Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

international-events2

It has been curdling up in my mind for quite a long time already and I guess I really need to write this up just to clear up my mind.

It was never in my mind to somehow in touch and being an event organizer for a big international event. I am not even a professional in this field, so yeah, it’s just a view from a person who somehow involved in this kind of things.

My father is a super great manager. He is helping here and there for managerial advice for many organizations. Since I adore him so much, I enjoy listening to all his story about his companies and organizations. Then, I jumped in a real life situation of what he always tell me.

 

Singapore 23rd International Biology Olympiad 2012

When I graduated from NTU Singapore, I joined International Biology Olympiad 2012 as a Team Guide and there I started my first big international event. There are more than 50 countries attending this event with at least 6 delegates per country. We need to house the 4 students and minimal 2 juries per country. Both student and juries should not meet in any condition, not even communicating until the scheduled time. My duty is just a simple one, just follow the protocols and I will guide 4 kids from the same country who won’t have their gadgets for a week event and ensure they all follow the schedule. Pretty simple, huh? That’s what I thought until all those unpredictable details come in. Somehow, I guess to cut the cost, we stayed in a student hostel which house a person in a room.

Firstly, Somehow, I guess to cut the cost, we stayed in a student hostel which house a person in a room. OK, so every morning, we need to knock on each of 4 high school kids’ room, so that they will be on time for all the schedules. Easy peasy for me since I am such an early bird myself since I was in high school. Until the nightmare raise when we understand a situation. Just like us, the highschooler at that time is so depends on their gadget including their phone to get them awake and see the time. Damn! When they surrender their gadget to us, automatically, they don’t have anything to display time. No watch, no table clock inside the room. So, knocking the door to wake them up is a must. We, as a guide, need to catch the schedule as well and we don’t have enough time to go to some convenient store just to buy a table clock for them. So, damn! Another problem comes about room placement. Those 4 kids from each country is located in different floor to let them socialize with another country folks. Meanwhile, I stayed in another floor. The key of the floor basically allow an access for the elevator to your floor only. So, each morning, we will start with chaotic screaming. Because in every floor there is only a guide that we can call to wake our kids up. When that guide already gone with their kids to the bus. We are screwed if our kid are still upthere sleeping like a baby. We will eventually get scolded by our senior guides (I got the position as a Kuwait team leader is basically because I know a bit of Arabic and I am Moslem myself, so I can help them easier for daily prayer and all that stuff). But the thing is our motivation is not the fear of scolding (our senior guide is basically a volunteer like us who know no more than us, so yes there is no superiority anyway). More like, the events won’t be running smoothly if we don’t do our duty well. We try our best to solve this things. Some initiate to take care each other kids and smuggling himself to go to grocery store to buy some table clock, some towers initiate a daily rooster as elevator keys guard every time. First day was chaotic, but then in EACH NIGHT DAILY EVALUATION SESSION, we take this issue to the higher management which is the senior guides and chief guides and talk each other about what we will we do.

Secondly, Some country has their own needs and wants. I once so fed up with my team. Why? Because I guess my kids was not so used to be in a communal setting. They are always in highly exclusive position in their country. They want to be exempted from the schedules, from the queue line, from the ordinary set up. Once I got scolded by the high levels because I don’t inform them that the jury of my team wanted to leave earlier due to the party having alcoholics drinks that makes them uncomfortable. I  didn’t really get it since I thought I can’t by pass my protocols. So, yes, I got my lesson that I can actually ask the high levels management for exemptions.

Once near the closing ceremony, I am so tired and I ended up hugging one of my senior guide (disclaimer: he is my best friend for 6 years too) and crying my tears dry in his arm. I am so fed up and tired for the lack of sleep and all the scolding. He hugs me for quite sometime until my kids all finish their prayer in some hideous place of the building. After that, I just continue my duty and smiling to all the participants and committee again. So, for them, it’s OK to be human, it’s OK to feel tired and fed up, as long as you still continue your given task and not make a scene in front of everyone. Two of my kids are quite sensitive about my well being too, so basically I don’t want to let them down because they see me crying. So, yes, they don’t know and be happy with it.

