Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Syair’ Category

Setipis Rambut Dibelah Tujuh


Kulihat lagi engkau berpaling dari jangkauanku
Tidak mengindahkan lagi serta pergi menjauh
Oh tidakkah tiada benci antara dua orang jauh
Oh tidakkah tiada cinta antara dua orang jauh

Hanya sebersit kata namun tiada kunjung jawabnya
Kadang mencoba peduli namun berbuah kehampaan belaka
Oh tidakkah tiada benci antara dua orang tak kenal
Oh tidakkah tiada cinta antara dua orang tak kenal

Tiap hari hanya mencoba mencari tahu sebuah kabar
Bahwa belahan hati di ujung sana masih sehat terdengar
Oh tidakkah tiada benci antara dua orang tak memandang
Oh tidakkah tiada cinta antara dua orang tak memandang

Jantung serasa keluar dari sangkarnya ketika engkau menyapa
Masih seperti dahulu dengan nada gembira penuh pancaran
sampai ia kembali kepada kehampaan nista semata
Tiada lagi kabar bersua, tiada lagi canda dan tawa mengambang

Bencikah kau pada diriku, Cintakah kau pada diriku
Tiada benci dan cinta pada orang asing, benarkah itu?
Jika kau menganggapku asing, maka jadikanlah asing diriku
Jadikan aku orang yang tak mengenalmu, yang tak dapat menyentuhmu

Bencikah kau pada diriku, Cintakah kau pada diriku
Memutuskan untuk tak saling bertemu, tak saling menegur
Aku mengerti aku bukan orang asing karena keenganan bicaramu
Tiada ada orang baik yang membiarkan orang asing tanpa bantu

Bencikah kau pada diriku, Cintakah kau pada diriku
Cobalah kau tilik ulang dalam hati kecilmu
Adakah suka di sana, ataukah memori indah penuh pilu
Bencikah kau pada diriku, Cintakah kau pada diriku
Karena batas cinta dan benci hanya setipis rambut dibelah tujuh

Iklan

Read Full Post »

Namaku Srikandi

Namaku Srikandi, Kang Mas
Aku titisan Dewi Amba untuk membalaskan dendam pada Bhisma
Aku datang ke sini untuk berguru ilmu berperang dan memanah
Hari pembalasan akan datang bagi Bhisma dan aku penyelesainya

Namaku Srikandi, nama pemberian ayahanda Drupada
Nama asliku Srikandini dimana aku dilahirkan selayaknya wanita
Ayahanda terkejut melihat diriku harus menjadi titisan Amba
Ketika aku kecil dengan polosnya mengalungkan puspamala tanpa nama

Namaku Srikandi, nama seorang pria
Nama yang kudapat ketika ayahku tersayang terkejut akan takdir nyata
Aku ditukarkan dengan seorang yaksa dimana ia menjadi yaksini dan aku menjadi pria
Mencoba menghindari takdir namun sayang yaksa mangkat dan aku kembali jadi wanita

Namaku Srikandi, Kang Mas
Aku adik iparmu, adik dari Drupadi istrimu tersayang
Seperti yang kau ketahui aku ini entah pria entah wanita
Ada perasaan lemah yang kumiliki tapi ingin mengayomi seperti pria

Namaku Srikandi, Kang Mas
Sejak kecil aku dibesarkan layaknya seorang pria
Diberikan pedang dan panah sebagai teman berbagi kebijaksanaan
Dididik untuk menjadi panglima perang bukanlah menjadi putri raja

Namaku Srikandi, Kang Mas
Ketika aku seorang pria, aku pernah memiliki wanita tersayang
Seorang yang ingin kujadikan teman seumur raga dan jiwa
Namun ia bertanya-tanya akan kejantanan seorang mantan wanita

Namaku Srikandi, Kang Mas
Setelah sang yaksa berpulang aku pun kembali menjadi wanita
Perasaan lemah mengurung dada mulai menyiksa raga dan jiwa
Keinginan kuat menjadi lembut seketika karena perasaan menyesak

