Menuju Madukara

Aku menangis, aku menangis
Aku putri raja, putri raja
Harus menikah dengan raksasa beringas
Untuk menyelamatkan kerajaanku nan nestapa

Aku menangis, aku menangis
Kainku sudah sobek tersangkut ranting dedaunan
Tak hanya itu kulitku pun bersimbah darah dan tanah
Harus terus berlari aku belum juga melihat gerbang madukara

Kangmas Arjuna, Kangmas Arjuna
Tolong aku, tolong aku
Seberapa jauh lagi aku bisa mencapai gerbang istanamu
Malam menjelma namun langkahku tak boleh membatu

Kanda Drupadi mengatakan engkau yang terhebat
Kanda Drupadi mengatakan engkau memiliki ilmu tak terkalahkan
Aku harus selamatkan Pancala dari porak poranda
Sebelum semua habis dihancurkan Jungkungmardeya laknat

Kakiku sudah tak kuat, aku menangis
Nafasku terus memburu, aku menangis
Perutku berteriak meminta nasi sejumput, aku menangis
Lututku sudah sobek berulang kali terjatuh, aku menangis

Kangmas Arjuna, Kangmas Arjuna
Entah sudah berapa kali matahari datang menyapa di ufuk
Tak kunjung aku mencium atau melihat gerbang Madukara
Apakah aku benar berlari ke Madukara? atau aku hanya berkelana dalam nyenyak?

Aku terduduk di bawah pohon beringin yang sangat besar
Merangkul tubuhku yang sudah mulai menyerah kelelahan
Menangis, menangis, menangis, meratap, meratap, meratap
Nama Arjuna kuteriakkan keras-keras diselingi dengan nama kakakku tersayang

Batara Candra, Batara Surya, Batara Guru tolong aku
Mungkin memang bukan Arjuna yang akan menolongku
Aku harus keluar dari imajinasi ini, keluar dari kungkungan hutan ini
Mengerahkan seluruh tenaga untuk ditolong seseorang? Sungguh sangat Srikandi

Aku sudah setengah jalan menuju Madukara
Bukan hal yang bijak terus berbalik menuju Pancala karena mengira ini mimpi belaka
Aku tau ini bukan mimpi dan aku akan pergi terus menuju Madukara
Tidak akan meminta bantuan, aku akan minta pengajaran

Kangmas Arjuna, tolong ajari aku sebuah cara
Aku tau ini diluar kuasa Madukara, tidak ada yang dapat engkau perbuat
Aku, putri kerajaan Pancala yang harus menyelesaikan
Ajarkan aku saja caranya, aku sendiri yang akan menyelesaikannya

Biarpun bersimbah darah, biarpun harus berpeluh dan berkesah
Biarpun harus melewati hutan ini lagi dengan harimau-harimau ganasnya
Aku akan menuju Madukara, berlutut di hadapanmu meminta menjadi muridmu
Betapapun enggannya engkau aku akan terus memohon, ini tekadku, kehendakku

Aku pangkas ranting terakhir di depanku dan kulihat jalan setapak
Jalan setapak menuju sebuah gerbang yang sangat besar dan tegar
Madukara akhirnya aku sampai pada pelukan hangatmu
Satu langkah lagi, memohon pada Arjuna untuk menerimaku


I sat alone on the park bench facing the Bukhan river (북한강). It’s not my common things to go to such romantic place. This place is really crowded thanks to that drama of two star-crossed lovers who suspect each other to be siblings. It’s raining today. It’s far away from Chilseok (칠석) but the tears of two lovers already filled my heart and made my self drained wet. Yes, thanks to this rain, I felt a consolation from the nature and I can drain all the sadness of my breaking heart.

Then, I saw kkamagwi nearby. So strong yet vigilant. I threw some of my hobbang (호빵, steamed bun) that I bought to make my self warm enough in this chilly weather. Kkamagwi came nearby, in careful and awkward way. Cautiously, it jumped slowly and reach the piece of hobbang that I threw. Slowly but sure, it took it and flew away to a quite and lone place.

Suddenly, an ahjussi (아저씨, old man) came and sat down beside me. He talked in broken English that I shouldn’t fed the kkamagwi, bad luck should never be bred.

“Why should I never fed the kkamagwi?” I said to him. “Kkamagwi is indeed ugly and so black that he might absorb all the luck around. It is a living entity like us, We might get friendly with the bad as well as the good won’t we?”

“Even without being fed, the kkamagwi will breed a lot and reappear in some houses. Kkamagwi represent death, bad luck. If you see one in the morning than you’ll be in bad luck for the rest of the day. Better to keep it as it is and not feed them. If you feed them means you also brings the bad luck around.”