In anyway, in their committee, I find a very solid circle of friend, who share the bad and the good together during the whole events. Let us be human, and let us socialize. The G7 is one of the most valuable circle of friend I have ever had. They even spend their time to come to my graduation ceremony and bring flower and the Kazakh’s doll. It was such an eye-opening and fun experience. And I got a lifetime friendship 😀

–to be continued–

Iklan

Read Full Post »

Mutiara Senja

mutiara
Semburat jingga menoreh di tengah pudarnya nila

Tidak terasa aku sudah berada di ujung siklus diurnal

Aku seorang pengumpul kerang sebelum pasang

Rasanya tidak ingin sampai pada penghujung masa

 

Kala mentari mulai berbagi serpihan sinarnya

Kutemukan sebuah mutiara yang bercahaya

Kupegang erat kurawat dengan hati riang gembira

Tanpa sadar ketika siang datang aku telah meremukkannya

 

Senja ini kutemukan lagi sebuah mutiara

Dari tumpukan kulit-kulit kerang yang kutata

Aku sadar hanya sebentar pula mutiara ini kugenggam

Malam akan datang menarik kembali cahayanya

Read Full Post »

beyinke

Saya tergerak untuk menulis ini dikarenakan melihat beberapa teman yang menyebarkan status-status yang berisi penolakan terhadap sistem patrilineal yang berpihak pada laki-laki dan seolah menekan perempuan. Saya perempuan dan saya tumbuh besar dengan menolak sistem patrilineal masyarakat. Dulu, saya ingin mendobrak itu, menjadi wanita yang memang sama superb-nya dengan laki-laki. Dulu, saya ingin menjadi wanita yang sejajar dengan lelaki, sama kuatnya, sama cerdasnya, bukan sekedar menjadi ibu rumah tangga yang kerjanya hanya masak, nyuci, dan ngurusin suami di atas ranjang (ini tidak ada maksud menghina pekerjaan IRT, simply pendapat saya waktu masih sangat awam kala remaja). Tulisan ini hanya refleksi batin dan mungkin pengambilan makna dari sedikit ilmu yang saya cowel sana-sini dari berbagai sisi kehidupan. Kalau ada hal-hal yang dirasa perlu diperbaiki dan diberi masukan, saya akan menerima dengan senang hati karena maklum, saya bukan terbilang ahli dalam bidang filosofi, antropologi, primatologi, atau bahkan ilmu agama islam. Jadi jangan jadikan tulisan saya sebagai referensi, hanya bahan renungan saja.

Jadi kita mulai dengan fitrah(1). Karena saya seorang saintis, biolog terutama, saya mengambil makna fitrah sebagai tabiat bawaan atau naluri. Karena saya berpegang pada Quran namun tidak memungkiri kebenaran teori evolusi Darwin yang tidak bisa diekstrapolasi sehingga tidak pernah menjadi hukum evolusi, maka saya juga tetap menyamakan jasmani manusia sebagai hewan dalam Kingdom Animalia. Saya orang yang percaya bahwa Kun Fayakun itu tidak semata-mata terjadi begitu saja. Ada proses yang terjadi dibalik Kun Fayakun tersebut dan proses dari Kun Fayakun itu tidak terkecuali adalah evolusi yang membawa manusia pada fitrah (naluri) hewaninya. Manusia tercipta dari tanah (partikel), iblis dari api (energi panas), sedangkan malaikat dari cahaya (memiliki sifat partikel dan energi). Jadi tentu saja manusia sama dengan hewan lainnya yang meminjam atom-atom sebagai wadah jasmaninya yang asal mulanya tentu saja dari tanah (materi inorganik yang nantinya akan diubah menjadi materi organik oleh bantuan tanaman dan rantai makanan).  Jadi tolong, meskipun saya percaya evolusi, saya tidak pernah bilang manusia dan monyet itu sama, karena wadah jasmaninya saja yang sama, tapi hakikat akal yang diberikan Allah khusus pada manusia itu sesuatu yang lain lagi, di luar ranah sains atau mungkin saja belum terbaca pada sains saat ini. Maka, saya sendiri selalu mencoba menjadi manusia hakiki yang mencoba melawan fitrah jasmaniah saya sebagai hewan dan mencoba menjadi manusia yang menggunakan akal yang merupakan hak prerogatif manusia dari Allah, tidak ke hewan lainnya.

Dengan jasmani yang sesuai dengan teori evolusi, maka manusia tak lain tak bukan adalah primata, ya, sama seperti monyet, gorilla, kera, atau lemur. Secara hormonal, secara jasmaniah, kita sebagai manusia akan melakukan hal-hal yang meningkatkan kesuksesan evolusi kita, memiliki sumber daya yang cukup untuk kemudian memiliki anak yang sukses meneruskan keturunannya juga. Ilmu evolusi menitikberatkan ekonomi untuk satu tujuan egois dari materi genetik tubuh kita, meneruskan kopian dirinya ke generasi selanjutnya (2). Semua perilaku hewan dapat dijelaskan dengan mudah lewat konsep cost and benefit dari keuntungan evolusi jangka panjang, tidak terkecuali strategi mencari makan, mengorbankan diri untuk keluarga, dan tentu saja struktur kelompok sosial.

