Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Wanita-wanita Bapak

poligami

Aku terduduk di pojok dapur. Suara itu menggema di sekeliling rumah, bersahut-sahutan. Hampir setiap minggu sekali. Aku terduduk di antara pecahan piring dan gelas di dapur. Ah, suara sesuatu pecah terlempar lagi. Tampaknya vas kaca yang dibeli Ibu di pameran seni di Bogor waktu itu sudah tinggal puing. Aku merangkak dan meringkuk di bawah meja. Ah, lututku tergores beling dari gelas kesayanganku yang telah pecah berkeping-keping. Aku terdiam di sana menekuk lutut dan menangis.

Ini bukan kali pertamaku mengalami hal ini. Aku sudah muak, ini sudah terjadi berulang-ulang. Aku tidak tahu siapa yang harus kubela. Ingin rasanya keluar dari rumah ini. Penuh teriakan tanpa ketenangan lagi. Aku tidak tahu kapan semua ini dimulai. Mungkin ketika aku diajak bapak makan ke Lido, Sukabumi ketika aku masih kelas lima SD. Ketika itu aku pikir aku menang karena adik dan ibu ditinggal di rumah. Aku diperhatikan lebih dari adikku yang masih TK dan rewel itu. Namun aku tidak tahu waktu itu ternyata ada seorang wanita di sana. Bapak cuman berkata, “Perkenalkan Sita, ini anakku dari istri pertama, Abdullah. Panggilannya Bedul. Bedul ini ibumu juga.” Aku spontan melongo.

Bukan satu dua kali aku bertemu “wanita-wanita Bapak”, sudah tidak bisa dihitung jari lagi. Aku menolak memanggil mereka Ibu. Toh, mereka tidak pernah ada yang awet lebih dari 6 bulan bersama Bapak. Lagipula aku tidak tega melihat Ibu yang terus-terusan menangis karena bapak. Padahal Bapak seorang guru agama di sebuah sekolah negeri yang lokasinya lumayan dekat dengan rumah. Tapi entah mengapa Bapak berperilaku tidak berperikemanusiaan terhadap Ibu. Wanita-wanita itu memang istri sah bapak. Mereka menikah siri, bahasa agamanya atau menikah tanpa catatan sipil. Bapak selalu menjaga istri-istrinya selalu dalam batas Islam, tidak pernah lebih dari empat dalam satu periode. Semuanya pasti bapak kenalkan kepadaku tanpa sepengetahuan Ibu. Semuanya tak terkecuali.

Ibu yang dulunya seorang aktivis di universitasnya tidak mau tinggal diam. Ibu yang merasa dirinya telah diperlakukan tidak adil seringkali mencari tahu data-data tentang istri baru bapak. Ibu tidak pernah ragu untuk membawa senjata tajam atau kadang memanggil polisi. Acungan senjata tajam sudah menjadi pemandangan biasa di dalam rumah ini. Pernah Ibu menyeretku dan menanyakan kepadaku di mana rumah istri yang baru saja diperkenalkan oleh Bapak. Bersama beberapa anggota polisi kami menyambangi rumah tersebut. Semua ribut dan teriakan terdengar di sana sini. Ibu seringkali menampar istri baru Bapak atau Bapak yang kadang memukul Ibu. Beruntung aku ataupun adik tidak pernah mendapatkan bogem mentah dari Bapak atau Ibu. Hanya saja teriakan, pecahan kaca setiap hari membuatku tidaklah bisa menganggap rumah tempat tinggal. Ini sebuah medan perang.

Buruknya puncak dari segala masalah selalu terjadi di saat aku akan menghadapi Ebtanas. Tiga tahun lalu dan juga hari ini. Besok ujian Matematikaku sama seperti tiga tahun lalu. Aku tidak mengharapkan hal ini terjadi namun aku sudah belajar dari jauh-jauh hari untuk menghindari hal yang mungkin terjadi. Hari itu, Bapak pulang ke rumah sekitar jam setengah sepuluh, adik-adik sudah tidur. Tampak tenang awalnya. Bapak meminta kopi hitam dan Ibu membuatkannya. Aku belajar di meja makan, mencoba mencerna hitung-hitungan bangun ruang yang sudah kulupakan setelah ulangan harian setahun lalu. Kemudian Ibu menaruh gelas kopi itu dengan sedikit gebrakan di depan Bapak.

“Nih kopinya, jadi si Arum ga nyediain ya di sana?” ketus Ibu.

“Oh, tadi ga pulang ke sana. Lagi di rumah orang tuanya,” Bapak menjawab santai.

Saat itu pula Ibu datang cepat ke arahku. Menjewerku sambil menyeretku ke depan Bapak.

“Arum, Dul! Arum! Nama siapa lagi yang belum kamu sebutkan ke Ibu, hah? Kamu senang ya Ibu malu dengar semua dari tetangga? Senang?”

“Ibu. Sakit, Bu. Sakit!” jeritku payah. Aku mulai menangis.

“Nangis kamu? Nangis? Memang Ibu tidak sedih, memang hati Ibu tidak sakit? Anak pertama Ibu yang Ibu gadang-gadang membela si hidung belang ini?” teriak Ibu sembari mengambil gelas kopi yang masih panas itu dan menyiramkannya ke muka Bapak.

Dan seketika tamparan itu mendarat di pipi Ibu. Tidak keras tapi cukup memulai pertengkaran hebat. Adu argumen makin keras, tak terarah. Ibu mulai mengambil beberapa barang pecah belah dari atas meja. Gelas kesayangan yang kudapat dari teman dekatku yang pindah ke Australia jadi salah satu sasarannya. Aku hendak mengambil kepingannya sebelum remuk terinjak namun terlambat. Pecahan itu terinjak sepatu ayah dan lututku tergores salah satu kepingannya. Teriakan makin meninggi dan aku hanya menangis di bawah meja. Aku lelah, aku lelah.

Saat itu, aku melihat pintu dapur terbuka. Suara tinggi argument-argumen tak masuk akal itu memenuhi pikiranku. Pandanganku kabur karena air mata yang menggenang. Nafasku sulit karena sesenggukan. Aku tidak mengerti bagaimana, namun ketika pikiranku cerah aku sudah berada di seberang jalan. Aku naik salah satu angkot yang menepi mencari penumpang. Kurogoh kantongku. Masih ada tiga lembar seribuan sisa uang jajan minggu ini. Entah apa yang akan kulakukan mengingat besok hari Ebtanas matematikaku. Angkot ini yang biasa membawaku ke sekolah. Kubiarkan angkutan ini membawaku ke sekolah di jam yang tidak biasa ini.

