Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Inspired from other’s word’ Category

Artikel berikut saya kutip dari Intisari edisi Februari 2004 yang ditulis oleh Darnoto dan Yds.Agus Surono dengan judul asli ‘Hamengku Buwono X, Memimpin Dengan Hati Rakyat.’ Sekilas membaca artikel ini langsung teringat kepada Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta di tahun 2013 ini, Bapak Joko Widodo dan Bapak Basuki CP yang begitu mengabdi untuk rakyat. Banyak hal yang patut disebarkan dari teladan Sri Sultan yang disebut di artikel ini. Saya hanya mengutip yang saya anggap sangat mengena ketika Sri Sultan HB X berbicara mengenai ayahnya, Sri Sultan HB IX. Berikut isi artikel tersebut:

***

Tak banyak bicara, menyimpan teladan di balik tindakan, itulah potret ayah yang menancap dalam kenangannya. Almarhum tak mau menulis otobiografi, lantaran tak ingin menonjolkan ketokohannya dalam revolusi kemerdekaan.

“Sekarang, setelah saya menggantikan kedudukannya barulah saya paham. Seorang pemimpin tak boleh mengharap imbalan dari rakyat . Walau sekadar pujian sekalipun.”

Pernah, ketika Pemerintah RI ingin memberi gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Sultan HB IX, pihak ahli waris diwajibkan mengisi formulir permohonan. “Saya menolak. Kalau pemerintah mau memberi penghargaan pada orangtua kami, silakan. Tapi kalau saya harus mengisi formulir permohonan, walau itu procedural, saya tetap menolak, sebab kesannya kami minta penghargaan,” nada suara penggemar golf dan renang ini mengental tegas.

Ketegasan sikap si anak sulung ini telah dibaca jauh -jauh hari oleh Sultan HB IX. Sering terjadi dialog – dalam bahasa Indonesia, agar pupus kesenjangan ayah dan anak – tentang segala peristiwa di Tanah Air. “Beliau menanyakan sikap politik atau visi saya. Terjadilah pendewasaan lewat dialog dan diskusi.”

Suatu hari, sebulan sebelum ayahandanya wafat, ia ditanya, mau hidup mukti atau mulya? Putra Mahkota yang telah bergelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataramitu memilih yang pertama.

Mengapa?

“Kalau mukti, seluruh diri saya diabdikan untuk kepentingan orang lain. Sedangkan mulya cenderung untuk diri sendiri.” Setelah terdiam sejenak, HB IX bicara penuh wibawa, “Kalau Mas Jun (nama kecil HB X) pilih hidup mukti, maukah berjanji untuk bisa mengayomi semua orang, termasuk yang tidak suka padamu, Kedua, tidak melanggar peraturan negara. Ketiga, tak boleh punya ambisi apapun kecuali meyejahterakan rakyat. Dan keempat, lebih berani menyatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah …”

“Lebih berani dari siapa …?” sela sang putra mahkota.

“Dari saya. Zaman Bung Karnodan Pak Harto, kalau beda pendapat, saya pilih diam. Ternyata itu salah,” bergetar suara penggagas (asli) Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berhasil menguasai Yogya selama enam jam itu.

Saat duduk di Dampar Kencana pada 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) ketika penobatan dirinya menjadi Sultan hamengku Buwono X, ia membatin, akan membawa mati keempat janji itu.

Keberanian itu ia buktikan, ketika seminggu setelah jumenengan (penobatan) , datang “seseorang” menanyakan komitmennya pada Pak Harto selaku presiden.

Dengan tegas ia katakan, “Sebagai rakyat biasa saya loyal kepada Pak Harto sebagai Presiden RI. Sebagai individu, saya loyal pada bangsa dan negara. Sebagai generasi muda, saya loyal pada Pak Harto sebagai generasi tua. Namun, saya berharap Pak harto memberi kesempatan pada generasi muda untuk berproses dalam kehidupan bernegara, jangan justru mematikan generasi muda.” Jawaban inilah (mungkin) yang membuatnya kurang disukai pihak Cendana, apalagi ia ungkapkan hal itu berkali-kali secara terbuka.