Alhamdulillah, saya hanya punya satu niatan hidup di dunia, beribadah. Dengan cara apa? Iqra’, membaca. Membaca segala yang tertulis dan tak tertulis. Hidup saya untuk belajar dengan berbagai macam pegangan (3) terutama:

Sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

فَـضْلُ الْعِـلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَـضْلِ الْعِـبَادَةِ، وَخَيْرُ دِيْنَكُمُ الْوَرَعُ .

 

Artinya: “Keutamaan ilmu adalah lebih baik dari pada keutamaan ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah ketakwaan.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (no. 3972) dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (ta’liq hadits no. 96 sebagai syahid), dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu’anhu]

Hal ini juga yang terus membuat saya belajar lebih luas. Dan entah dengan cara-Nya Allah mempertemukan saya dengan ilmu baru agar saya belajar hakikat fitrah jasmaniah manusia, primatologi.

Primata memiliki kecenderungan untuk memiliki sistem struktur sosial untuk memberikan keuntungan evolusi bagi mereka, diantaranya adalah terlindung dari predator, akses yang lebih baik kepada makanan, dan akses pada pasangan kawin(4). Keberadaan gender tentu saja tidak lain dan tidak bukan untuk kemungkinan adanya perkawinan, jadi kita sungguh tidak bisa menghilangkan itu dari persamaan kehidupan.

Hampir setiap makhluk hidup advance memiliki sel telur yang secara ukuran jauh lebih besar dan memiliki setiap sumber daya untuk bakal anak dikemudian hari. Sedangkan sel sperma hanyalah sel kecil yang berenang membawa materi genetik dan sumber daya yang mencukupi perjalanannya menuju sel telur (jadi jelaslah ya kenapa cowok selalu travel light tanpa bawa apapun, dan cewek selalu at least bawa tas kecil, secara fitrahnya memang begitu :p). Begitupun sebenarnya cost yang akan dikeluarkan betina untuk menyukseskan dirinya secara evolusi (punya anak) akan jauh lebih besar ketimbang pejantan. Pejantan hanya perlu akses yang mudah kepada betina yang siap kawin, sedangkan betina harus selektif terhadap pejantan karena ia harus memastikan pejantan yang ia pilih memiliki sumber daya yang cukup untuk membantu anak yang akan ia lahirkan (see the point? Now, you know why boy loves bitches – easily accessible, and why girl tends to be gold-digger, it’s all natural).

Pada primata, yang lebih banyak dilakukan adalah model berkelompok satu jantan banyak betina. Mengapa? Karena memang pengasuhan anak benar-benar membutuhkan energi yang besar. Seorang ibu harus dibantu untuk merawat bayinya, entah oleh pasangannya sendiri atau oleh saudara-saudaranya. Karenanya pola matrilineal akan jauh lebih menguntungkan dimana betina-betina berkumpul dan saling membantu, sementara pejantan akan pergi bersama pejantan lain dan menghindari agresi dengan pejantan pemimpin kelompok. Pola yang sangat matrilineal, bukan? Memastikan sumber daya kepada anak yang jelas dari DNAnya karena ibu pasti tahu yang mana anaknya, sedangkan bapak tidak. Karena ketidakpastian paternitas itulah agresi akan sangat tinggi dan pejantan yang kuat akan mengusir pejantan lain dari kelompoknya. Hal ini untuk memastikan bahwa anak yang dilahirkan di kelompok adalah anaknya sendiri, bukan anak pejantan lain. Pola matrilineal. Menariknya, jantan tidak menunjukkan agresinya kepada betina tapi kepada pejantan lainnya.

Tiba kepada manusia, pejantan dengan pola agresinya mencoba menekan betinanya dengan falsafah fitrah yang sama, yaitu kepastian paternitas. Ketika seorang wanita sudah menikah, ia menjadi terbatas untuk keluar rumah, tidak boleh menjadi dominan, parahnya di masa lalu adalah wanita benar-benar ditekan tidak boleh berekspresi. Menjadi pejantan adalah dominansi terbaik, ia yang menguasai segalanya dan dianggap memiliki power dengan agresinya dengan testosteronnya. Awalnya, wanita sebenarnya yang memiliki pilihan untuk memilih pejantan mana yang akan ia nikahi, pejantan yang memiliki sumber daya yang baik untuk anak-anaknya. Namun, seiring dengan patrilineal yang kebablasan, wanita diinjak-injak. Dianggap nista memiliki anak wanita karena kasih sayangnya, karena ketulusannya, dan fitrah yang dimiliki hati nurani manusia, berbakti pada suaminya. Pejantan-pejantan masa lalu terlalu menuruti kata jasmaninya selayaknya primata non-manusia lainnya, yang beranggapan bahwa wanitanya bisa saja berselingkuh dengan pria lain, memiliki anak dari pria lain, sehingga kepastian paternitas haruslah dipastikan. Wanita harus dibatasi pergerakannya. Bukannya mengusir pejantan lain, yang dilakukan laki-laki kita justru mengekang wanitanya.