***

Hari ini ulang tahunku ketiga puluh dua, bersamaan dengan hari pernikahanku. Wanita di sampingku baru kukenal sekitar setahun lalu. Seorang yang begitu berprestasi, santun, ramah, dan idaman setiap mertua. Aku bertemu dengannya ketika menyelesaikan disertasiku di salah satu universitas negeri di Jakarta. Istriku ini anak bungsu dari salah satu petinggi ormas agama yang begitu disegani. Tamu yang kusalami sedari tadi tidak ada yang kukenal. Istriku pandai membawa diri dan dengan ramah menyambut tamu-tamu dengan gelar yang begitu tinggi itu. Di sebelah jauh dari pelaminan berdiri Ibuku dengan senyum yang sangat menyenangkan hati bersama dengan seorang yang kukenalkan lima tahun lalu, salah satu board advisory di perusahaanku yang lama, seorang duda yang ditinggal mati belasan tahun lalu oleh istrinya. Bapak kuatur agar datang pada akad saja, sedang Ibu dan suami barunya bisa bertengger di pelaminan saat ini. Aku tidak mau merobek luka lama Ibuku. Beruntung Bapak datang sendirian tidak dengan serentet wanita-wanita yang sudah tak kukenal lagi siapa mereka semenjak lulus SMA.

Seorang yang kukenal dengan baik datang dan menyalamiku hangat, “Wah Dul, sudah insaf kamu ya sekarang. Cantik pula istri kau ini. Makasih ya diundang segala aku ini. Sampai tidak enak,” ujar Tigor yang saat itu terlihat sekali sangat berusaha untuk memakai pakaian tebaik yang ia punya dari lemari kain kecilnya. Tigor ini berandalan yang menemukanku sehari sebelum Ebtanas dan mengajakku ke kamar kostannya yang kecil untuk bermalam dan kemudian pergi Ebtanas esok paginya.

“Hush,” ujarku dan kemudian mencolek istriku hangat “Alhamdulillah sekali Maya mau sama aku, ya sayang?”

Istriku itu hanya tersenyum simpul dan malu-malu. Seorang yang benar-benar polos dan lugu, begitu hangat dengan sekelilingnya. Ada sedikit ketakjubanku bisa tiba-tiba memutuskan melamar perempuan sebaik dirinya dan diterima dengan baik.

Aku masih melihat kesana kemari menantikan undangan yang paling kutunggu. Aku memberikan undangan tersebut secara personal bulan lalu. Undangan yang mungkin kurang dinantikan oleh dirinya.

 

“Kamu yakin?” ujar teman istimewaku itu ketika aku memberikan undangan.

                “Tidak terlalu. Tapi keluarga sudah menyetujui. Ibuku senang dan keluarga calon istriku pun tidak memberikan pertanyaan aneh-aneh.”

                “Tapi, aku masih mencintaimu. Dan aku yakin kamu pun begitu. Apa yang begitu kurang?”

                Aku terdiam dan hanya menjawab, “Aku harap kamu datang.”

 

Sampai acara lempar buket selesai dan semua alat foto sudah dirapikan oleh fotografer, aku tak kunjung melihat dirinya. Aku menghela napas panjang. Waktunya untuk merapikan diri. Hari ini melelahkan sekali. Aku memeluk dan mencium pipi istriku yang harus melepaskan dandanan yang kurasa sudah cukup membebani dirinya yang tidak terbiasa berdandan setebal itu. Aku mencium tangan ibuku dan memintanya beristirahat sembari menepuk ayah tiriku itu. Aku pun memutuskan untuk kembali ke ruang rias pengantin pria yang seharusnya kosong melompong.

Setibanya di sana aku terkejut karena ternyata Randi ada di sana sembari menunggu dengan sebuket bunga di tangan.

“Selamat untuk kesayanganku. Selamat karena sudah meninggalkanku untuk seorang wanita,” katanya sembari berjalan di belakangku dan menutup pintu.

“Aku tidak akan meninggalkanmu untuk wanita-wanita lain seperti Bapakku. Karena wanitaku cuma hanya ada satu. Sedangkan pria-pria lain bersamaku kau kenal semua. Mau kuajak Tigor juga bersama malam ini?” ujarku sembari menangkupkan wajahnya dan mendaratkan ciuman rinduku untuknya.

 

Depok,  30 September 2016

Iklan

Read Full Post »

Pikiran Piring Makan

20151204063321595

Hai, aku adalah sebuah piring makan putih terbuat dari keramik. Sudah dua puluh empat tahun aku tinggal di lemari keluarga Budiyanto ini. Aku memiliki tujuh saudara yang masing-masing kami memiliki tanda kecil di pinggiran badan kami yang berbeda-beda. Aku dipanggil Gajah oleh saudara-saudaraku karena gambar di pinggiranku adalah seekor gajah merah jambu. Saudaraku yang lain adalah Jerapah, Buaya, Kucing, Domba, Elang, Hiu, dan Capung. Elang sudah meninggalkan kami dari lama. Umurnya hanya setahun karena dulu dipecahkan oleh si sulung keluarga ini yang masih berusia tiga tahun. Hiu dan Capung juga sudah mangkat sepuluh tahun lalu ketika Bapak membuatkan lemari besar untuk tempat semua alat dapur. Ketika kami sekeluarga dipindahkan, Hiu dan Capung lepas dari tangan Ibu dan pecah berkeping-keping. Sekarang tinggal tersisa kami berlima yang menemani keluarga Budiyanto.

Keluarga Budiyanto terdiri dari lima orang keluarga inti dan satu pembantu rumah tangga. Aku adalah piring yang selalu dipakai si sulung, Jerapah dipakai si adik, Buaya dipakai oleh paman, Kucing dipakai oleh ibu, dan Domba dipakai oleh bapak. Sementara piring yang dipakai pembantu rumah tangga itu seringkali tidak ditempatkan bersama dengan kami karena bentuknya yang lebih cekung dan biasanya datang bersamaan dengan sekantung deterjen besar. Karena kami bentuknya cukup ceper dengan cekungan yang sama, kami sekeluarga selalu dekat dan berbincang satu dengan yang lain.