Puncak keberaniannya terjadi ketika sejak 14 Mei 1998 ia tampil di berbagai tempat menyuarakan pembelaan pada rakyat. Setelah berpuasa sebulan penuh (19 April – 19 Mei 1998), kemudian ia mengadakan pisowanan agung di Alun-alun Utara, dengan jutaan rakyat Yogya menggerumuti sepasang beringin kurung pada Rabu 20 Mei 1998. Apel raksasa yang mengeluarkan Maklumat Yogyakarta yang mendukung Gerakan Reformasi itu mencair begitu saja, tanpa kerusuhan. Kharisma Sultan HB X dan wibawa keraton dipertaruhkan. Esoknya, 21 Mei 1998, Soeharto lengser.

***

Mukti atau Mulya. Rasanya di zaman sekarang banyak sekali fenomena orang yang memilih mulya ketimbang mukti. Punya pamor bagus di depan khalayak ramai tapi niatan untuk mengabdikan diri sesungguhnya kurang. Ditambah dengan maraknya sosial media dan fasilitas-fasilitas lainnya. Banyak sekali orang yang gila pencitraan. Contohnya saja yang saya baca di buku “Parlemen Undercover” karya Abu Semar, banyak sekali pejabat-pejabat kita yang menyewa media untuk menyebarkan berita sangat baik tentang dirinya terbebas dari bagaimana kinerjanya di parlemen untuk mewakili rakyat. Bahkan dari yang dekat-dekat saja, saya mendengar cerita adanya seorang santri yang demi kepamorannya meminta diri untuk mengadakan ceramah di luar negeri tanpa tujuan. Hanya untuk sekadar pamer bahwa dirinya pernah berceramah di negeri seberang. Sungguh, orang yang punya kapabilitas untuk menjadi mulya saja memilih untuk hidup mukti. Kenapa kita yang kemampuan hidup mulya saja belum tentu ada malah mendewakan segala cara untuk hidup mulya.

خير الناس أنفعهم للناس

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Jadi, mau hidup mulya atau mukti? Sekali lagi itu pilihan.

Iklan

Read Full Post »

Teringat ketika MI saya pernah mengikuti audisi untuk menjadi peran utama di sebuah operet untuk perpisahan kelas 6. Ada satu lagu yang masih terngiang-ngiang dalam kepala saya. Lagu berjudul Ibu karya salah seorang guru saya, entah Bapak Iqbal Muhammad atau Bapak Komari. Lagu yang begitu dalam menggambarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

IBU

Ibu

Engkaulah cinta kasih

Kau pelipur dalam kesedihan

Tuntunan harap dalam penderitaan

Daya kekuatan dalam kelemahan

ibu

.

Ibu

Di telapak kakimu surgaku

Keikhlasanmu keridhoan Tuhan

Jika engkau tiada, Ibu

Hilanglah sebuah jiwa murni

Yang menjagaiku siang dan malam

.

Segala sesuatu di alam raya ini

Memperlihatkan besarnya peran ibu

Segala sesuatu di alam raya ini

Memperlihatkan besarnya kasih ibu

Seperti matahari ibu bagi sang bumi

Seperti sang bumi ibu bagi tumbuhan

Seperti tumbuhan ibu bagi bunga dan buah

Read Full Post »

Mungkin ini terlambat (seharusnya 25 November), tapi selamat hari guru untuk para pahlawan tanpa tanda jasa yang benar-benar saya hormati dan sayangi. Tanpa anda semua, saya tidak mungkin ada di Irlandia seperti sekarang dengan hausnya pikiran akan ilmu pengetahuan. Sekadar sharing tulisan yang saya tulis tahun lalu di notes Facebook sekaligus mengabadikannya di wordpress. Selamat menikmati.