As a foreigner here, I don’t want to argue with the elderly so I just nodded and listened to what he told me.

“There, there. You see that blue pretty bird? You can feed it. It’s called kkachi. It brings you good luck for the rest of the day.”

I proceeded to throw some pieces of my hobbang to that bird. Differ from the kkamagwi, this bird, without hesitating, come near my and eat the hobbang in the exact spot that I threw it. It’s so chubby it even fly very slow and not afraid of human.

“When I was a child. I live in a traditional house that has a hole in the roof so that kkachi can live there and build a nest. Sometimes kkamagwi will come in and intrude our house which always make us rattle since it means death to one of our family. My mother will always shoo the kkamagwi out and let the kkachi in. But my grandmother always tell her that Kkachi and kkamagwi are sisters. They both work as a team to build the same bridge of love during Chilseok. Life will consists of the good and the bad. Same as you, she likes both kkachi and kkamagwi even though it means inviting the bad in the house. She said when we treat everything equally then we might bring not only luck but also bonghwang (봉황, phoenix) to this house,” said ahjussi with bright eyes filled with memories.

“Do you know why I fed the kkamagwi? It’s not because I don’t know the superstition. I did know about that long time ago since the first time I arrived in Korea five years ago,” answered me with English and some broken Korean. “Maybe your grandmother was right that in life there are the good and the bad sides. To make life perfect and balance to the highest state like bonghwang, you need to embrace both kkachi and kkamagwi side by side. I felt like a kkamagwi during this five years. Thrown away and not accepted by anyone, even my own family. I was raised as a kkamagwi, living a hard life because no one dear me like a kkachi. I need to go to the trash bin to find something to eat while the kkachi being fed freely by people because they find it dearly and bring good luck. But then, I saw them now. The kkamagwi is so vigilant and careful while the kkachi was so easy-going and have low agility. If let say the environment is changing, who will be survived? The vigilant kkamagwi or the easy-going kkachi? I guess the answer lies in front of us so boldly. Kkamagwi, even though being hated, it can survived the harsh environment with or without human. Kkachi is only depends on human pity, so they become lazy and chubby. Maybe that’s why bonghwang never comes, because we only embraces the good and mock the bad.”

The ahjussi looked so irritated after I lectured him about all this things and start to grumbling in Korean that I can barely understand. He then left me alone with quite grumpy face. I smiled even though he couldn’t see it. Just let it be. I am the kkamagwi anyway, thrown away and bring the bad luck. That time, the kkachi that I fed jumping by my feet and a kkamagwi landed beside my seat. I smiled again and saw a glimpse of five-coloured peacock tails peeking behind a metasequoia tree. Maybe bonghwang has given me a visit. A visit to a person that has embrace the kkachi and kkamagwi together.

Kkachi and Kkamagwi


Chilseok :
A Korean traditional festival which falls on the seventh day of the seventh month of the Korean lunisolar calendar, originating from the Chinese Qixi Festival. According to the well-known story, the heavenly king had a daughter called Jiknyeo (Hangul: 직녀, Hanja: 織女), who was very good at weaving beautiful clothes. One day, when she looked out of the window while weaving, she saw a handsome boy, a herder called Gyeonwu (Hangul: 견우, Hanja: 牽牛), just across the Milky Way. She fell in love with him. Finally the heavenly father allowed the two to get married. Afterward, Jiknyeo did not want to weave clothes, and Gyeonwu did not take good care of the cows and sheep. The heavenly king grew angry, and ordered the couple to live apart from each other, allowing them to meet only once a year. On the seventh day of the seventh month of each year, they were excited to meet each other, but they could not cross the Milky Way. However, crows and magpies worked together to form a bridge across the Milky Way for the couple. After a while, their sadness returned because they were forced to wait another year before meeting again. It is said that crows and magpies have no feathers on their heads because of the couple stepping on their heads. If it rains on that night, it is said to be the couple’s tears.


A mythological birds of East Asia that reign over all other birds. It is often described as a composite of many birds including the head of a golden pheasant, the body of a mandarin duck, the tail of a peacock, the legs of a crane, the mouth of a parrot, and the wings of a swallow. Its feathers contain the five fundamental colors: black, white, red, blue and yellow. It is believed that the bird only appears in areas or places that are blessed with utmost peace and prosperity or happiness.