Sudah lima tahun, aku tidak lagi dipegang oleh si sulung. Tampaknya si sulung sedang pergi merantau entah kemana. Aku kadang-kadang dikeluarkan, namun seringkali tidak. Aku kangen dengan si sulung karena ia salah satu yang sangat senang makan. Aku bertemu si sulung ketika ia mulai berganti kostum sekolah berwarna putih dengan rok berwarna hijau. Aku salah satu yang paling sering dikeluarkan dan si sulung sering sekali menaruh banyak nasi ke atas kepalaku. Aku senang, aku sangat disayang.

Berbeda dengan si Jerapah yang kadang sering kesal sendiri. Si bungsu tidak senang makan. Kadang harus dipaksa-paksa. Dulu ketika si bungsu masih kecil, Jerapah lebih banyak dipegang Ibu ketimbang si bungsu. Jerapah tidak terlalu senang dengan si bungsu. Si bungsu sangat temperamental. Kadang kalau Ibu tidak dapat membujuknya makan, si bungsu sering hampir melempar Jerapah. Jerapah tampaknya sudah hidup dengan prinsip “hiduplah seakan mati esok hari”. Kejadian itu berulang sampai si bungsu sudah mulai memakai rok biru setiap pagi.

Salah satu hal yang kusenang dari keluarga Budiyanto adalah kami sekeluarga sering dikeluarkan bersama. Bapak ingin semua anggota keluarganya makan bersama di satu meja sehingga kami sekeluarga selalu ditumpuk bersamaan dan bisa mengobrol banyak seiring dengan keluarga Budiyanto juga mengobrol. Buaya yang kadang tidak ikut karena si paman seringkali pulang malam dan tidak ikut makan bersama. Paman kadang membawa buaya ke kamarnya dan makan sambil menonton televisi.

Yang paling punya banyak cerita tentu saja malah si Kucing. Kucing adalah yang paling sering dikeluarkan dari rak dapur. Ibu tinggal di rumah sepanjang waktu sehingga Kucing juga keluar di waktu siang. Tidak seperti kami yang keluar hanya pagi dan malam atau malah malam saja. Kucing bilang, dulu dia merasa seperti malaikat. Kepalanya hanya diisikan suatu hal yang putih saja atau ditambah selingan hitam kecap. Polos sekali. Dulu kadang hanya nasi yang sudah diuleg bersama dengan sambal. Karena polosnya, kadang kami sebut dia si Rambut Salon.

Beberapa kali, kami dapat tamu dari tetangga sebelah. Aku cenderung tidak senang menerima tamu ini. Mereka kerap kali mengeluh saja kerjanya. Katanya mereka setiap kali selesai dipakai makan didiamkan saja hingga berkerak. Kadang mereka bercerita kalau makanan yang ditaruh di kepala mereka biasanya hanya tersentuh sedikit saja. Selain mengeluh, mereka juga sombong sekali. Sementara kepala kami hanya diisi dengan makanan-makanan lokal, mereka bangga sekali diisi oleh Tom Yum, Sze Chuan, Tteobokki, Risotto, dan banyak lagi makanan yang aku menyebutkannya saja selalu salah. Mereka datang ke sini sering kali dengan makanan dingin yang tampaknya sudah ditaruh di atas mereka sejak kemarin. Aku sendiri tidak mau hidup seperti mereka. Meskipun hanya nasi, aku senang ditaruh sesuatu yang hangat di atas kepalaku. Satu hal yang aku senang juga adalah tidak pernah ada sisa makanan di atas kepalaku sehingga ketika dicuci aku pun hampir sudah bersih.

Dua tahun terakhir, si sulung sudah pulang, dan aku senang bukan kepalang. Aku sering dipakai lagi. Tapi si sulung tidak lagi makan banyak seperti dulu. Bahkan seringkali aku tidak pernah merasakan nasi di atas kepalaku. Pernah beberapa bulan si sulung bahkan tidak menyentuhku. Si sulung hanya makan camilan dari wadah platik berwarna-warni yang dipajang di meja tengah. Tapi, setiap malam, aku tetap ikut dalam ritual makan bersama meskipun di atas kepalaku hanya diisi sedikit. Meskipun aku dipakai sedikit, aku melihat si sulung makin tambah tambun. Kadang ia mengisiku dengan suatu roti yang disebut pizza dan memakannya sendirian dengan rintikan air mata. Kalau sudah begitu, biasanya aku hanya dicuci sehari sekali saja. Aku sangat sayang dengan si sulung. Tampaknya ada sesuatu yang terjadi padanya setelah pulang merantau.

Beberapa bulan terakhir, aku sekeluarga sering sekali diisi dengan makanan yang disebutkan piring tetangga sebelah. Pertama kalinya, aku senang dengan makanan-makanan baru ini. Terasa lucu dan aneh di kepala. Tapi, ada yang kurang, ada yang salah. Sekarang keluarga Budiyanto jarang sekali berbicara satu sama lain sehingga aku sekeluarga juga harus memelankan suara agar tidak terdengar. Masing-masing melihat ke sebuah nampan atau kotak kecil yang bersinar. Kucing juga makin sebal dengan kondisi bahwa makanan di kepalanya sekarang terus bersisa, padahal kami semua selalu bersih sebelum sampai ke tempat cuci piring.

Hari ini adalah hari yang kurang biasa. Aku melihat si sulung datang marah dan berteriak setelah berbicara dengan Ibu. Entah apa yang terjadi. Si sulung mengambil Buaya yang sudah lama tak dipakai karena Paman sudah pindah bekerja di pulau lain. Tampaknya si sulung tidak melihat corak di pinggir piring lagi dan salah mengambil Buaya yang semalam dipakai untuk menaruh kacang rebus.

Besoknya aku tidak lagi melihat Buaya dan juga tidak si sulung. Jujur aku cemas. Kemana keduanya? Dua-tiga hari tidak kulihat keduanya sampai hari keempat aku melihat serpihan Buaya dibuang ke sebuah kantong plastik hitam oleh seorang yang menggunakan sarung tangan. Yang mengerikan adalah pecahan Buaya itu memiliki warna merah di pinggirnya. Darah? Kami keramik, ketika pecah tidak mengeluarkan darah seperti manusia yang terjatuh dari …..