***

Pahlawan tanpa tanda jasa adalah julukan kehormatan bagi guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmunya tanpa balasan yang bisa dibilang setimpal dari kita para muridnya. Adalah kita sebagai seorang murid terkadang tidak menghargai, menganggap remeh atau bahkan menghina para guru kita. Sungguh, menjadi seorang guru bukanlah suatu keputusan mudah jika menyandingkannya dengan gaji yang didapat atau balasan yang didapat dari muridnya. Keikhlasan dan niat untuk mengabdi yang begitu besarnya adalah semangat utama yang mendorong para guru untuk terus bergerak di jalannya. Keinginan untuk mencerdaskan masyarakat, menyebarkan pengetahuan dan memajukan bangsa adalah benar-benar sebuah semangat yang patut dicontoh dari para guru.

Dari buku “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi telah memberikan gambaran bahwa ikhlas adalah semangat pendorong utama dari para guru di Gontor untuk terus mengajar. Bahwa mereka mengajar anak muridnya TANPA DIBAYAR dengan semangat hanya untuk mengabdi dan menyebarkan ilmunyalillahi ta’ala. Subhanallah. Contoh nyata keikhlasan ini juga telah saya dapat dari cerita-cerita tentang guru-guru saya semasa sekolah dahulu. Ada seorang guru yang rela membeli tape, laptop dan LCD Projektor demi mengembangkan Quantum Learning untuk muridnya meskipun menghabiskan gaji 2 tahun bekerja. Ada yang rela kembali ke sekolah yang berjarak lebih dari satu jam di malam hari hanya karena ditelpon ada muridnya yang kesulitan belajar ketika baru saja sampai di rumah setelah over-time bekerja.

Sungguh saya tidak berani menulis ini jika saya tidak pernah mengajar. Semangat guru-guru ini saya rasakan ketika saya mulai mengajar adik-adik kelas saya dan juga menjadi guru les di negeri orang. Bahwa ada sebuah semangat yang bukan hanya sekadar gaji (meskipun semangat ini mungkin yang dirasa lebih kuat untuk teman-teman saya yang kekurangan uang di negeri orang ini) ketika mengajar. Semangat agar anak didik saya bisa menjadi lebih baik daripada sebelum saya mengajar dan semangat untuk melihat senyum kepahaman di mata mereka. Tiada yang lebih diharapkan oleh seorang guru daripada anak-anaknya mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang kelak akan membuat anak-anaknya sukses di kemudian hari. Tiada pernah seorang guru berpikir untuk minta bagian ketika anak didiknya menjadi seorang saudagar kaya raya di kemudian hari. Tiada seorang guru berpikir meminta pangkat tinggi ketika anak didiknya menjadi presiden. Sungguh, suatu kebanggaan bagi seorang guru untuk melihat anak didiknya jauh lebih pintar dan jauh lebih sukses dari dirinya.

Dilihat dari sisi seorang murid, ketika saya masih TK sampai MI (Madrasah Ibtidaiyah setara SD), saya menganggap guru adalah fasilitator. Guru mengajari saya ini dan itu meskipun mereka tidak mengetahui segalanya. Hubungan saya dan guru jauh lebih seperti teman. Ya, teman terbaik saya ketika berada di dua jenjang ini adalah guru. Bersama dengan para guru, saya bisa berbagi ilmu pengetahuan yang saya dapat dari buku, mengkonfirmasinya kepada para guru yang memiliki pengalaman lebih dan mendapatkan pengetahuan lebih dari mereka. Di mata mereka pun, saya menjadi seorang pemberi semangat. Salah seorang guru berkata pada saya, “Sungguh sebuah semangat baru untuk mengajar selalu ada ketika Bapak bertanya mengenai buku yang sedang Roswitha baca dan mendengarkan cerita tentang buku itu dari mulut kecil ananda.” Di waktu ini, saya berpikir guru adalah seorang yang patut dihargai dan dianggap sebagai orang pintar. Kita wajib patuh padanya selayaknya patuh pada kedua orang tua. Bahwa banyak ilmu yang ia rela ajarkan kepada saya dan betapa banyaknya waktu dan kesabaran yang terkuras demi mengajari saya yang sangat keras kepala dan tak mau kalah.