Namun, yang terjadi sekarang justru penolakan patrilineal yang kebablasan. Banyak dari kita lupa falsafah telur dan sperma tersebut. Bahwa sesungguhnya wanita lah, betina lah, yang terhormat dan memiliki sumber daya sangat tinggi. Pejantanlah yang harusnya datang dengan segala sumber dayanya sedemikian rupa mendekati betinanya untuk dikawin. Wanita mengekspos seksualitasnya, yang mana sebetulnya tidak menyaring pejantan-pejantan dengan kualitas baik karena kita menjual murah sel telur kita. Fitrah manusia sebagai salah satu hewan juga adalah mengurus anaknya dengan sumber daya yang terbaik yang ia miliki dan menyapihnya ketika dewasa. Menjadi ibu rumah tangga adalah fitrah karena mengikuti fitrah jasmaniah yang akan menyiapkan anak-anaknya sebagai bagian kesuksesan evolusi dirinya. Sejak saat itu, justru saya memilih jadi ibu rumah tangga di kala saya memiliki anak nanti dan menyapihnya sedikit demi sedikit hingga usia baligh. Patrilineal di mana ibu diminta untuk ada di rumah dianggap menyiksa kebebasan wanita. Meminta wanita berhijab dianggap mengekang kebebasan wanita. Mungkin kita sudah kebablasan.

Islam datang untuk menyeimbangkan, menyeimbangkan fitrah hati nurani kita yang sudah dianugerahkan Allah sebagai manusia dan menyeimbangkan fitrah jasmaniah kita sebagai hewan. Kebijakan yang sangat mengkompensasi jasmaniah manusia tentu saja, kebijakan Islam dengan membolehkan laki-laki memiliki empat istri, dengan prasyarat harus bisa adil (5). Adil adalah kepuasaan istri, keridhoan istri. Keputusan poligami ini sekali lagi sesungguhnya secara evolusi bukan ada di suami. Sesuai dengan fitrah jasmaniah manusia sebagai primata,  sesungguhnya ada di istri. Bahwa ketika pejantan memiliki sumber daya yang begitu berlimpah dan mampu menghidupi diri dan anak-anaknya kelak, maka betina tidak masalah mengikuti jantan tersebut di dalam haremnya. Keputusan ada di wanitanya, bukan di pejantan. Cemburu dari istri juga respon alamiah, karena sesungguhnya ketakutan bahwa sumber daya dari suami akan dialokasikan kepada betina lain dan anak-anak dari betina lain tentu saja merupakan hal buruk bagi dirinya dan anak-anaknya. Makanya, reluktansi cenderung tinggi dari pihak istri pertama untuk menerima betina kedua. Fitrah jasmaniah.

Ikatan pernikahan juga merupakan kompensasi teradil dari adanya timpang antara kebutuhan pejantan dan betina dalam kesuksesan evolusi. Pejantan yang pada dasarnya akan menyebarkan benih ke banyak betina dan kebutuhan dari betina yang membutuhkan bantuan dalam membesarkan anak-anaknya. Ikatan pernikahan sesungguhnya sangat mengikat pejantan sehingga ia tidak dapat melakukan fitrah jasmaniahnya (sungguh lelaki yang berkomitmen dengan pernikahannya selalu saya anggap sebagai manusia sejati yang berbeda dengan hewan karena mampu menahan fitrah jasmaniahnya) untuk bertemu banyak betina dan mengawini sebanyak mungkin betina. Primata yang tendensinya cenderung merawat anak-anaknya dalam komunitas saudara-saudara wanita dekat mendapatkan kepastian perawatan anak dari suami, sehingga kedekatan dengan keluarga awal tidak selalu diperlukan dan memungkinkan manusia melakukan pergerakan yang lebih baik ketimbang primata lain. Kalau selama ini semua orang selalu mengatakan, mengapa Ibu harus ditaati karena ia telah mengandung 9 bulan 10 hari, maka sekarang saya mengatakan bahwa keistimewaan suami juga memang sudah merupakan haknya. Suami yang baik yang menahan fitrah jasmaniahnya dan menjaga sumber daya dan komitmennya untuk satu istri, sangat berhak untuk kepastian paternitas. Kalau hukum Islam hanya mengekang lelaki, tentu tidak adil bagi lelaki. Secara evolusi, kepastian paternitas, itu yang diinginkan oleh lelaki, maka Allah menempatkan ridho suami sebagai ridho-Nya juga (6). Suami yang menjaga sumber dayanya kepada istri berhak atas kepastian paternitas. Tidak keluar rumah tanpa ijin suami, tidak berpuasa Sunnah tanpa  ijin suami, dan adab-adab terhadap suami lainnya adalah sebuah guidelines tentang kepastian paternitas. Diharapkan suami tidak pernah sedetikpun berpikir ada ketidakpastian paternitas. Caranya ga mesti melulu sama dengan yang tertulis di berbagai adab yang ditulis hadits-hadits karena memang hadits muncul di tanah Arab di masa itu. Modernitas dan kultur berbeda dari tanah Arab tentu saja mengubah berbagai macam hal termasuk diantaranya tentu kebimbangan tentang kepastian paternitas itu, but at least you’ve got the point, jangan sekalipun menggoyahkan kepastian paternitas itu dan caranya bisa dikomunikasikan masing-masing antar pasangan.

