. Damn! When they surrender their gadget to us, automatically, they don’t have anything to display time. No watch, no table clock inside the room. So, knocking the door to wake them up is a must. We, as a guide, need to catch the schedule as well and we don’t have enough time to go to some convenient store just to buy a table clock for them. So, damn! Another problem comes about room placement. Those 4 kids from each country is located in different floor to let them socialize with another country folks. Meanwhile, I stayed in another floor. The key of the floor basically allow an access for the elevator to your floor only. So, each morning, we will start with chaotic screaming. Because in every floor there is only a guide that we can call to wake our kids up. When that guide already gone with their kids to the bus. We are screwed if our kid are still upthere sleeping like a baby. We will eventually get scolded by our senior guides (I got the position as a Kuwait team leader is basically because I know a bit of Arabic and I am Moslem myself, so I can help them easier for daily prayer and all that stuff). But the thing is our motivation is not the fear of scolding (our senior guide is basically a volunteer like us who know no more than us, so yes there is no superiority anyway). More like, the events won’t be running smoothly if we don’t do our duty well. We try our best to solve this things. Some initiate to take care each other kids and smuggling himself to go to grocery store to buy some table clock, some towers initiate a daily rooster as elevator keys guard every time. First day was chaotic, but then in EACH NIGHT DAILY EVALUATION SESSION, we take this issue to the higher management which is the senior guides and chief guides and talk each other about what we will we do.

Secondly, Some country has their own needs and wants. I once so fed up with my team. Why? Because I guess my kids was not so used to be in a communal setting. They are always in highly exclusive position in their country. They want to be exempted from the schedules, from the queue line, from the ordinary set up. Once I got scolded by the high levels because I don’t inform them that the jury of my team wanted to leave earlier due to the party having alcoholics drinks that makes them uncomfortable. I  didn’t really get it since I thought I can’t by pass my protocols. So, yes, I got my lesson that I can actually ask the high levels management for exemptions.

Once near the closing ceremony, I am so tired and I ended up hugging one of my senior guide (disclaimer: he is my best friend for 6 years too) and crying my tears dry in his arm. I am so fed up and tired for the lack of sleep and all the scolding. He hugs me for quite sometime until my kids all finish their prayer in some hideous place of the building. After that, I just continue my duty and smiling to all the participants and committee again. So, for them, it’s OK to be human, it’s OK to feel tired and fed up, as long as you still continue your given task and not make a scene in front of everyone. Two of my kids are quite sensitive about my well being too, so basically I don’t want to let them down because they see me crying. So, yes, they don’t know and be happy with it.

In anyway, in their committee, I find a very solid circle of friend, who share the bad and the good together during the whole events. Let us be human, and let us socialize. The G7 is one of the most valuable circle of friend I have ever had. They even spend their time to come to my graduation ceremony and bring flower and the Kazakh’s doll. It was such an eye-opening and fun experience. And I got a lifetime friendship 😀

–to be continued–

Read Full Post »

Mutiara Senja

mutiara
Semburat jingga menoreh di tengah pudarnya nila

Tidak terasa aku sudah berada di ujung siklus diurnal

Aku seorang pengumpul kerang sebelum pasang

Rasanya tidak ingin sampai pada penghujung masa

 

Kala mentari mulai berbagi serpihan sinarnya

Kutemukan sebuah mutiara yang bercahaya

Kupegang erat kurawat dengan hati riang gembira

Tanpa sadar ketika siang datang aku telah meremukkannya

 

Senja ini kutemukan lagi sebuah mutiara

Dari tumpukan kulit-kulit kerang yang kutata

Aku sadar hanya sebentar pula mutiara ini kugenggam

Malam akan datang menarik kembali cahayanya

Read Full Post »