Dari MI inilah saya banyak belajar tentang adab kepada guru dari guru Aqidah Akhlak (Keimanan dan Perilaku Baik). Karena ‘pertemanan’ yang dekat dengan guru, ilmu yang saya dapat ini bukanlah diambil dari mata pelajaran formal di kelas. Ilmu ini saya dapat ketika momen berbagi ilmu pengetahuan di luar kelas. Guru saya yang lulusan sekolah Islam, entah itu pesantren atau madrasah mulai bercerita tentang ilmu yang manfaat dan tidak manfaat. Jikalau ilmunya ingin manfaat (berguna), maka kunci utamanya adalah adab yang baik terhadap guru. Saya pernah mendengar cerita tentang seorang pintar yang akhirnya hidup mengenaskan karena tiada hormat pada gurunya. Setelah orang pintar ini berkunjung kepada gurunya dan mengabdi untuk gurunya hingga sang guru memaafkan, sang orang pintar ini menemukan kemudahan dalam jalan hidupnya. Di titik itu, saya benar-benar mengamalkan sebuah ajaran mengenai etika kepada guru. Teringat salah satu hal yang dulu saya amalkan adalah “tidak boleh duduk di kursi guru kecuali beliau mengizinkannya“. Saya benar-benar mengamalkan semua adab-adab kepada guru yang saya dengar dengan keyakinan keridho-an guru akan membuahkan ilmu yang manfaat.

Di jenjang pendidikan setelahnya hingga akan kuliah, saya makin yakin bahwa guru adalah seorang yang patut dihormati dan patut diberi penghargaan yang setinggi-tingginya. Cerita nyata guru-guru saya mulai saya ketahui ketika MTs dan MA. Bahwa perjuangan guru itu begitu besar untuk membawa anaknya jadi orang besar pula. Bahwa keikhlasan dan keinginan untuk mengabdi mereka begitu besar walau dengan gaji yang tak seberapa. Beberapa guru saya bahkan mungkin tidak mengejar uang sama sekali. Beberapa di antara mereka punya suami atau istri kaya yang mampu menanggung biaya keluarga dan benar-benar mengabdikan dirinya untuk mengajar. Subhanallah. Sampai suatu waktu di MTs ada seorang guru baru mengajar. Kami semua mengolok-olok guru tersebut dan menjadikannya bahan candaan. Ini berulang kali terjadi pada guru baru. Saya merasa miris mendengar teman-teman begitu senangnya menjadikan itu bahan candaan mengingat besarnya jasa yang mereka berikan. Sungguh miris. Keyakinan saya akan kekuatan adab terhadap guru menjadi makin kuat ketika saya, yang tidak ikut mengolok-olok guru, mendapat nilai yang jauh di atas teman-teman yang nilainya buruk karena mengolok-olok guru. Saya berharap tidak hanya nilai saja yang bagus, tapi kelak ilmu ini bisa bermanfaat bagi orang kebanyakan. Amin.

Sebagai sarana pengingat akan adab terhadap guru yang sudah mulai luntur di waktu kuliah dan berbagi ilmu pengetahuan juga, berikut saya cantumkan konsep tatakrama terhadap guru yang diambil dari kitab “Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim“ karya Hadratu Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari.

Konsep Tatakrama Penuntut Ilmu Dengan Guru[i]

Ø  Sebelum penuntut ilmu menetapkan guru hendaklah ia berpikir dulu serta beristikharah kepada Allah untuk memilih orang yang akan memberi bimbingan (guru) dalam memperoleh ilmu kemudian memperlakukan guru dengan akhlaq yang baik dan sopan santun. Hendaklah ia memilih orang-orang yang profesional, ahli dalam bidang keilmuannya, memiliki rasa kasih sayang, tampak kewibawaannya dan tampak jelas perilakunya. Sebagaimana ulama salaf berkata, “Ilmu itu adalah agama maka lihatlah (angan-anganlah) dari siapa engkau memperoleh (mengambil) agamamu”.

Ø  Penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh memilih guru yang mengerti benar tentang syari’at, dan bisa dipercaya kemahiran ilmunya (hukum syari’atnya). Jangan berasal dari orang yang memperoleh ilmu hanya sebatas kulitnya. Imam As-Syafi’i berkata, “Barang siapa belajar dari pinggir-pinggirnya kitab maka ia menyia-nyiakan hukum”.