Itu darah si sulung.

Aku baru tersadar. Tampaknya si sulung terluka karena pecahan Buaya sama yang terjadi ketika ia kecil dulu terluka oleh Elang.

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat si sulung. Rumah sepi sekali selama seminggu hingga akhirnya keluarga Budiyanto pulang dan mulai mengeluarkan piring makan. Banyak sekali tamu-tamu dari tetangga sebelah, entah itu yang bentuknya piring melamin, piring kaca berwarna-warni yang selalu datang dengan kantung deterjen, tak lupa ada pula piring sesepuh yang bergambarkan gereja Eropa berwarna hijau, bunga tulip, ataupun pemandangan sungai dan bebatuan. Ramai sekali, aku ditumpuk di tengah-tengah piring asing. Semua orang yang datang juga berbaju hitam. Aku mencoba mencari-cari pandang ada di mana majikanku, si sulung yang kusayang itu. Aku tidak melihat dia berjalan-jalan, tidak pula teriakan cerianya.

Ketika piring dibagikan aku melihat ada sebuah kereta tanpa kuda yang ditutupi selimut berwarna hijau. Kereta itu juga tidak punya roda, diangkat oleh beberapa lelaki dari depan rumah menuju ke suatu tempat. Seluruh wanita yang lain termasuk Ibu dan si bungsu mengikuti dari belakang sambil menangis. Aku dan piring lain tergeletak begitu saja hingga malam menjelang dan aku dicuci oleh orang-orang asing.

Sejak saat itu, aku sekarang tinggal di lemari dapur tanpa pernah dikeluarkan. Aku kesepian dan hanya bisa mengetahui keadaan keluarga Budiyanto dari celetukan Jerapah, Kucing, dan Domba. Tiga bulan aku ada di lemari dapur untuk kemudian aku dipindahkan ke sebuah lemari kaca bersama sebuah boneka, sebuah piala, sebuah mug, dan foto si sulung. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan teman-teman piring di ruang makan juga saudara-saudaraku. Mudah-mudahan kali ini si sulung tidak merantau terlalu lama. Aku benci ada di rak kaca ini.

Read Full Post »

Let me tell you a story about a traveller who met an adventurer.

She was a traveller with a free mind and free soul. She loved to go wherever she wanted to. She has been travelling around the globe while collecting wisdom from all over the world. When she comes back to her homeland, she met an adventurer.

He is an adventurer, more mature, wiser and stronger than her. He has explored whole islands from west to east, from little to large, from the tamest to the wildest. Both of them share same homeland which destined them to meet each other.

With the same spirit in hand, they share each other idea, each other common beliefs, and each other likes. Everywhere they go they talk to each other like there is no one else beside them except wind, water and the land. The traveller tell him the story of how wise other people in other part of the world while the adventurer tell her the story of how beautiful the islands that he has visited. Looking from afar, we could know that they were meant for each other. They enjoy each other company and not willing to let the other go when the day goes off.

One day, they exchange a story about far away island. The island is green in colour. The breezes are full of tiny droplet of water. They only have very little animal and crops. There, we boil our meat in very small flame so that we can get the gravy again and again to eat with our home-grown tuber. There was born a legendary adventurer who inspire whole world to study more about time and living things. For them, that island was like second-home. Each of them wants to go there again to visit each of their old man and woman. The island is like the second home land for both.

The other day, they share a story about their ancestor. The traveller was come from a kingdom with very little room to move. She comes with good diplomacy and sly pretence to make her out of the castle. On the other hand, the traveller is a free man. His mother was the escapee from the kingdom who marries a guy from another town. Thus, the adventurer is a man of no kingdom. He has a small lodge somewhere in nearby forest to put all of his collection, living or ornamental. He asks the traveller to come with him someday to see his prideful lodge and the traveller willingly accept the invitation, someday.

Someday, there is a festival in the town where they want to go together with some other town folks. Before they are heading there, the adventurer holds the traveller hands and asks her to step aside around the corner of the silk store. He asks her about the owner of the notes that he pick up from the roads several days ago and then being snatch by her before he can read what’s inside carefully. She answers that the note is hers. Then, smile comes to adventurer faces. He then asks the traveller to come with him tomorrow to his father’s house.

Next day, both are going to his father’s house and it is a long journey east. He says that he likes the traveller and wants her to stay with him in his lodge and travel to their second home land together. She is really shocked and she tells him her grieve of past love. She is a traveller while her past love is a goldsmith. He wanted her to stay by his side take care of the children, cook for him and watering his garden while sometimes promoting new jewelleries he made. Her mother likes him so much since he always surrounded by precious metal. She says her precious is not gold, not silver, not even a diamond. Her precious are her freedom, her journey, her experiences. The adventurer only smiles and she realizes it’s no longer a problem since they have common precious things.
In his parent’s house, he proposes to the traveller and she receives it. They are married as soon as the ceremonial agenda has finished. She is very happy and hugs her newly wed husband. At that time she realizes that once you met someone that is very precious to you, the freedom was no longer important, the journey was no longer relevant and the experiences will become redundant. By seeing his leather jacket and feeling his pants around her ankles are all she needs.

Unfortunately, she is waking up. It’s all just a sweet dream in her head. There is no festival; she has only her duty to work at the library to save for her next journey. While she is taking her break, there is a scene that broke her heart. She does not know when she has the attachment to that guy who used to talk a lot with her. She sees his adventurer with other girl visiting the drinking booth just across the library. The girl is posh, beautiful and neatly dressed. Looks like she is coming from a wealthy family, a king’s relative. She cannot endure it and go to both of them, in confusion. She greets her friend and introduces herself to the king’s relative. She is asking about their relationship in a diplomatic way like what she always does. She hides his misery by saying that she is now seeing a librarian who works in the same place with her. She then says goodbye to both of her friend and his lover.

At that time, she really realizes that maybe it is not because she wants the freedom when she decided to leave the goldsmith. It is because she didn’t love him enough to sacrifice her only love to freedom. The goldsmith has made her choose between love and freedom while adventurer can give both of them. But once again, maybe we can’t get both at a time. We can only hold one in our little arms. She then say goodbye to adventurer. She is hoping that if she lucky, maybe they both can meet again in their second home land or maybe they won’t meet since he has found the love that makes him sacrifice everything he used to love.