Islam menempatkan wanita secara terhormat, sangat terhormat bahkan. Karena bisa jadi mencegah patrilineal kebablasan yang terjadi tepat sebelum Islam datang. Bahwa agresi atas dorongan testosteron yang sangat kuat, membuat wanita tidak bisa berbuat apa-apa. Agresi tidak lagi ditujukan kepada pejantan lain, tapi juga kepada wanita-wanitanya. Wanita direndahkan, tidak boleh ikut berdebat dengan lelaki, tidak boleh mendapatkan ilmu lebih. Quran berulang kali mengatakan secara sejajar untuk kata ganti pria dan wanita (mu’miniin wa mu’minaat, muslimiin wa muslimaat). Bahwa karena wanita dengan hormon oksitosinnya yang sangat penyayang dan pria dengan testosteron dan agresivitasnya sesungguhnya sama saja secara batiniah. Islam tidak pernah melarang wanita menjadi seorang pemimpin, seorang yang sukses, seorang yang memiliki karisma di mata masyarakat. Istri Nabi Muhammad SAW, Khadijah RA, saja sebelumnya adalah bos dari sang Nabi ketika berdagang, menunjukkan bahwa wanita secara perkembangan intelektual, mentalitas, dan batiniah bisa setara dengan laki-laki atau bahkan lebih. Namun, ketika dilihat dari sisi gender/seksualitas, patrilineal tetap lebih diutamakan atau kalau tidak, maka ketidakpastian paternitas akan membuat sistem keluarga menjadi hancur dan kepastian sumber daya untuk anak menjadi hancur pula karena anak tidak jelas hasil dari sperma siapa, dan kepastian sumber daya dari ayah yang mana tidak dapat dipastikan. Perlu digarisbawahi, men travel light, jadi kalau kepastian paternitas tidak terjamin, pejantan akan dengan mudahnya meninggalkan keluarga.

Jadi, gender ada bukan untuk disetarakan, tidak ada persamaan gender. Keduanya memilki strategi masing-masing dengan perkembangan evolusionernya masing-masing. Saya sendiri berhijab karena ingin menjaga diri dan ingin dipandang di luar dari seksualitas saya. Bahwa sel telur saya masih sesuatu yang mahal dan kalau ingin menjamah seksualitas saya maka akan lain urusannya dengan apa yang saya capai secara intelektual, mentalitas, dan batiniah. Patrilineal kebablasan memang menganggap wanita sebagai objek yang harus ditutupi, yang tidak boleh diekspos, tidak boleh dilihat oleh siapapun. Tapi, tolong lihat dari sudut pandang fitrah jasmaniah antara pejantan dan betina. Jika tidak ingin menjadi objek seksualitas, maka janganlah menjadi objek seksualitas. Tutupi seksualitasmu dan berjalan bersisian dengan gender yang berbeda. Tutupi yang harus ditutupi agar tidak mempermudah akses lawan jenis untuk mengaktifkan sisi jasmaniahnya. Sebaliknya pun sama, bukan tubuh sensual yang diincar oleh wanita secara fitrah evolusi jasmaniah, tapi kebaikan hati, kepedulian, dan segala bentuk pemberian yang memastikan bahwa anda adalah suami kompeten juga membuat lelaki dilihat secara seksual (saya dan teman-teman jujur saja juga suka memperbincangkan hal ini dan tampaknya betapa kami memandang laki-laki sebagai objek seksual: bisa dengan mudah diminta antar sana-sini, dimintain beli ini-itu, diminta tolong ini-itu, tidak ada bedanya dengan laki-laki yang memandang wanita secara sensual. Karena secara evolusi betina dan pejantan menarget hal yang berbeda, maka topiknya pun berbeda).

Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Coba tilik lagi guidelines yang diberikan agamamu. Tilik lagi, karena sesungguhnya agama diturunkan agar kita berperilaku lebih manusiawi dan tidak menuruti nafsu hewani yang sudah menjadi fitrah. Kalau ingin dinilai berbeda dari hewan, maka bertindaklah manusiawi dan kendalikan fitrah hewanimu. Sayangnya sekarang, manusia cenderung lupa dan cenderung menuruti nafsu hewaninya tanpa lagi bertanya pada ruhnya, pada batiniahnya. Tidak terkecuali saya yang terus tergelincir sana sini, karena kadang di dunia modern, suara hati nurani itu entah kenapa teredam, makin kecil dan makin kecil. Butuh perhatian khusus untuk mendengarkannya, butuh perhatian khusus.

 

(1) http://kuliahnyata.blogspot.co.id/2013/07/konsep-fitrah-dalam-al-quran_8004.html

(2) Dawkins, Richard. 1989. The selfish gene. Oxford: Oxford University Press.

(3) https://muslimah.or.id/2416-nikmatnya-menuntut-ilmu-bagian-2.html

(4) Fleagle, John G. 2013. Primate adaptation and evolution. San Diego: Academic Press.

(5) Quran Surat An-Nisaa’ ayat 3

(6) “Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya, maka ia masuk surga.” (HR. At- Tirmidzi).

Read Full Post »

Seribu satu

1000_by_aveqiu1

Seribu

Sebuah kata yang menggambarkan jumlah yang banyak namun kuantitatif

Seribu

Gampang terucap namun kadang sulit untuk dijalankan

 

Bukankah Tuhan pernah menjanjikan sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan? Iming-iming yang begitu menjanjikan karena hampir tiada orang yang bisa hidup hingga seribu bulan.

Bukankah istri raja Syahrazan pun juga menyajikan setiap cerita hingga seribu malam agar sang suami beringasnya itu luluh hatinya? Suami yang selalu menebas kepala istri-istrinya terdahulu sebelum mereka kembali mencium hangatnya sang surya setelah malam pertama.

Bukankah Sadako Sasaki pun melipat seribu bangau kertas sebagai perlambang betapa banyak doa dan harapannya untuk sembuh? Hingga bangaunya menjadi sebuah simbol perdamaian dunia. Agar tiada lagi peperangan yang meluluhlantahkan manusia menggunakan senjata nista lagi pengecut yang memporakporandakan kemanusiaan.

Perasaan adalah hal yang tidak pernah terkuantifikasi. Sesuatu yang kadang bisa tertutupi oleh hati itu sendiri, termodifikasi oleh zat kimiawi, atau bahkan termatikan oleh bebalnya menanti.

 

Seribu perlambang kata banyak

Jika kucapai engkau seribu

Mungkin aku tahu perasaanku

Dan aku tidak lagi bimbang akan hatiku

 

Lampaui seribu maka akan terjadi suatu hal yang baik. Angka dibalik seribu itu, satu kesatuan yang tak terpisahkan dari jalannya kesempurnaan.

Read Full Post »

Musim panas membawa keceriaan semu
Ketika ia datang, ceria berpadu
Ketika ia pergi, ceria pun melayu
Membiarkan jeruk di depanku tak tersentuh

Musim panas membawa kau padaku
Sebagai seorang teman dan pembantu
Tak kuketahui ternyata kau pesaingku
Namun sekarang selayaknya dua menjadi satu

Bercerita engkau tentang seorang putri
Terpuja cantik lagi akhlaknya terpuji
Suaranya laksana nyanyian peri
Bagimu pecinta musik aku tahu sangat berarti

Kita bekerja selayaknya matahari tak pernah padam
Pagi muncul berganti sore dan bertandanglah malam
Hidupku bergantung pada melihat cahaya temaram
Jeruk itu kau sampaikan ke depanku yang awam

Jeruk itu pengganti matahari dan sebuah ciuman penenang
Seperti nama eloknya dalam bahasa negeri seberang
Setiap pagi jeruk itu menjadi penghibur hati yang tegang
Akibat jabatan terlalu tinggi yang tak pernah kupegang

Musim panas berakhir saatnya kembali ke kehidupan dingin
Jabatan tangan dan kecupan di pipi meninggalkan rasa masin
Aku tak akan pernah bertemu kau lagi di kesempatan lain
Kau berjanji bahwa maya pun bisa menjadi ajang menjalin

Putri selayaknya peri ternyata memberi titah
Padamu untuk selalu ada di sampingnya menatah
Sebuah hati yang ternyata ia siapkan mentah
Meninggalkanku tepekur mencari serpihan hati di tanah