Ø  Penuntut ilmu hendaknya patuh dan taat kepada gurunya. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada Allah dalam berkhidmat kepada guru.

Ø  Penuntut ilmu hendaknya memandang guru dengan penuh kehormatan dan keagungan terhadapnya. Dan meyakini akan besarnya derajat kesempurnaan seorang guru. Sebab keterangan tersebut akan lebih dekat terhadap manfaat ilmu yang diperolehnya. Abu Yusuf berkata, “Barang siapa yang tidak meyakini keagungan gurunya maka ia tidak akan sukses”.

Ø  Hendaklah penuntut ilmu mengerti hak-hak guru dan jangan lupa mengutamakannya. Sebaiknya penuntut ilmu mengenang guru pada waktu hidup atau sesudah mati, penuntut ilmu juga seyogyanya menjaga keluarga guru serta kerabat dan orang yang dikasihi guru. Penuntut ilmu hendaknya sering berziarah ke makam gurunya apabila ia sudah meninggal dan memohonkan ampun untuknya serta bersedekah baginya.

Ø  Penuntut ilmu hendaknya harus bersabar dalam menghadapi guru yang berwatak keras dan kurang baik dan janganlah menolaknya dengan kasar sebab sifat kerasnya seorang guru semata-mata karena sayangnya guru kepada muridnya dalam membimbing dan memberi petunjuk kepada penuntut ilmu.

Ø  Penuntut ilmu hendaknya jangan masuk ke tempat atau kediaman guru kecuali atas izinnya dan janganlah lewat dihadapannya baik ketika ia sendiri atau bersama orang lain tanpa izin darinya. Ketika penuntut ilmu hendak berkunjung ke kediamannya maka ucapkanlah salam tidak lebih dari tiga kali dan apabila mengetuk pintu maka ketuklah dengan pelan-pelan, ketika ia memasuki rumahnya, hendaknya ia bersikap yang baik dan berbusana yang baik——menurut Islam—, bersih dan rapi terlebih ketika hendak menuntut ilmu. Penuntut ilmu juga harus menjaga untuk tidak memulai berbicara sebelum diperintahkan, dan janganlah duduk atau pergi kecuali atas izin guru. Apabila guru itu sedang istirahat maka sabarlah menunggu sampai terbangun.

Ø  Ketika penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya hendaklah ia memilih adab tatakrama, dan hendaklah ia seperti saat tasyahud pada waktu shalat atau duduk bersila dengan penuh tawadhu’, tenang dan khusyu’, penuntut ilmu jangan menoleh sekalipun mendengar sesuatu kecuali bila ada keperluan lebih-lebih ketika membahas tentang ilmu. Penuntut ilmu harus memuliakan dan menghormati kerabat, teman dari guru. Karena pada hakikatnya menghormati mereka berarti menghormati guru. Termasuk menghormati guru adalah jangan duduk di tempat guru, di mushallanya, di tempat tidurnya dan jangan pergi dari sisinya kecuali ada izin darinya.

Ø  Hendaknya penuntut ilmu selalu berbicara yang sopan dan baik. Dan hendaknya penuntut ilmu berhadapan dengan guru dengan wajah berseri-seri.

Ø  Apabila mendengar keterangan guru tentang masalah-masalah hukum atau berita-berita maka dengarkan dengan penuh perhatian sekalipun ia sudah mendengar sebelumnya. Imam Atho’ r.a. berkata, “Sesungguhnya aku tetap akan mendengarkan hadis dari orang lain sekalipun aku lebih tahu (alim) dari orang tersebut”.

Ø  Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

Ø  Apabila guru memberi sesuatu, maka terimalah dengan tangan kanan, bila guru meminta buku untuk dibaca maka berikan buku itu dalam keadaan siap dibaca. Sehingga guru tidak kesulitan untuk membacanya. Dan jangan menyimpan sesuatu yang ada di dalam buku. Apabila penuntut ilmu berjalan bersama guru maka hendaklah ia berada di depan guru pada malam hari dan di belakang guru pada siang hari, kecuali bila ada keperluan lain. Apabila hendak berteduh dan berbincang-bincang dengan guru maka hendaknya penuntut ilmu berada di sebelah kanan guru. Apabila bertemu dengan guru di jalan maka ucapkanlah salam tetapi bila jaraknya jauh jangan memanggil, jangan mengucapkan salam dan jangan memberi isyarat, akan tetapi dengan menundukan kepala.