Read Full Post »

 

Hari ini seperti hari Senin yang lain, aku bolos pelajaran sejarah Pak Darmanto. Malas mendengarkan ocehannya yang kadang ngalor-ngidul ketika ditanya siswa tentang keluarga atau istrinya. Toh, lagipula aku sudah pernah membaca materi yang diajarkannya di saat SD. Biarpun begini, aku dulunya penggemar sejarah dan hafal luar kepala apa yang terjadi dari jaman Singosari sampai masa kemerdekaan.

Aku beranjak menuju tempat istimewaku, perpustakaan. Ya, SMA kami memiliki perpustakaan yang sangat rapih dan nyaman. Bahkan pegawai perpustakaannya saja dianugerahi pustakawan terbaik se-Jakarta Selatan minggu lalu. Sejak kecil, aku memiliki hobi membaca dan menulis. Agak tipikal, tapi begitu senangnya aku membaca sampai kadang rela aku menghabiskan seminggu di perpustakaan. Kapan-kapan rasanya perlu aku mendaftar ke rekor dunia untuk lamanya jam yang aku habiskan di perpustakaan.

Sebentar, siapa itu ya? Dia berdiri di belakang rak buku biologi tepat di samping rak novel yang sering kubaca. Tidak telalu tampan tapi meneduhkan, tidak populer tapi memiliki sinar mata cerdas dan karisma, tidak tampak alim tapi menunjukkan gurat-gurat ketaatan di wajahnya. Siapa? Siapa? Aku tidak pernah mengenalnya. Kaget. Jantungku berdegup tidak keruan. Dia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan walkman dan earphone. Dia duduk di sana tanpa mengambil satu bukupun. Memejamkan mata dan mendengarkan walkmannya dengan khidmat. Ya, ini kali pertama aku bertemu Levi, Leviansyah Ardiputro yang tak kusangka akan mengubah hidupku sepenuhnya.

***

“Coba sini, dengar-dengar. Lagu ini bagus banget loh liriknya,” Levi mulai menyodorkan earphone dan iPodnya ke arahku.

“Aduh, Lev. Aku masih ada tugas yang belum selesai. Kamu bukannya bantu, malah ganggu,” ujarku sebal. Levi hanya membalasnya dengan cengiran lucu.

Aku dan Levi sekarang kuliah di satu universitas. Kebiasaan kami masih sama. Aku membaca dan dia mendengarkan lagu di perpustakaan. Kami sama-sama memuja keindahan kata dan itu yang menjadi satu-satunya kesamaan kami. Dia anak teknik mesin dan aku biologi, dia gitaris band dan aku ketua kelompok ilmiah, dia suka musik dan aku suka buku. Kami ada di perpustakaan tiap hari hanya untuk mengerjakan apa yang kami sukai masing-masing. Terkadang mengobrol, terkadang terdiam. Hanya keberadaan fisik saja yang menyatukan kami.

Aku memandangnya lagi. Dia memejamkan mata dan terlarut dalam lagunya. Aku masih menyukainya sama seperti ketika ia berbalut baju putih abu-abu. Miris aku hanya bisa memandangnya. Fisik kami berdekatan bagai telunjuk dan jari tengah namun hati kami terpisahkan laut tak bertepi. Teringat masa ketika kami pertama bertegur sapa. Ketika itu aku ikut membantu perpustakaan untuk membereskan buku. Aku menyusun buku di rak teratas dan tidak sadar ketika ia datang dan duduk di dekat tangga kecil yang kupakai. Ketika aku menyadari kehadirannya, tanpa sadar aku menjatuhkan buku-buku yang kupegang dan mengenai kepalanya. Waktu itu dia malah tersenyum lucu. Senyum yang meluluhkan hatiku, yang mampu membuatku tak bernapas mungkin lima menit lamanya. Sejak saat itu, kami acapkali bertemu. Ia kadang mengajakku berbicara tentang lirik lagu yang kami sukai dan membahasnya. Meskipun sesungguhnya tiap hari aku menantinya dan memandangnya dari kejauhan.

Ah, indah. Semua buku yang kubaca selalu terbayang indah. Jelas tiap makna dan kiasannya. Teruntai indah tiap babnya. Selalu kubayangkan aku berada di dalam buku itu bersamanya. Mengarungi setiap jalan yang tak berujung yang kadang penuh bunga, kadang penuh duri. Berjalan bersamanya di jalanan tua kota Roma. Mendengarkan derap langkah kuda yang melintasi jembatan bata. Memandang langit malam nan indah kota London berlatar gema lonceng Big Ben. Mengamati indahnya aurora dari kapal raksasa yang tak akan pernah tenggelam. Mengarungi angkasa dengan pesawat bersayap kertas menuju awan selembut kapas. Oh, tiada pernah rasanya cerita-cerita ini terasa begitu hidup.

“Yup, sekarang giliranku,“ ujarnya sambil menyodorkan satu earphonenya ke telinga kiriku sementara yang satunya tertambat di telinga kanannya.

Indah,miris,sedih. Setiap lirik yang ia perdengarkan padaku terdengar bertalu indah dalam jalinan nada yang memikat. Tiap baitnya berpadu erat dan menggugah hati. Selalu kubayangkan dirinya memperdengarkan lagu itu untukku sebagai gambaran hatinya, luapan perasaannya, cerminan jiwanya.  Senyumnya ketika membahas indahnya permainan lirik yang menginsprasinya membuatku luluh. Hatiku serasa mencair dan tidak tahu bagaimana mengumpulkan kembali tiap tetesannya. Miris karena ia begitu menyukai ungkapan cinta tak berbalas. Hatiku terasa diiris sembilu mendengarkan bait-bait tentang keadaan hatiku. Di saat itu, aku merasa ia menyentuh hatiku. Menjadi bagian dari diriku dan berbicara pada hatiku saja. Serasa hatiku akan hancur ketika ia ditarik paksa menjauh dariku. Sedih karena setiap aku merasakan ia bicara pada hatiku, semakin kurasa ia jauh. Semakin kami mendekat dan membahas tiap kiasan semakin aku merasa aku tidaklah pantas untuknya. Terkadang ketika ia berbicara tentang liriknya sembari menutup mata, air mataku bergulir. Entah karena sedihnya makna ungkapan yang kudengar dari iPodnya atau karena hatiku menjerit karena tidak tahan akan perasaan di hatiku yang hendak meluap.