Kulihat lagi engkau berpaling dari jangkauanku
Tidak mengindahkan lagi serta pergi menjauh
Oh tidakkah tiada benci antara dua orang jauh
Oh tidakkah tiada cinta antara dua orang jauh

Hanya sebersit kata namun tiada kunjung jawabnya
Kadang mencoba peduli namun berbuah kehampaan belaka
Oh tidakkah tiada benci antara dua orang tak kenal
Oh tidakkah tiada cinta antara dua orang tak kenal

Tiap hari hanya mencoba mencari tahu sebuah kabar
Bahwa belahan hati di ujung sana masih sehat terdengar
Oh tidakkah tiada benci antara dua orang tak memandang
Oh tidakkah tiada cinta antara dua orang tak memandang

Jantung serasa keluar dari sangkarnya ketika engkau menyapa
Masih seperti dahulu dengan nada gembira penuh pancaran
sampai ia kembali kepada kehampaan nista semata
Tiada lagi kabar bersua, tiada lagi canda dan tawa mengambang

Bencikah kau pada diriku, Cintakah kau pada diriku
Tiada benci dan cinta pada orang asing, benarkah itu?
Jika kau menganggapku asing, maka jadikanlah asing diriku
Jadikan aku orang yang tak mengenalmu, yang tak dapat menyentuhmu

Bencikah kau pada diriku, Cintakah kau pada diriku
Memutuskan untuk tak saling bertemu, tak saling menegur
Aku mengerti aku bukan orang asing karena keenganan bicaramu
Tiada ada orang baik yang membiarkan orang asing tanpa bantu

Bencikah kau pada diriku, Cintakah kau pada diriku
Cobalah kau tilik ulang dalam hati kecilmu
Adakah suka di sana, ataukah memori indah penuh pilu
Bencikah kau pada diriku, Cintakah kau pada diriku
Karena batas cinta dan benci hanya setipis rambut dibelah tujuh

Namaku Srikandi

Namaku Srikandi, Kang Mas
Aku titisan Dewi Amba untuk membalaskan dendam pada Bhisma
Aku datang ke sini untuk berguru ilmu berperang dan memanah
Hari pembalasan akan datang bagi Bhisma dan aku penyelesainya

Namaku Srikandi, nama pemberian ayahanda Drupada
Nama asliku Srikandini dimana aku dilahirkan selayaknya wanita
Ayahanda terkejut melihat diriku harus menjadi titisan Amba
Ketika aku kecil dengan polosnya mengalungkan puspamala tanpa nama

Namaku Srikandi, nama seorang pria
Nama yang kudapat ketika ayahku tersayang terkejut akan takdir nyata
Aku ditukarkan dengan seorang yaksa dimana ia menjadi yaksini dan aku menjadi pria
Mencoba menghindari takdir namun sayang yaksa mangkat dan aku kembali jadi wanita

Namaku Srikandi, Kang Mas
Aku adik iparmu, adik dari Drupadi istrimu tersayang
Seperti yang kau ketahui aku ini entah pria entah wanita
Ada perasaan lemah yang kumiliki tapi ingin mengayomi seperti pria

Namaku Srikandi, Kang Mas
Sejak kecil aku dibesarkan layaknya seorang pria
Diberikan pedang dan panah sebagai teman berbagi kebijaksanaan
Dididik untuk menjadi panglima perang bukanlah menjadi putri raja

Namaku Srikandi, Kang Mas
Ketika aku seorang pria, aku pernah memiliki wanita tersayang
Seorang yang ingin kujadikan teman seumur raga dan jiwa
Namun ia bertanya-tanya akan kejantanan seorang mantan wanita

Namaku Srikandi, Kang Mas
Setelah sang yaksa berpulang aku pun kembali menjadi wanita
Perasaan lemah mengurung dada mulai menyiksa raga dan jiwa
Keinginan kuat menjadi lembut seketika karena perasaan menyesak

Namaku Srikandi, Kang Mas
Saya datang kemari meminta bimbingan dari ksatria lembut nan perkasa
Untuk mengajari saya ilmu berperang dan memanah tepat sasaran
Tidak perlu membunuh banyak orang karena hanya Bhisma yang jadi incaran

Namaku Srikandi, Kang Mas
Fakta bahwa aku perempuan yang memiliki perasaan lembut lagi lemah
Memohon bimbingan selembut sutra lagi sekeras tempaan logam
Kata-kata lembut untuk feminitas dan tekanan fisik untuk maskulinitas

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Sama seperti wanita lain pada umumnya yang lemah pandangnya
Mohon maaf apabila hati ini tidak bisa tetap pada tempatnya
Seperti wanita lainnya, saya mungkin akan jatuh hati pada anda

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Dua sisi feminitas dan maskulinitas membuat saya seringkali bimbang
Inginkah saya beristri atau inginkah saya diperistri orang
Ingin rasanya menggenggam tangan wanita namun ingin dilindungi pelukan pria