Namaku Srikandi, Kang Mas
Saya datang kemari meminta bimbingan dari ksatria lembut nan perkasa
Untuk mengajari saya ilmu berperang dan memanah tepat sasaran
Tidak perlu membunuh banyak orang karena hanya Bhisma yang jadi incaran

Namaku Srikandi, Kang Mas
Fakta bahwa aku perempuan yang memiliki perasaan lembut lagi lemah
Memohon bimbingan selembut sutra lagi sekeras tempaan logam
Kata-kata lembut untuk feminitas dan tekanan fisik untuk maskulinitas

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Sama seperti wanita lain pada umumnya yang lemah pandangnya
Mohon maaf apabila hati ini tidak bisa tetap pada tempatnya
Seperti wanita lainnya, saya mungkin akan jatuh hati pada anda

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Dua sisi feminitas dan maskulinitas membuat saya seringkali bimbang
Inginkah saya beristri atau inginkah saya diperistri orang
Ingin rasanya menggenggam tangan wanita namun ingin dilindungi pelukan pria

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Aku adik iparmu yang penuh dengan kekurangan
Perasaan yang ada untukmu pun juga penuh kebimbangan
Yang jelas dariku hanyalah rasa ingin berkembang mengarah pada tujuan

Read Full Post »

Anak Ayah yang Tercantik

Hari ini adalah hari besar untukku
Hari dimana aku akan pergi dari rumah orang tuaku
Hari dimana seorang pangeran meminangku
Hari dimana ayahku memindahkan tanggung jawab atas diriku

Kepada seorang yang belum terlalu lama dikenalnya
Kepada seorang yang tidak sampai setengah dari bilangan usianya
Kepada seorang yang baru seumur jagung pengalaman hidupnya
Kepada seorang yang berjanji akan membahagiakan putrinya

Aku bertanya-tanya setiap harinya akankah hari ini datang
Mencari dan terus mencari padanan ayah yang seimbang
Lawan jenis yang akan menjadi teman sekaligus sandang
Lelaki yang akan menjadi ayah anakku yang cemerlang

Oh, hari ini dia datang ayah
Tangisku pun tidak terbendung menggenang basah
Kakiku bergetar untuk kemudian menyapa tanah
Melihat kebaya putih tergantung aku merasa payah

Sekian tahun lamanya aku memimpikan hari ini
Bukan, mimpi ini sudah datang sejak aku sanggup menulis
Aku ingin menjadi pengantin membawa mawar putih
Menikahi seorang tampan lagi pintar seperti ayahku sendiri

Ayah, Aku akan berpisah denganmu
Tidak lagi tinggal bersamamu
Tidak lagi bergelayut manja di pundakmu
Tidak lagi setiap waktu meminta kehadiranmu

Ayah, nanti
Ketika aku hendak pergi, aku akan meminta ijin suamiku
Ketika aku ketakutan, aku akan berlindung di dalam rumah suamiku
Ketika aku menangis kesepian, aku akan berada dalam dekap lengan suamiku

Ayah, engkau melemparkan pesta besar laksana festival untuk kepergianku
apakah engkau senang kewajibanmu terlepas dari pundakmu
apakah engkau senang aku tidak lagi perlu merepotkanmu
apakah engkau senang akan ketiadaanku di rumahmu

Hendak berjingkat aku keluar kamar rias ketika aku melihatmu
Bersama belahan jiwamu yang sedang menyeka air matamu
Aku melihat gurat welas asih lagi gagah yang menghiasi wajahmu
Menjadi layu lagi bersedih penuh haru biru seperti bukan dirimu

Melihat wajah itu kututup pintu kamar riasku
Bukan, aku tahu itu bukan wajah kesenangan akan kehilanganku
Pesta ini ada sebagai kado terakhir untuk membahagiakanku
Sebelum anak barunya memberikan seluruh usahanya untuk ceriaku

Kuambil kebaya putih yang baru berumur dua minggu itu
Aku bersiap di depan kaca mengambil bedak dan mulai menyaput
Kusampirkan pula hijab berhiaskan manik dan payet terdesain khusus
Kuminta adik dan sahabat baikku menghiasi kepalaku dengan melati nan harum