Sejak bertemu Levi kembali di perpustakaan kampus, aku benar-benar merasakan hidup. Gejolak perasaan yang tidak pernah berhenti benar-benar membuatku merasakan delusi yang sangat nyata. Terlepas dari kehidupan kampus yang membosankan. Kadang di malam hari, aku seringkali mendengarkan ulang tiap lirik yang ia perdengarkan. Tertidur bersama bayangan indah tentang dirinya atau menangis semalaman karena sedihnya. Ya, sekali lagi aku dibuat jatuh cinta pada sudut perpustakaan. Tidak hanya karena buku yang menjadi belahan jiwaku sejak kecil tapi juga karena Levi, lirik lagunya dan teduh senyumannya.

Mata kami sama-sama terpejam. Kami mendengarkan lagu seolah sedang berada di alam kosmos yang sunyi senyap. Dia bercerita tentang si pembuat lagu yang dulunya juga adalah sastrawan. Memuji semua lirik yang bertaut indah dan penuh kiasan. Aku menimpali dan menceritakan fabel yang juga menggunakan kiasan yang senada. Sungguh rasanya ingin sekali waktu berhenti di saat seperti ini. Membiarkan kami berdua berada di alam mimpi tanpa manusia lainnya.

“Levi! Aduh, kamu ada di sini lagi ternyata. Mau pulang bersama ? Ibuku pengen ketemu kamu,” suara Clarissa yang lembut membuyarkan lamunanku.

“Oh, Clarissa. Iya, seperti biasa. Levi mencari teman untuk diskusi tentang lagu-lagunya,” jawabku dengan senyum pada Clarissa.

“Hahaha, memang bagian dia yang itu cuman cocok sama kamu ya. Oh ya, Levi saya bawa pulang dulu ya. Ibuku rasanya tidak bosan-bosan menginterogasi Levi. Mungkin takut tunangan anaknya ternyata seorang anak band berandalan yang sering dugem dan pake narkoba,” ceriwis Clarissa.

“Hei, aku ini anak rohis juga. Ga mungkin kan ikut-ikutan dugem dan sakau. Bisa ditendang dari rohis aku,” bela Levi gencar. Kami tertawa mendengar pembelaannya yang seperti anak kecil.

“Sudah ya, Nanda. Kami pergi dulu.”

Aku melambaikan tangan dan tersenyum simpul pada mereka berdua. Ya, Levi sudah memiliki tunangan. Clarissa, teman baikku yang dulu memberi tahu siapa laki-laki yang kupandang di perpustakaan kala SMA dulu. Laki-laki itu adalah Levi, pacar Clarissa sejak SMA. Aku dan Clarissa berteman dekat sejak SMP. Kami sering curhat dan berbagi apapun bersama. Di SMA, kami ikut kegiatan yang berbeda hingga jarang sekali bertemu. Sampai suatu hari kuceritakan tentang laki-laki di perpustakaan itu yang ternyata adalah pacar Clarissa. Sungguh, terasa nista ketika aku ternyata mulai menyukainya seiring makin seringnya aku memandangnya dari kejauhan di perpustakaan SMA. Kucoba pendam rasa itu dan menyibukkan diri dengan kegiatan akademik dan ekstrakurikuler. Pertemuan dengan Levi lagi di perpustakaan membuat perasaanku padanya kembali mencuat dan malah makin bertambah. Aku tahu sudah tidak mungkin aku mengambilnya dari sahabat baikku setelah lamanya hubungan mereka. Biarkan perasaan ini Levi rasakan, aku simpan dan tersembunyikan dari Clarissa. Kini aku merasa tak bisa lagi merasakan hidup tanpa memandangnya. Sebagian hatiku kini ada pada Levi dan tak mungkin bisa aku tarik lagi.

 

Read Full Post »

Mimpi

Seperti biasa kuhabiskan hari di taman memandang ke arah serambi aula utama. Hampir setiap bulan purnama, serambi itu akan diterangi cahaya dari perapian, obor-obor dan lilin cantik. Pertemuan resmi kerajaan. Aku hanyalah pengurus rumah tangga kerajaan, bukan orang yang pantas berdiri di sana. Sepatuku hanyalah terbuat dari beludru kusam dan gaunku penuh noda arang dari dapur. Ah, berdiri di sana bagaikan mimpi untukku.

Aula dansaku hanyalah ada di taman ini. Aku menggenggam pangeranku. Ia menaruh tangannya di atas pinggangku. Kubalas rangkulan kecil ke arah tengkuknya. Jari jemari bergenggaman dan musik mulai memasuki ruang pikiranku. Aku mengambil langkah mundur sekali dan mulai berputar bersamanya. Mimpi yang kumiliki semenjak kecil, berdansa bersama pangeranku yang selalu kulihat berdiri di serambi dengan gagah. Kami berdansa sembari berputar di bawah rembulan yang indah. Kupandang senyumnya yang menawan tak kunjung padam.

Aku terpeleset, terjatuh. Ah sudah kuduga hanya halusinasi semata seperti biasa. Pangeran yang telah dewasa hanyalah ada dalam pikiranku. Pangeran yang mana aku bermain bersamanya ketika kecil, ketika aku masih anak bangsawan. Sambil terduduk aku kembali menatap ke arah serambi aula utama. Ah, dia ada di sana seperti biasa memandang ke arah bulan purnama. Gurat wajahnya yang tampan dan gagah hanya bisa kupandang. Hatinya tak akan bisa kuraih, disapa pun tidak. Tembok status ini terlalu tinggi. Meskipun kutau dulu kami pernah berjanji bersama, tapi tak akan ada guna.

Seorang perempuan cantik nan anggun keluar dari aula utama. Ah, putri dari kerajaan sebelah rupanya. Kulihat mereka bercakap dengan anggun nan sopan satu dengan yang lain. Cukup lama sang putri tersenyum gembira dan pangeranku tertawa-tawa. Pangeranku membuka tangannya dan sang putri membalas meletakkan tangannya di genggaman sang pangeran. Tawaran berdansa yang tak pernah dilakukannya pada seorang pun. Tawaran berdansa yang aku impikan selama dua dekade hidupku.