Jeruk yang sudah kusiapkan akan kukirimkan
Pada tiap musim panas untuk mempererat hubungan
Ternyata hanya terdiam di depanku tak lagi bertuan
Jeruk dan musim panas sebuah hikayat yang tak berpasangan

Read Full Post »

Menuju Madukara

Aku menangis, aku menangis
Aku putri raja, putri raja
Harus menikah dengan raksasa beringas
Untuk menyelamatkan kerajaanku nan nestapa

Aku menangis, aku menangis
Kainku sudah sobek tersangkut ranting dedaunan
Tak hanya itu kulitku pun bersimbah darah dan tanah
Harus terus berlari aku belum juga melihat gerbang madukara

Kangmas Arjuna, Kangmas Arjuna
Tolong aku, tolong aku
Seberapa jauh lagi aku bisa mencapai gerbang istanamu
Malam menjelma namun langkahku tak boleh membatu

Kanda Drupadi mengatakan engkau yang terhebat
Kanda Drupadi mengatakan engkau memiliki ilmu tak terkalahkan
Aku harus selamatkan Pancala dari porak poranda
Sebelum semua habis dihancurkan Jungkungmardeya laknat

Kakiku sudah tak kuat, aku menangis
Nafasku terus memburu, aku menangis
Perutku berteriak meminta nasi sejumput, aku menangis
Lututku sudah sobek berulang kali terjatuh, aku menangis

Kangmas Arjuna, Kangmas Arjuna
Entah sudah berapa kali matahari datang menyapa di ufuk
Tak kunjung aku mencium atau melihat gerbang Madukara
Apakah aku benar berlari ke Madukara? atau aku hanya berkelana dalam nyenyak?

Aku terduduk di bawah pohon beringin yang sangat besar
Merangkul tubuhku yang sudah mulai menyerah kelelahan
Menangis, menangis, menangis, meratap, meratap, meratap
Nama Arjuna kuteriakkan keras-keras diselingi dengan nama kakakku tersayang

Batara Candra, Batara Surya, Batara Guru tolong aku
Mungkin memang bukan Arjuna yang akan menolongku
Aku harus keluar dari imajinasi ini, keluar dari kungkungan hutan ini
Mengerahkan seluruh tenaga untuk ditolong seseorang? Sungguh sangat Srikandi

Aku sudah setengah jalan menuju Madukara
Bukan hal yang bijak terus berbalik menuju Pancala karena mengira ini mimpi belaka
Aku tau ini bukan mimpi dan aku akan pergi terus menuju Madukara
Tidak akan meminta bantuan, aku akan minta pengajaran

Kangmas Arjuna, tolong ajari aku sebuah cara
Aku tau ini diluar kuasa Madukara, tidak ada yang dapat engkau perbuat
Aku, putri kerajaan Pancala yang harus menyelesaikan
Ajarkan aku saja caranya, aku sendiri yang akan menyelesaikannya

Biarpun bersimbah darah, biarpun harus berpeluh dan berkesah
Biarpun harus melewati hutan ini lagi dengan harimau-harimau ganasnya
Aku akan menuju Madukara, berlutut di hadapanmu meminta menjadi muridmu
Betapapun enggannya engkau aku akan terus memohon, ini tekadku, kehendakku

Aku pangkas ranting terakhir di depanku dan kulihat jalan setapak
Jalan setapak menuju sebuah gerbang yang sangat besar dan tegar
Madukara akhirnya aku sampai pada pelukan hangatmu
Satu langkah lagi, memohon pada Arjuna untuk menerimaku

Read Full Post »

I sat alone on the park bench facing the Bukhan river (북한강). It’s not my common things to go to such romantic place. This place is really crowded thanks to that drama of two star-crossed lovers who suspect each other to be siblings. It’s raining today. It’s far away from Chilseok (칠석) but the tears of two lovers already filled my heart and made my self drained wet. Yes, thanks to this rain, I felt a consolation from the nature and I can drain all the sadness of my breaking heart.

Then, I saw kkamagwi nearby. So strong yet vigilant. I threw some of my hobbang (호빵, steamed bun) that I bought to make my self warm enough in this chilly weather. Kkamagwi came nearby, in careful and awkward way. Cautiously, it jumped slowly and reach the piece of hobbang that I threw. Slowly but sure, it took it and flew away to a quite and lone place.

Suddenly, an ahjussi (아저씨, old man) came and sat down beside me. He talked in broken English that I shouldn’t fed the kkamagwi, bad luck should never be bred.

“Why should I never fed the kkamagwi?” I said to him. “Kkamagwi is indeed ugly and so black that he might absorb all the luck around. It is a living entity like us, We might get friendly with the bad as well as the good won’t we?”