Namaku Srikandi, Kang Mas Arjuna
Aku adik iparmu yang penuh dengan kekurangan
Perasaan yang ada untukmu pun juga penuh kebimbangan
Yang jelas dariku hanyalah rasa ingin berkembang mengarah pada tujuan

Lantai kayu yang berderit ini sudah lama tak kupijak
Gema suara alunan nada tak lagi bergaung dari dinding retak
Cermin di sekeliling jarak pandang sudah tak lagi meniru gerak
Palang logam mengitari ruang tak lagi lengkap dan berkerak

Teringat kostum merah yang kukenakan bersama piring di tangan
Teringat kostum hijau yang kukenakan bersama tombak di genggaman
Teringat kebaya encim yang kukenakan bersama sarung tersampir di pasangan
Teringat kemben hitam yang kukenakan bersama bokor dan bunga setaman

Semua dimulai di sini
Tidak hanya kisah tari
Tapi juga kisah cinta sedih
dan kisah harapan yang bertepi

Sudah selesai semuanya, gamelan yang bertabuh sudah selesai
Nyanyian dari tenggorokan sang syekh dan tabuhan gendang sudah berakhir
Tiada lagi alunan nada, peluh bercucur dan tangis tergenang
Sepi, sunyi, kosong ditinggalkan mati oleh para penari

Aku dengan hatiku yang sama kosongnya kembali ke sanggar
Ingin memulai hentak pertama kembali menghidupkan asa
Kuhidupkan stereo lama yang menyimpan rekaman usang
Kucoba mengingatkan satu demi satu gerakan yang lapuk dimakan usia

Sekali gerakan meloncat membuatku terjatuh
Aku sadar kali ini aku menari bukan untuk bercerita
Aku menari untuk mengeluarkan riuh di dada
Kesedihan mendalam ditinggalkan seorang tercinta

Kaki sudah tergetar untuk menginjak lantai kayu
Kaki sudah tergetar tidak dapat diajak menuju meja dapur
Kaki sudah tergetar untuk memulai hidup baru
Kaki sudah tergetar tidak ingin melihat nisan kian lebur

Oh hati tolong berhentilah menangis
Getaranmu begitu hebat membuat kaki ikut meringis
Tiap degupan jantung bagai silet yang mengiris
Cahaya matahari hangat pun selalu terasa bagai gerimis

Oh hati yang terus tergetar
Aku sampaikan salam dari kaki telah ikut tergetar
Kuhidupkan kembali semua yang sudah mati
Gerakan, tari, alunan musik dan mungkin ia yang sudah mati

Biarkan aku dan dia terus hidup dalam tarian
Tarian yang membawa kami bersama
Tarian yang membawa kami satu dalam jiwa dan asa
Biarkan aku dan dia terus hidup dalam alunan jiwa

Kaki tolonglah engkau terus menari dan melangkah
Demi hidupnya hati yang terus merana dalam duka
Biarkan hati ini dalam kondisi damai dan tentram
Agar engkau tidak perlu terus tergetar dan payah

Hari ini adalah hari besar untukku
Hari dimana aku akan pergi dari rumah orang tuaku
Hari dimana seorang pangeran meminangku
Hari dimana ayahku memindahkan tanggung jawab atas diriku

Kepada seorang yang belum terlalu lama dikenalnya
Kepada seorang yang tidak sampai setengah dari bilangan usianya
Kepada seorang yang baru seumur jagung pengalaman hidupnya
Kepada seorang yang berjanji akan membahagiakan putrinya

Aku bertanya-tanya setiap harinya akankah hari ini datang
Mencari dan terus mencari padanan ayah yang seimbang
Lawan jenis yang akan menjadi teman sekaligus sandang
Lelaki yang akan menjadi ayah anakku yang cemerlang

Oh, hari ini dia datang ayah
Tangisku pun tidak terbendung menggenang basah
Kakiku bergetar untuk kemudian menyapa tanah
Melihat kebaya putih tergantung aku merasa payah

Sekian tahun lamanya aku memimpikan hari ini
Bukan, mimpi ini sudah datang sejak aku sanggup menulis
Aku ingin menjadi pengantin membawa mawar putih
Menikahi seorang tampan lagi pintar seperti ayahku sendiri

Ayah, Aku akan berpisah denganmu
Tidak lagi tinggal bersamamu
Tidak lagi bergelayut manja di pundakmu
Tidak lagi setiap waktu meminta kehadiranmu