Aku tidak berhak marah meskipun dulunya ia seorang yang dijodohkan untukku. Semenjak ayahku berkhianat pada kerajaan, aku masih hidup saja sudah kebaikan hati dari raja. Selaku teman bermain pangeran semenjak kecil dan kebaikan hatinya, aku bisa hidup dalam kerajaan sebagai pelaksana rumah tangga. Dulu aku pernah bermimpi menjadi putri, menerima tawaran berdansa darinya. Mungkin khayalku terus membawaku ke sana. Tapi ya, aku tak berhak marah. Aku tak berhak marah.

Read Full Post »

Panah Artemis

 

Suatu hari Artemis pernah menitipkan padaku sebuah panah yang cantik terbuat dari emas. Panah indah yang kuterima dengan tangan terbuka. Indah, cantik lagi berkilau penuh kehormatan. Artemis berkata padaku, “Jaga panah ini baik-baik. Suatu hari ia akan menolongmu dari bencana yang sangat menyakitkan.”  Aku mengiyakan dan artemis pun berbalik pergi menuju purnama sembari berkendara kijang. Panah yang kuterima mengambang di atas tanganku dan tengggelam masuk ke dalam lengan kiriku. Kemudian aku terbangun di pinggir sungai di dekat rumah.

Kejadian itu terjadi sepuluh tahun silam ketika aku masih gadis kecil. Kini aku seorang penjaga taman sekaligus merangkap tukang kebun di halaman seorang saudagar kaya. Kadang sembari mengurus bunga aku sendiri sering bermimpi untuk kembali bertemu artemis dan memintanya membawaku ke bulan. Sungguh pekerjaan merapihkan taman seluas hamper satu hektar ini rasanya mengerikan. Harus lari ke sungai untuk mengambil air, menyirami seluruh kebun, memangkas dedaunan yang berantakan, fuh, pekerjaan yang tidak sederhana.

Ada dua hal yang membuatku benar-benar bertahan melakukan pekerjaan ini. Satu, aku tidak memiliki satu keluargapun yang mampu membiayai hidupku. Yang kedua adalah sepupu keluarga majikanku yang sangat tampan. Sebulan dua kali paling tidak dia datang untuk mampir. Entah aku bermimpi atau tidak tapi satu dari dua kunjungan itu, sang pria tampan selalu datang untuk menemuiku di malam hari, di saat bulan purnama.

Aku tidak percaya akan Artemis yang kulihat sepuluh tahun  lalu di mimpiku, tapi lelaki ini membuatku percaya. Tepat di bawah sinar rembulan lelaki ini akan berubah sifatnya padaku. Lembut, sopan, ramah dan penuh kehangatan. Aku yang sebatang kara tidak memiliki saudara sangat senang menerima perhatian yang bukan main kepalang dari pujaan hatiku ini. Kadang kami hanya saling bertukar pendapat di bawah sinar rembulan. Kadang kami bersenda gurau penuh tawa. Tidak ada yang pernah tahu hubungan kami, kecuali aku, dia dan Artemis.

Di siang hari, perilakunya sungguh seperti seorang berpendidikan yang penuh kebijaksanaan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan teruntai tali kebangsawanan dan etika. Penuh logika dan juga sangat masuk di akal. Sungguh berbeda ketika ia dipayungi Artemis, penuh romatisme bagaikan seorang pujangga nakal. Membayangkan bisa bercengkrama dengan seorang bangsawan sudah sebuah dosa bagiku. Tapi, entah kenapa aku begitu ingin terus ada di dekatnya, mengulang setiap kejadian yang direkam Artemis di bawah cahayanya.

Majikanku memiliki seorang anak perempuan seumurku. Seorang gadis cantik nan rupawan lagi berpendidikan. Awalnya aku sangat iri pada dirinya dengan segala kecantikan dan harta kekayaannya. Namun, aku sadar, uang tak sanggup membeli kebahagiaan. Aku yang tiap malam bulan purnama akan selalu menunggu sang pujaan untuk berkunjung ke taman dengan penuh kebahagiaan. Seperti kebalikannya sang putri ini terkadang malah melamun di ujung balkon sambil melihat bintang-bintang. Kesepian tanpa teman.

Hari itu, malam bulan purnama lagi. Aku duduk di bangku di belakang pohon Elm tempat kami biasa bertemu. Sang pujaan hati datang berbalut kostum romantisme dan kemesraan. Kami bercanda lagi di bawah naungan malam, sampai tiba-tiba sang putri datang. Aku terkejut melhatnya. Ia berteriak dan menamparku. Membawa sang pangeranku pergi dengan paksa dan meninggalkanku terpuruk di tengah taman.

Keesokan harinya aku menyadari. Sang pangeran datang setiap dua bulan sekali bukan dengan tanpa maksud. Ia datang untuk mengenal lebih lanjut calon istrinya yang adalah sepupunya sendiri. Mereka akan melanjutkan kepada jenjang pernikahan. Aku mempelajari ini setelah majikanku meminta menata taman dengan dekorasi pernikahan. Dengan penuh kesabaran aku mencoba menerima pekerjaan itu sambil menahan air mata agar tak terjatuh ke gaun usangku.

Hari itu, bulan purnama. Aku datang lagi ke taman dan menghadap pada Artemis. Menunggu, menunggu sang pangeranku datang lagi. Sampai menjelang dini hari dia tidak datang. Aku tahu dia tidak akan datang tapi terus menunggu. Tiga hari waktu bulan purnama dan aku terus menunggu. Setiap malamnya, masih di bangku yang sama di bawah pohon Elm.

Ini sudah tahun ketiga dan aku sudah tidak tahan. Aku baru tersadar bahwa menunggunya sama seperti menunggu Artemis turun. Tidak tahu kapan akan datang atau akankah datang atau tidak. Teringat akan panah di lenganku aku pun menghadap pada Artemis di bawah cahayanya. Wahai Artemis, jika menunggunya adalah sama dengan kemuliaanku menunggumu maka aku ingin mencabut panah yang ada di lenganku. Karena bertemu dengannya adalah satu-satunya obat bagiku, maka pertemuan denganmu bisa kuanggap sebuah pembayaran yang sama.