[i] Didapat dari http://www.nurulfalahpm.viviti.com/entries/general/adab-menuntut-ilmu-#_ftn1 karya Dede Alimuddin

Read Full Post »

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khattab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tidak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah kata pun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Sang laki-laki pun bertanya pada Umar apa yang membuat dirinya yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya marah?

Umar menjawab, istrimu memiliki peran besar atas dirimu. Ia adalah penjagamu dari api neraka. Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora biar lepas, dan bukan azab yang kelak diterimanya. Ia justru mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Umar melanjutkan, istrimu juga pemelihara rumah dari pagi hingga sore saat suami bekerja. Suami selalu mengumpulkan harta dan tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini-beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga dan memelihara 24 jam tanpa bayaran, agar harta yang diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia. Adakah yang sudi menjaga hal demikian? Berapa pula ia mau dibayar. Pastinya, sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istri.

“Istri pula yang menjaga penampilan suami,” sambung Umar. Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaiannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang dan menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. “Maka tak mengapa mendengarnya berkeluh-kesah atas kecakapannya itu,” maklum Umar.

Laki-laki itu masih bersiteguh mendengar omongan Umar. Lalu, kata Umar, istri adalah pengasuh anak-anak. Suami meyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawatbenih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ, ia juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan san g tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan, lebih dulu suami yang maju ke depan mengaku, akulah yang membuatnya begitu. Baik-buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan, tak lepas dari sentuhan tangan istri. Umar paham benar akan hal ini.

Terakhir, ujar Umar, istri adalah penyedia hidangan. Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras setelah beraktivitas seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi, dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung sehingga sang istri harus piawai berdebat, menawar harga yang melebihi anggaran. Tak perlu suami pula memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang sehingga ia tak pusing memikirkan berapa takaran bumbu agar citarasa amat pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itu pun terkadang dengan jumlah berlebihan, meyisakan sedikit untuk istri si juru masak, tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Ia mencatat dalam memori, makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Maka untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa Umar mendengarkan segala keluh-kesah buah lelahnya. Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasihati dengan cara yang baik dan bercanda. Hingga terhindar pertumpahan ludah dan caci-maki tak terpuji.

Demi mendengar penjelasan sikap Umar terhadap istrinya yang mengomel, laki-laki itu pun mengurungkan niatnya melaporkan istrinya pada sang khalifah. Ia pulang dengan penuh rasa malu atas sikapnya yang jauh dari bijak.
Wallahua’lam

Read Full Post »

Aku Selalu Lupa

Suatu pagi Amanda melahirkan anaknya yang pertama.
Setelah melahirkan amanda melihat anaknya yang cantik bersama suami dan Ibunya tercinta.
Amanda heran melihat anak yang dilahirkannya.
Anak itu berambut merah. Padahal ia dan suaminya sama2 berambut pirang.
“Bu, lihat kenapa anakku berambut merah? Padahal aku dan suamiku sama2 berambut pirang, ujar amanda pada sang Ibu.
“Lho? Ayahmu kan berambut merah, Amanda. Mungkin itu diturunkan dari ayahmu,”balas sang Ibu.
“Mana mungkin, Ma… Aku kan anak angkat…”
“Ah iya…Aku selalu lupa.”

Read Full Post »

Irlandia-
Di suatu malam di sebuah keluarga kecil yang tinggal di rumah sederhana.
Tinggalah seorang gadis dan kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya menganut agama tradisional daerah itu dan sangat patuh pada ajarannya.
Sang anak pun mengikutinya karena ajakan orang tuanya sampai suatu ketika ia bosan.