Ayah, nanti
Ketika aku hendak pergi, aku akan meminta ijin suamiku
Ketika aku ketakutan, aku akan berlindung di dalam rumah suamiku
Ketika aku menangis kesepian, aku akan berada dalam dekap lengan suamiku

Ayah, engkau melemparkan pesta besar laksana festival untuk kepergianku
apakah engkau senang kewajibanmu terlepas dari pundakmu
apakah engkau senang aku tidak lagi perlu merepotkanmu
apakah engkau senang akan ketiadaanku di rumahmu

Hendak berjingkat aku keluar kamar rias ketika aku melihatmu
Bersama belahan jiwamu yang sedang menyeka air matamu
Aku melihat gurat welas asih lagi gagah yang menghiasi wajahmu
Menjadi layu lagi bersedih penuh haru biru seperti bukan dirimu

Melihat wajah itu kututup pintu kamar riasku
Bukan, aku tahu itu bukan wajah kesenangan akan kehilanganku
Pesta ini ada sebagai kado terakhir untuk membahagiakanku
Sebelum anak barunya memberikan seluruh usahanya untuk ceriaku

Kuambil kebaya putih yang baru berumur dua minggu itu
Aku bersiap di depan kaca mengambil bedak dan mulai menyaput
Kusampirkan pula hijab berhiaskan manik dan payet terdesain khusus
Kuminta adik dan sahabat baikku menghiasi kepalaku dengan melati nan harum

Ayah, kini aku tak ragu
Sama seperti ayah yang menyiapkan acara indah penuh beludru
Menunjukkan betapa aku adalah anak tersayangmu
Dimana pesta terakhirmu untuknya sanggup menghabiskan pundi-pundimu

aku ingin tampil secantik mungkin di pesta terindah yang pernah diberikan ayah
Bukan untuk suamiku, bukan untuk teman-temanku, tapi untuk ayah
Aku ingin menunjukkan pada dunia betapa cantiknya anak ayah

Dunia harus tahu betapa ayahku adalah ayah terhebat
Dapat membesarkanku hingga segagah srikandi, secantik mawar, seanggun angsa
Dunia harus tahu betapa ayahku adalah ayah terhebat
Dapat menjadikan putri kecilnya seorang ratu di istana dengan singgasana penuh asa


Pernah aku bertandang ke sebuah pulau berwarna hijau di ujung sana
Pulau yang selang setengah tahun telah menarik hatiku bersamanya
Pulau yang mana tiada tanaman dapat tumbuh kecuali rumput para domba
Pulau yang mana tunduk pada senjata dan merahasiakan budayanya

Sudah beberapa tahun sejak aku pergi meninggalkan pulau tersebut
Pulau yang mengajarkan aku bagaimana baiknya tutur kata menyambut
Pulau yang senantiasa membuka pintunya untuk para pengelana tanpa selimut
Pulau yang berusaha bangkit dari keadaan yang kian surut

Kini aku berada di sebuah pulau hangat berbentuk kerucut
Pulau yang memiliki gunung dan indahnya pasir pun tak luput
Pulau yang mana hamparan padi menghiasi daratan bagai selimut
Pulau yang ombaknya selalu membuat hatiku terhanyut

Sama mungkin sama
Seperti dijelaskan sebuah teori mengenai perbedaan jarak dan besarnya pulau
Aku pun mulai jatuh cinta
Aku mulai ingin mengenal pulau ini seperti cintaku pada sang pulau hijau

Keramahan yang kurasa
Kehangatan yang kudamba
Kenikmatan yang kutenggak
Kepuasan hati yang kugenggam

Semuanya sama

Betapa terbukanya sebuah populasi yang hidup sendiri di sebuah pulau
Tiada pernah menghakimi hanya mengambil yang diperlu tanpa menuntut
Kebaikan hati yang terbuka membuat benua tidak lebih baik dari pulau
Yang terus menambahkan keragaman dengan keterbukaan dan saling panut

Oh lihat betapa mereka menamakan satelitnya sebagai inis
Oh lihat betapa mereka menamakan satelitnya sebagai gili
Tiga satelit yang mengitari satu pulau pembawa cita
Dimana untuk mencapainya aku harus mengitari ketiganya

Satu kali adalah kebetulan, dua kali bukanlah sebuah candaan
Mungkin Tuhan ingin menyampaikan sesuatu yang tiadaku paham
Pulau hijauku, pulau kerucutku yang dalam benakku terus berkeliaran
Maaf mungkin belum kutahu mengapa Tuhan membiarkan langkahku terhujam

Dua hal yang sama di tempat dan waktu yang berbeda
Mungkin takdir mungkin juga hanya kebetulan semata