Seperti mendengar doaku panah Artemis keluar dari tanganku. Panah ini, panah yang sama yang dipakai Artemis untuk berburu kijang untuk mencari makan. Sama seperti diriku yang berusaha sebisa mungkin mengais kebun untuk emas. Panah ini, panah yang sama yang dipakai Artemis untuk membunuh Chione yang merasa lebih cantik darinya. Seperti halnya diriku yang merasa lebih mulia dari sang putri dan keanggunan Artemis. Panah ini, panah yang sama yag dipakai untuk membunuh anak Niobe untuk memberinya pelajaran. Sama seperti diriku yang butuh pelajaran untuk menghentikan nafsuku.

Beberapa detik kemudian, yang kusadari panah itu sudah menghujam di jantungku. Baju putih usangku sudah berlumur darah dan aku merasa seperti terangkat. Artemis menjemputku dan membawaku berjalan di atas cahaya rembulan. Aku berkata kepadanya, “Terima kasih dewi, kau menyelamatkanku dari bencana yang lebih menyakitkan daripada menunggu rembulan.”

Read Full Post »

Sunyi

Orang-orang bergantian melewati diriku. Ah orang itu, sedari tadi menatapi layar komputer di depannya. Cantik lagi anggun. Kuamati dia menyibakkan rambutnya selayaknya putri. Lucu perangainya. Baju putih yang dipakainya berpadu anggun dengan rok jeans panjang berkibar.

Kuberanjak dari tempat dudukku. Berdiri di sebelahnya. Dia melihat kearah diriku, tersenyum. Senyumannya bagai membiusku. Aku balas senyumannya penuh arti dan mencari kembali buku yang ingin aku pelajari dari katalog perpustakaan.

Keesokannya, aku datang kembali ke perpustakaan. Sang putri juga ada di sana, sedang mengambil buku yang juga ingin aku pelajari. Wiliam Butler Yeats. Orang ini juga punya selera yang tinggi untuk sastra inggris. Aku, sarjana sastra Inggris, mungkin bisa menarik hatinya dengan tulisan-tulisanku.

Kutuliskan sebuah sajak di notesku dan menaruh di atas tumpukan buku yang ia pegang. Ia tersenyum dan gembira sembari tersipu menatapku, ia pun membalas senyuman kembali seperti sebelumnya dan berlalu pergi sambil membawa tumpukan bukunya.

Aku tidak menyerah tentu saja dan kembali lagi keesokan harinya. Setelah berkeliling, kutemukan ia ada di depan sebuah mejanya bersama dengan laptopnya. Tampak sibuk dengan laptop dan buku-buku yang disekelilingnya, aku tak tega menghampirinya. Hanya memandangnya dari jauh sungguh membahagiakanku. Kerut dahinya ketika berpikir keras. Kebiasaannya menggigit bibirnya di kala sedang bimbang. Yang lebih membuatku terpana adalah ketika dia memandang dengan senyum jauh ke arah jendela ketika mencari inspirasi.

Sebulan ini aku menghabiskan waktuku setidaknya tiga hari di perpustakaan setiap minggunya. Hanya untuk mencari sang pujaan hati dan memandangnya dari kejauhan. Tak ada salahnya sembari menulis tesisku yang tak kunjung selesai sekaligus mencari buku-buku referensi baru di perpustakaan. Minat bacaannya yang sama dengan diriku membuatku tidak sulit menemukannya kembali di perpustakaan nasional yang bukan main luasnya ini.

Terkadang, aku menyelipkan sebuah sajak di balik tumpukan buku-bukunya. Aku mengamati dari jauh setiap kali ia membuka sajak-sajak yang kutulis. Aku tahu terkadang dia mencariku setelah membaca sajak dariku. Terkadang ia menemukanku dan tersenyum lucu padaku sambil menunjuk kertas coklat bergaris merah itu. Terkadang ia tak menemukanku dan hanya tersenyum kecil sendiri sambil melipat kertas coklat itu rapih.

Suatu hari tanpa sadar aku kembali bertemu dengannya di depan rak buku. Bertubrukan bisa dikatakan. Aku terburu-buru mencari satu buku referensi yang hendak aku tunjukkan kepada siswa didikanku. Ia terjatuh dan meringis. Dia tidak berteriak hanya memejamkan matanya. Sesaat kemudian ia melihatku dan tersenyum lagi. Aku membantunya berdiri dan dibalasnya dengan anggukan malu untuk kemudian pergi meninggalkanku. Ah, sungguh bidadari yang sangat pemalu.

Hari ini aku coba memberanikan diri untuk menemui ia secara langsung. Kucing-kucingan memang menyenangkan tapi ingin sekali aku mencoba lebih dekat dengan sang pujaan hati. Aku duduk di sebelah tas yang ia tinggalkan sementara untuk makan siang. Berbekal bunga setangkai yang kubeli mendadak sebelum datang ke perpustakaan tadi, aku menunggunya selesai makan siang.

Selang beberapa menit kemudian, ia datang. Ia tersentak dan menutup mulutnya. Aku mempersilahkannya duduk di sebelahku. Ia pun duduk dan menatapku panik. Aku tersenyum untuk membuatnya nyaman. Dengan penuh kepanikan ia mengambil satu buku dan membuka buku tersebut, mencoba membaca. Dengan lembut, aku ambil buku di tangannya, menutupnya dan menaruhnya di depanku. Aku tersenyum lagi dan mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dan berkenalan.

Dengan ragu, ia membalas jabatan tanganku dan menatapku lekat-lekat. Aku sebutkan namaku tapi ia tidak membalas. Hanya menatapku tajam dan kemudian mengangguk lagi. Aku bingung dan mencoba cara lain. Aku tulis nomor telponku di selembar kertas coklat dan memberikannya tapi ia menggeleng. Ia tidak mau menerima nomor telponku.

Setelah ragu-ragu beberapa saat akhirnya ia memutuskan mengambil pena dan menulis sesuatu dibalik kertas berisi nomor telponku. Aku tersenyum melihat isinya dan mulai mengeluarkan bukuku untuk berbicara dengannya. Akhirnya, kami pun saling mengenal.

***

Hari ini seperti hari-hari biasanya, aku datang ke perpustakaan. Aku melihat sang bidadari dan mendatanginya. Aku berikan isyarat cukup untuk mengajaknya makan bersama ketika waktu makan siang. Hari ini aku akan memberikannya kejutan, sebuah lamaran dalam sunyi.

Read Full Post »

Older Posts »