Ayah, kini aku tak ragu
Sama seperti ayah yang menyiapkan acara indah penuh beludru
Menunjukkan betapa aku adalah anak tersayangmu
Dimana pesta terakhirmu untuknya sanggup menghabiskan pundi-pundimu

Ayah,
aku ingin tampil secantik mungkin di pesta terindah yang pernah diberikan ayah
Bukan untuk suamiku, bukan untuk teman-temanku, tapi untuk ayah
Aku ingin menunjukkan pada dunia betapa cantiknya anak ayah

Dunia harus tahu betapa ayahku adalah ayah terhebat
Dapat membesarkanku hingga segagah srikandi, secantik mawar, seanggun angsa
Dunia harus tahu betapa ayahku adalah ayah terhebat
Dapat menjadikan putri kecilnya seorang ratu di istana dengan singgasana penuh asa

Read Full Post »

Kartini

Ambigu apa yang ada dalam hatinya

Tidakkah ketaatan hanyalah membawa jalan

Semua berkata ia membawa revolusi untuk wanita

Cerita batinnya terpapar kepada khalayak

 

Sebagai seorang wanita dikekang kebebasannya

Bagai mata rantai tak pernah terputus melanglang pikirannya

Melalui surat buah pikiran terus mengalir tanpa penghalang

Diterima oleh seorang penuh liberal dan mendukung hatinya

 

Oh betapa ada kenyataan tak terpapar

Bahwa ia juga seorang wanita nan shalihah

Di akhir suratnya yang tak terberita

Ia mengakui kodrat seorang wanita dalam agama

 

Kadang kenyataan terbayang

Kadang hanya terungkap sebahagian

Pada keduanya terdapat fitnah dan penggantian citra

Karena pada akhirnya hanya Tuhan dan saya yang tau ceritanya

Read Full Post »

Mencintai Kekuranganmu



Seseorang pernah berkata padaku:

‘Aku makin mencintaimu setelah mengetahui kekurangan-kekuranganmu.’

 

Awalnya aku tak paham dan tak juga menanya karena terlalu indahnya.

Selang berapa jeda aku menemukan cahaya alam memberikan pertanda.

Bulan berbicara mengagungkan surya ketika purnama.

Aku merasakan hal yang tak ayal serupa.

 

Kuberkata pada sang rembulan:

‘Aku menemukan kekuranganmu yang paling vital.

Tak disangkal kekurangan yang sangat dalam lagi patut dicerca.

Kekurangan yang membuatmu enggan mengangkat rupa

Ketika khalayak memiliki pengetahuan akan keberadaannya

Sederhana tapi akulah seorang yang mendapatkan pertandanya.

 

Menemukan kekuranganmu awalnya menusuk dada

Membuatku enggan bersua lagi bertegur sapa

Merasa dirimu nista lagi tidak perlu diberikan rasa hormat

Kau berpaling muka dan membuang rasa rindu yang menyesak

 

Mengetahui kekuranganmu ternyata membuatku mendekat

Ketika rindu menutupi jalannya akal nan sehat

Pertemuan menjadi obat penutup lara dan duka

Ternyata tanpa enggan kakiku pun beranjak ke peraduan

 

Melihat kekuranganmu membuatku tersadar

Aku makin mencintaimu di kala menemukannya

Aku tahu aku dapat menjadi ramuan mujarab yang menyembuhkannya

Mungkin tidak sembuh sedia kala tapi memperindahnya

Menyulap sang kekurangan menjadi kelebihan tiada tara

 

Menyadari kekuranganmu membuatku makin jatuh cinta

Kekurangan yang mungkin dilihat orang tidaklah indah

Ternyata menjadi kriteria utama yang mebuatku melihat

Bukan raga bukan ketampanan dan bukan pribadi menawan

Kekuranganmu membuatku jatuh di mabuk asmara

 

Membenahi kekuranganmu mungkin ditakdirkan bagiku menjadi jabatan

Tak bisa dibenahi pun tak apa karena cintaku tumbuh dari sana

Kau membuatku indah dengan kekurangan-kekurangan yang ada

Dan aku tahu adanya diriku dapat membuatmu melihatnya menjadi kelebihan

Hadirnya diriku tampak sangat indah menemani sepinya harap

 

Bulan mungkin tak bisa memancarkan cahayanya

Tapi aku melihat denganku rembulan kini bisa menjadi surya

Aku tahu kelak kau tak akan membuangku percuma

Karena kekuranganmu ketika bersamaku berubah indah

Dan kita bersama kelak bisa meyaingi cerahnya sang surya.’