“Even without being fed, the kkamagwi will breed a lot and reappear in some houses. Kkamagwi represent death, bad luck. If you see one in the morning than you’ll be in bad luck for the rest of the day. Better to keep it as it is and not feed them. If you feed them means you also brings the bad luck around.”

As a foreigner here, I don’t want to argue with the elderly so I just nodded and listened to what he told me.

“There, there. You see that blue pretty bird? You can feed it. It’s called kkachi. It brings you good luck for the rest of the day.”

I proceeded to throw some pieces of my hobbang to that bird. Differ from the kkamagwi, this bird, without hesitating, come near my and eat the hobbang in the exact spot that I threw it. It’s so chubby it even fly very slow and not afraid of human.

“When I was a child. I live in a traditional house that has a hole in the roof so that kkachi can live there and build a nest. Sometimes kkamagwi will come in and intrude our house which always make us rattle since it means death to one of our family. My mother will always shoo the kkamagwi out and let the kkachi in. But my grandmother always tell her that Kkachi and kkamagwi are sisters. They both work as a team to build the same bridge of love during Chilseok. Life will consists of the good and the bad. Same as you, she likes both kkachi and kkamagwi even though it means inviting the bad in the house. She said when we treat everything equally then we might bring not only luck but also bonghwang (봉황, phoenix) to this house,” said ahjussi with bright eyes filled with memories.

“Do you know why I fed the kkamagwi? It’s not because I don’t know the superstition. I did know about that long time ago since the first time I arrived in Korea five years ago,” answered me with English and some broken Korean. “Maybe your grandmother was right that in life there are the good and the bad sides. To make life perfect and balance to the highest state like bonghwang, you need to embrace both kkachi and kkamagwi side by side. I felt like a kkamagwi during this five years. Thrown away and not accepted by anyone, even my own family. I was raised as a kkamagwi, living a hard life because no one dear me like a kkachi. I need to go to the trash bin to find something to eat while the kkachi being fed freely by people because they find it dearly and bring good luck. But then, I saw them now. The kkamagwi is so vigilant and careful while the kkachi was so easy-going and have low agility. If let say the environment is changing, who will be survived? The vigilant kkamagwi or the easy-going kkachi? I guess the answer lies in front of us so boldly. Kkamagwi, even though being hated, it can survived the harsh environment with or without human. Kkachi is only depends on human pity, so they become lazy and chubby. Maybe that’s why bonghwang never comes, because we only embraces the good and mock the bad.”

The ahjussi looked so irritated after I lectured him about all this things and start to grumbling in Korean that I can barely understand. He then left me alone with quite grumpy face. I smiled even though he couldn’t see it. Just let it be. I am the kkamagwi anyway, thrown away and bring the bad luck. That time, the kkachi that I fed jumping by my feet and a kkamagwi landed beside my seat. I smiled again and saw a glimpse of five-coloured peacock tails peeking behind a metasequoia tree. Maybe bonghwang has given me a visit. A visit to a person that has embrace the kkachi and kkamagwi together.

Kkachi and Kkamagwi

Note:

Chilseok :
A Korean traditional festival which falls on the seventh day of the seventh month of the Korean lunisolar calendar, originating from the Chinese Qixi Festival. According to the well-known story, the heavenly king had a daughter called Jiknyeo (Hangul: 직녀, Hanja: 織女), who was very good at weaving beautiful clothes. One day, when she looked out of the window while weaving, she saw a handsome boy, a herder called Gyeonwu (Hangul: 견우, Hanja: 牽牛), just across the Milky Way. She fell in love with him. Finally the heavenly father allowed the two to get married. Afterward, Jiknyeo did not want to weave clothes, and Gyeonwu did not take good care of the cows and sheep. The heavenly king grew angry, and ordered the couple to live apart from each other, allowing them to meet only once a year. On the seventh day of the seventh month of each year, they were excited to meet each other, but they could not cross the Milky Way. However, crows and magpies worked together to form a bridge across the Milky Way for the couple. After a while, their sadness returned because they were forced to wait another year before meeting again. It is said that crows and magpies have no feathers on their heads because of the couple stepping on their heads. If it rains on that night, it is said to be the couple’s tears.

Bonghwang

Bonghwang:
A mythological birds of East Asia that reign over all other birds. It is often described as a composite of many birds including the head of a golden pheasant, the body of a mandarin duck, the tail of a peacock, the legs of a crane, the mouth of a parrot, and the wings of a swallow. Its feathers contain the five fundamental colors: black, white, red, blue and yellow. It is believed that the bird only appears in areas or places that are blessed with utmost peace and prosperity or happiness.

Read Full Post »

Older Posts »