“Ayah! Ibu! Saya sudah tidak tahan dikekang terus menerus seperti ini. Saya tidak percaya pada agama yang bapak dan Ibu anut dan segala tetek bengek peraturannya. Saya ingin bebas. Saya ingin mencari kerja.” begitu teriakan si gadis kepada Ibu dan Bapaknya di suatu malam. Malam itu juga gadis itu pun langsung kabur dari rumahnya dan pergi ke kota.

Di kota sang anak pun mencari-cari pekerjaan namun tak kunjung mendapatkannya. Akhirnya karena telah putus asa bertahun-tahun mencari pekerjaan, ia menyerah dan menjajakan diri sebagai wanita tuna susila di suatu kota kecil. Kian lama gaya hidup sang anak makin jauh dari ajaran yang dulu pernah diberikan ibunya.

Sang Ibu yang bertahun-tahun tak kunjung mendengar berita dari anaknya pun mencari-cari sambil bertanya pada semua orang di manakah anaknya berada. Sampai suatu ketika ia mendengar kabar bahwa anaknya berada di kota kecil di sebelah timur. Sang Ibu pun membuat poster berisi foto dirinya dan tulisan “Pulanglah Nak, Ibu akan selalu menerima dan menyayangimu.” Sang Ibu meminta kepada orang2 di penjuru kota itu untuk menempelkan poster tersebut di setiap tempat.

Suatu malam sang anak sedang minum2 di bar karena tidak kunjung mendapatkan klien. Dalam keadaan setengah mabuk si anak melihat ke papan pengumuman. Dia memperhatikan poster yang dibuat ibunya. Gadis itu terkejut melihat poster itu. Mengapa foto ibunya bisa terpampang di situ? Ketika ia membaca tulisannya, spontan gadis itu menangis.

Malam berikutnya gadis tersebut pulang ke rumahnya. Dia melihat pintu rumahnya terbuka. Karena takut ada perampok yang telah masuk, gadis itu langsung masuk ke rumah dan mencari Ibunya. Dipeluknya Ibunya yang sedang mengambil air minum di dapur.

“Ibu, maafkan aku Bu. Maafkan aku sudah membuat Ibu khawatir. Maafkan aku sudah hidup seperti ini, tidak menjadi anak yang berbakti buat Ibu,” ujar sang anak sambil terisak-isak.

Sambil memeluk balik anaknya si Ibu hanya berkata lembut, “Kamu baik-baik saja kan Anakku? Ibu sudah memaafkanmu dari jauh2 hari.”

“Ibu, Ibu baik2 saja kan? Tidak ada yang melukai Ibu? Tadi aku melihat pintu depan terbuka? Apakah ada perampok yang masuk dan mengancam Ibu?” tanya si anak.

“Sejak kau pergi, pintu itu selalu terbuka bagimu….”

Anakku, ketika kau masih kecil
Dan hanya berjarak satu rengkuhan
Aku melindungimu dengan selimut
Melawan udara malam yang dingin

Tapi sekarang kau sudah besar
Dan di luar jangkauanku,
Aku hanya dapat menengadahkan tangan
Dan melindungimu dengan doa

Dona Maddux Copper

Read Full Post »

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.
Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Tampak dari raut mukanya putrinya bahwa ia sudah menunggu lama

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Sarah nunggu Papa pulang. Soalnya Sarah mau tanya berapa sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.
“Oke. Sarah boleh hitung sendiri.
Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-.
Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.
“Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, Sarah pintar. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak.
Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya,

“Papa, Sarah boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ?Papa capek. Papa mau mandi dulu. Tidur saja ya”.

“Tapi Papa…”
Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,

“Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa.
Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, Sarah enggak mau minta uang. Sarah cuma mau pinjam. Nanti Sarah kembalikan kalau Sarah sudah punya tabungan lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Sarah menunggu Papa dari jam 8. Sarah mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, Sarah mau ganti waktu Papa. Sarah buka celengan, cuma ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- buat setengah jam Sarah harus ganti Rp. 20.000,-.
Tapi duit tabungan Sarah ternyata kurang Rp.5.000, makanya Sarah mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.
Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Read Full Post »

Older Posts »