 

Read Full Post »

Sayap Debu

Kupandangi tiap juntaian bulu yang tersusun rapi

Bagai utusan raja langit menemani terbitnya hari

Kukepak indah gumpalan awan menyelimuti diri

Sejuk namun hangat membelai damainya hati

 

Di atas sana kulihat mega berarak mendung bergulir

Birunya langit indah mewarnai singgasana terukir

Gelaran pelangi bagaikan sungai bintang yang tersisir

Bentangan pandang bagai menutup jalannya alat pikir

 

Kulihat seorang lagi diujung cakrawala pudar

Di tengah horizon berdiri bagai biola tanpa senar

Kulihat dibelakangnya sayap agung nan besar

Tak ayal lagi betapa putih sucinya memantulkan sinar

 

Semakin lama kurasakan tubuhku terjatuh

Indahnya langit semakin lama semakin menjauh

Bagaikan kapal yang kehilangan sepasang sauh

Sayap indah yang membawaku sepasang luluh

 

Tak ada yang bisa dipinta dan meminta

Mataku terpejam mencari asa tersisa

Meskipun tau kelak mungkin tiada lagi raga

Harapan kuharap tak akan pudar dari jiwa

 

Sekali lagi kucoba bayangkan muasal daya terbang

Menjemput senyum gundah pun menghilang

Meskipun kecepatan tanpa batas mengganti layang

Kebahagiaan bisa datang tanpa adanya pandang

 

Sayapku hanyalah terbuat dari debu

Bukan dari bulu angsa selembut beledu

Bukan dengan ikatan kuat setangguh batu

Hanya sebuah rajutan penuh harapan sendu

 

Tanpa gravitasi aku terus melaju turun

Seakan merobek kulit menghujam jantung

Tekanan besar menghantam beruntun

Kumuntahkan asa bagai mawar terpasung

 

Sekali lagi kupejamkan mata sebisa mungkin

Mencoba menggapai semua asa yang mungkin

Selamat hanya ide tapi bukannya tidak mungkin

Mencoba membayangkan segala hal yang mungkin

 

Mimpi ah mimpi aku kembali kepadamu

Sama seperti ketika aku dulu memujamu

Tolong bawa aku ke setiap indahnya duniamu

Meninggalkan raga menuju tenangnya hatimu

Read Full Post »

Serpihan Mimpi

Duka menyesak dada seketika

Buliran air mata tak kunjung mereda

Entah kekuatan apa yang menghimpit jiwa

Memaksa emosi terbakar dan keluar tanpa sebab nyata

 

Kali ini sebuah memori merasuk dalam ingatan

Indah bagai kemilau cahaya menyilaukan

Luka mengiris jemari tak lagi menjadi beban

Merahnya darah menetes mewarnai rerumputan

 

Malam menyelimuti jiwa terus membawa sadarku

Serpihan kaca itu terus menerus menusuk dadaku

Tangis duka galau terus menerus berganti di pikiranku

Bayangan sang ksatria terus menghantui malamku

 

Pagi harinya aku berjalan kembali ke padang luas

Mengumpulkan lagi serpihan yang terbentur keras

Dalam telapak kukumpulkan setiap pecahan gelas

Yang kemudian kusadari adalah pecahan cermin naas

 

Kususun setiap serpihannya satu demi satu

Kubermimpi akan sang ksatria malam demi malam

Kulihat bayangan indah dunia cermin hari demi hari

Kusadari sang ksatria membaik mimpi demi mimpi

 

Sejak saat itu mimpiku selalu bertabur bintang

Cermin retak tersusun rapi terus kupegang

Dalam dekapanku sang cermin terduduk tenang

Dalam mimpiku sang ksatria tersenyum senang

Read Full Post »

Older Posts »